Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 18:44 WIB | Sabtu, 09 Februari 2019

Pameran Seni Rupa “Edited Clown”

Pameran Seni Rupa “Edited Clown”
Pameran seni rupa “Edited Clown” berlangsung 8-16 Februari 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Seni Rupa “Edited Clown”
Mola (tengah) memberikan keterangan saat jumpa media dalam bincang santai beberapa saat sebelum pembukaan pameran.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ekspresi bahagia serta untuk membagi rasa riang kepada orang-orang di sekitar saya. Bagi saya badut adalah keriangan. Ini lebih pada rekaman kenangan saya di masa kecil, kalimat sederhana tersebut disampaikan perupa perempuan Mola dalam perbincangan singkat dengan satuharapan.com di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Jumat (8/2) sore.

Mola, perupa perempuan otodidak yang menjadikan aktivitas melukis sebagai salah satu terapi medisnya mempresentasikan karyanya di BBY. Sebanyak 19 lukisan dalam medium cat akrilik di atas kanvas dan 10 lukisan dalam medium cat air di atas kertas berbagai ukuran dipamerkan hingga 16 Februari. Pameran dibuka pada Jumat (8/2) malam.

Dengan keseluruhan objek lukisan adalah badut, Mola mencoba mengekspresikan perasaannya. Sebagai seniman otodidak, Mola tidak mau dipusingkan dengan ‘aturan-aturan’ artistik-estetis selama berproses karya.

“Menyembunyikan diri tanpa harus berada di balik topeng, namun tetap berusaha untuk membagi kebahagiaan pada orang lain. Lebih pada semangat meneruskan hidup, sebagaimana karya saya sebelumnya yang berkisah tentang geisha,” papar Mola saat jumpa media Jumat (8/2) sore.

Pada Juli 2016 bersama perupa perempuan Pini Fe dan Maria Tiwi menggelar pameran bersama bertajuk “Geliat” di Balai Budaya Jakarta dilanjutkan pameran bersama di Lawangwangi Creative Space-Bandung masih bersama Pini Fe, Dian Anggraini, dan Klowor Waldiono pada November tahun yang sama.

Mola adalah penyintas (survivor) kanker leher rahim (serviks) yang diderita. Terapi yang dijalani dalam penyembuhan kanker banyak memengaruhi psikologisnya terutama dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Beruntung kanker tersebut dapat diangkat dan disembuhkan. Namun proses penyembuhan tersebut membawa dampak yang lain, salah satunya tulang belakangnya sakit atau masyarakat mengenal dengan istilah saraf terjepit (herniated nucleus pulposus).

Di sela-sela terapi sakit saraf yang dideritanya Mola menyibukkan diri dengan aktivitas menggambar-melukis. Hasilnya diakui rasa nyeri di punggungnya bisa berkurang, terlebih dirinya bisa terbebas dari ketergantungan obat-obatan yang diberikan dokter (salah satunya mengandung morfin) untuk menghilangkan rasa sakit di tulang belakangnya.

“Saya bebas dari ketergantungan pada obat tersebut. Jika tidak dalam kondisi capai, saraf terjepit pada tulang belakang saya hilang dengan sendirinya. Dengan aktivitas melukis saya bisa lebih rileks dan bisa mengekspresikan perasaan saya melalui karya (lukis),” ujar Mola.

Hal yang sama ditularkan pula kepada beberapa temannya yang sedang mengalami tekanan (stres/depresi). Hasilnya beberapa teman Mola merasa bisa lebih tenang saat dalam kondisi stres dan menyalurkan dalam aktivitas melukis.

Mengutip pendapat psikolog-terapis Yohanita, jurnalis senior Raihul Fadjri dalam tulisan pamerannya menyebutkan bahwa terapi seni mampu menjadi katarsis atau saluran pembuangan energi negatif untuk mengatasai tekanan. Melukis menjadi  terapi yang efektif dan memiliki manfaat kesehatan sebagai pelepas stres. Dengan melukis seseorang bisa menumpahkan perasaan dan emosi yang terpendam ke dalam medium karya. Jika sudah mulai melukis, biasanya seseorang akan mengalir dan berkonsentrasi pada objek lukisan. Kondisi ini membuat seseorang lupa akan stres yang dihadapinya.

Pameran seni rupa “Edited Clown” merupakan pameran tunggal perdana Mola. Dengan keseluruhan karya didominasi warna pastel cerah-ringan, tanpa memperhatikan kebentukan secara artistik, suasana riang tergambar dan terbangun dalam karya-karyanya.

Pameran bertajuk “Edited Clown” berlangsung 8-16 Februari 2019 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No 2 Yogyakarta.

Editor : Sotyati

Back to Home