Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:56 WIB | Minggu, 24 September 2017

Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"

Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Lukisan berjudul "Menjaga Warisan" karya perupa VA Sudiro. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Sindhunata didampingi perupa senior Djoko Pekik (kedua dari kiri) memotong tumpeng dalam pembukaan pameran "Ilange Semar", di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu (23/9) malam.
Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Karya instalasi berjudul "Eseme Saya Samar" (blacu, dakron, topeng, kustom) karya Agustina Tri Wahyuni. 2017.
Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Suasana pengunjung yang menyaksikan pameran "Ilange Semar", di Bentara Budaya Yogyakarta, Sabtu (23/9) malam.
Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Instalasi "Celeng Pengarep" karya Hardi. 2017.
Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Lukisan "Rapuhnya Payung Demokrasi". Cat minyak di atas kanvas, 2017 karya Maman Rahman.
Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Patung "Kyai Semar" karya Edi Priyanto
Pameran Seni Rupa "Ilange Semar"
Lukisan "Persembahan". akrilik di atas kanvas, 2017 karya Felix S Wanto.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Tiga puluh sembilan seniman-perupa memamerkan karya seni dua-tiga dimensi di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta dalam tajuk "Ilange Semar" 23 September – 3 Oktober 2017.

Pameran tersebut sebagai rangkaian hari ulang tahun Bentara Budaya Yogyakarta yang ke-35 pada 26 September. Sebelumnya pada awal bulan September digelar pameran foto “Di Mana Garuda” oleh Pewarta Foto Indonesia-Yogyakarta, dianjutkan Pasar Yakopan, serta Diskusi Kebhinekaan dengan tema Di Mana Garuda menutup rangkaian acara ulang tahun BBY.

Dalam sambutannya budayawan Sindhunata menjelaskan bahwa tema pameran "Ilange Semar" masih berangkat dari keprihatinan dan kekhawatirannya yang mendalam atas situasi bangsa Indonesia saat ini.

"Seni rupa ditantang untuk menampilkan karyanya dalam mempertahankan dan membela nilai-nilai kebangsaan yang sedang terancam luntur oleh praktik-praktik fundamentalisme dan radikalisme." papar Sindhunata dalam sambutan Sabtu (23/9) malam.

Lebih lanjut Sindhunata menjelaskan bahwa tema tersebut sedikit banyak menyambung pada keprihatinan perupa Sudiro, yang dalam pameran tunggalnya dua tahun lalu mengetengahkan tema “Semar Mati”. Suatu keberanian yang luar biasa, bahwa Sudiro mengangkat tema tersebut. Setelah “Semar Mati”, kita jadi kelangan atau kehilangan Semar.

Semar adalah simbol hamba yang setia, rakyat yang tabah. Kemanakah negara ini akan dibawa, jika “rakyat” itu hilang dari kepalanya? Berbagai kasus dalam ketatanegaraan semisal kasus angket DPR, korupsi, ketidakadilan dan sebagainya, yang akhir-akhir ini demikian merebak. Wakil-wakil rakyat itu sudah kehilangan rasa malu sama sekali. Mungkin karena mereka sudah bukan wakil rakyat lagi, karena “rakyat” atau “Semar” ini sudah hilang? Semar adalah dewa yang mengejawantah ke dunia, untuk ikut dalam kerpihatinan dunia ini. Bagaimana jadinya, bila “yang ilahi” sudah tidak lagi dianggap di dunia ini? Dunia akan kehilangan tujuannya yang sejati, kehilangan pegangan dan moralnya.

Semar adalah simbol primordial kebudayaan. Betapa sedihnya jika kita kehilangan kebudayaan. Tak tahu lagi kita hendak ke mana, jika negara ini tak lagi mengacuhkan kebudayaan. Semar adalah simbol pamomong. Bagaimana rasanya jika kita kehilangan pamomong? Hidup kita jadi tanpa arah, dan kita mengalami kekacauan orientasi. Dan menjadi kehilangan besar ketika politik kebudayaan hilang dari bangsa ini bersama jiwa pamomong Semar. "Ilange Semar" menjadi kritik penting dunia seni rupa bagi perkembangan berbangsa yang akhir-akhir ini hanya dikuasai keinginan dan nafsu sesaat segelintir manusia atas nama kekuasaan.

Pameran seni rupa "Ilange Semar" akan berlangsung hingga 3 Oktober 2017 di Bentara Budaya Yogyakarta, Jalan Suroto No. 2 Yogyakarta.

 

Back to Home