Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Ignatius Dwiana 21:46 WIB | Selasa, 31 Desember 2013

Pameran Sidang Hans Bague: Heboh Sastra 1968

Poster Pameran Sidang Hans Bague.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Peristiwa Heboh Sastra 1968 merupakan peristiwa pertama sebuah karya seni di Indonesia diadili di pengadilan pidana. Peristiwa ini berangkat dari pemuatan cerita pendek ‘Langit Makin Mendung’ karya Ki Panji Kusmin di majalah Sastra Nomor 8 Agustus 1968.

Hans Bague Jassin atau yang lebih dikenal dengan H.B. Jassin, yang mengepalai majalah Sastra, menolak mengungkapkan nama asli pengarang cerita pendek yang isinya dianggap menghina Tuhan. Akibatnya dia dijatuhi hukuman dilarang menerbitkan sesuatu yang berbau sastra selama satu tahun. Kasus ini kemudian mempertanyakan peran kritik seni yang memediasi antara publik dengan seniman.

Rekaman persidangan HB Jassin atas kasus ‘Langit Makin Mendung’ masih tersimpan di Dewan Kesenian Jakarta. Rekaman ini berisi perdebatan sengit antara dua persepsi yang berlawanan seperti kelompok eksekutif yang diwakili Pemerintah dengan rakyat yang diwakili sastrawan. Jika pada tahun 1968 H.B. Jassin mengemukakan istilah 'Imajinasi di Depan Hakim (Pengadilan)', sedang Aminudin TH Siregar menyebutnya 'Mengadili Persepsi' di tahun 2006.

Multitafsir atas sebuah karya selalu disambut positif dunia seni walau menimbulkan masalah yang masih terjadi hingga sekarang.

Peristiwa dan masalah multitafsir ini menjadi inspirasi membuat karya-karya multimedia yang melibatkan sejumlah seniman. Adel Pasha, Ajeng Nurul Aini, Andang Kelana, Bagasworo Aryaningtyas, Fuad Fauji, Gelar Agryano Soemantri, Mahardika Yudha, Muhammad Fauzi, Otty Widasari, dan Yoyo Wardoyo bersama menghadirkan arsip-arsip tentang Heboh Sastra 1968 dalam pameran multimedia ‘Pameran Sidang Hans Bague’.

‘Pameran Sidang Hans Bague’ berlangsung dari Sabtu (21/12) hingga Minggu (29/12) di Galeri Cemara 6 Jakarta.

Arsip-arsip Heboh Sastra 1968 yang dikoleksi Dewan Kesenian Jakarta, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dan juga koleksi arsip seni kontemporer dari Indonesian Visual Art Archive ditampilkan. Karya dengan pelbagai media ini mencoba merespon dan menghidupkan arsip seni yang selama ini tersimpan. Seperti video, instalasi pita rekaman suara, karya dua dimensi, dan karya-karya interaktif turut ditampilkan. Sudut pandang berbeda digunakan dalam membaca arsip-arsip itu dan juga cerita pendek ‘Langit Makin Mendung’.

Pameran ini diharapkan akan menginspirasi pemirsa tentang peluang dan kemungkinan yang terbuka lebar dalam memanfaatkan arsip. Tidak hanya arsip seni tetapi juga arsip-arsip bidang lain yang banyak terbekukan di dalam pelbagai lembaga pengarsipan di Indonesia.

Pameran ini terselenggara atas dukungan dari Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN).

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home