Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:38 WIB | Rabu, 27 Juni 2018

Pameran Seni "Instink" di Bentara Budaya Yogyakarta

Pameran Seni "Instink" di Bentara Budaya Yogyakarta
Pameran seni "Drunken Broom" di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta, 23-30 April 2018 (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi).
Pameran Seni "Instink" di Bentara Budaya Yogyakarta
Metamorphosa - akrilik di atas kanvas - Putut Puspito Edi - 2018.
Pameran Seni "Instink" di Bentara Budaya Yogyakarta
Hujan Serasa Kejam #15 - variabel dimensi - Satu Atap - 2018

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Kelompok seniman-perupa Satu Atap yang dibentuk pada 2011 di Cabakan, Mlati-Sleman, menggelar pameran seni bertajuk "Instink" di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Pameran dibuka oleh seniman-perupa Nasirun Sabtu (23/6) malam.

Enam belas seniman diantaranya Andi Hartana, Godek Mintorogo, Lukman van Gogh, Reza Pahlevi, Mufti Handayani, Putut Puspito Edi, memamerkan karya yang menampilkan potret tingkah laku manusia dalam serangkaian upaya menyusun gambaran dalam simbolisasi manusia, binatang, dan ekspresi-ekspresi personal sebagai ungkapan pembacaan personal. Pameran "Instink" mencoba mengangkat kritik satire dalam karya dua-tiga matra dalam berbagai aliran abstrak, surealis, hingga figuratif-naif.

Dalam tulisan pengantarnya pengajar Jurusan Seni Rupa ISI Surakarta Hendra Himawan menjelaskan bahwa pameran yang berpijak pada gagasan menyandingkan pemahaman tentang manusia dan binatang mengerucut pada sifat yang menyerupai atau membedakannya.

Dalam sebuah perspektif, Nietzche menyebutkan bahwa dunia adalah permainan yang tidak memiliki kebenaran utuh tak berujung, artinya kehendak manusia adalah sebuah suka cita yang harus dirayakan dengan sepenuh hati.

"Dalam tesisnya Nietzche menyebutkan bahwa manusia adalah binatang yang selalu kekurangan (a shortage animal) sekaligus binatang yang tidak pernah selesai atau tidak pernah puas (das rucht fetgestelte tier). Artinya manusia tidak pernah puas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya," jelas Hendra.

Pada diri manusia sebagai makhluk yang bermain, ada pembeda yang mendasar antara ludens pada manusia dan ludens yang terdapat pada binatang. Meskipun sama-sama memiliki karakteristik yang liar, ludens pada binatang dikendalikan oleh naluri-insting yang bersifat reflektif maupun non-reflektif, sementara pada diri manusia lebih dikendalikan oleh akal, otonomi, integritas-kesadaran yang menyatu dalam sebuah intuisi. Pada titik inilah dibalik sebutan permainan terhampar suatu analisis dan refleksi yang luas.

Refleksi dan kesadaran, mengantarkan manusia pada ritme kehidupan yang lebih dinamis. Adakalanya keluar dari jalur yang sudah ada, menciptakan jalur sendiri, mengikuti alur yang ada, atau justru melawan jalur yang lama.

Jika insting lebih banyak bekerja diluar alam bawah sadar secara otomatis, intuisi merujuk pada kemampuan menangkap refleksi alam bawah sadar dirinya dalam sebuah kesadaran. Insting hanya membawa manusia pada sifat kebinatangan untuk mengalahkan yang lainnya menjadi yang paling kuat, paling hebat, menguasai segalanya, sementara intuisi menjadi penyeimbang melengkapi insting yang ada di diri manusia.

Pameran seni rupa "Instink" akan berlangsung hingga 30 Juni 2018 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta.

 
UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home