Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 16:52 WIB | Jumat, 15 September 2017

Pameran "This is It" di Jogja Contemporary

Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
Deni Rahman (memakai topi) memberikan penjelasan kepada pengunjung saat pembukaan pameran "This is It", di Jogja Contemporary, Selasa (12/9) malam. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi).
Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
"Penekno Kangenku Kui" karya Sigit 'Bapak'
Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
"Pollutant Reactor" karya Duvrart Angelo.
Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
"Metroseksual" karya Frans Gupita.
Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
"Ziggytal Stardust" karya Deni Rahman.
Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
"Manunggaling Kawulo lan Mejo" karya Sigit 'Bapak'
Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
"Ritus Kayu" karya Rifqi Sukma
Pameran "This is It" di Jogja Contemporary
"Ritus Kayu" karya Rifki Sukma

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Lima perupa memamerkan karya tiga dimensinya di Jogja Contemporary, Kompleks Jogja National Museum. Pameran dibuka oleh Satya Bramantya, Selasa (12/9) malam. Dalam pengantar pembukaan, Hendra Priyandhani memberikan kritik atas realitas seni rupa hari ini di tengah lesunya dunia seni rupa.

"Di ruang pamer, karya seni rupa menjadi sebuah karya adiluhung, terlebih ketika karya tersebut lalu terjual. Namun ketika karya tersebut tidak ada yang laku, seniman-perupa akan membawa pulang karya tersebut yang bisa jadi hanya akan menambah tumpukan sampah di ruang-ruang penyimpanannya." kata Hendra.

Kritik itulah yang digunakan sebagai titik tolak bagi kelima perupa untuk membuat karya seni (fine art) dalam sebuah purwa rupa karya yang mempunyai fungsi dan dapat difungsikan.

Memasuki ruang pamer, dalam tata letak yang sederhana orang akan dengan mudah membuat komparasi pada sebuah majalah yang menawarkan produk-produk furnitur ataupun perkakas rumah tangga.

"Ritus Kayu" karya Rifqi Sukma memanfaatkan limbah kayu jati untuk membuat perkakas alat bantu masak mulai sendok, sothil, gunting, pisau, dan dalam tata letak sederhana tidak perlu menjadi chef profesional untuk bisa berlama-lama dalam sebuah dapur untuk memasak. Ritus Kayu membawa imaji bahwa sebuah karya seni instalasi pun sesungguhnya dapat memfungsikan dirinya secara tepat tanpa kehilangan antara fungsi dan seni itu sendiri. Jika tidak percaya, Anda bisa mencoba pada kithcen set di rumah Anda.

Dua karya Sigit "Bapak" Haryadi berjudul "Penekno Kangenku Kui" dan "Manunggaling Kawulo lan Mejo", Sigit mencoba bermain-main memanfaatkan keterbatasan ruang yang ada. Ilustrasi kalimat yang menyertai karya, di sini Sigit mencoba membangun kesadaran bahwa ada banyak drama di balik ritual makan. Dan dalam kalimat sampaikan "salam rinduku untu seni layak pakai" ada semacam otokritik bagi seni untuk dirinya sendiri: seni pun perlu kritik dari manapun tanpa perlu menumbuhkan resistensi.

Dua karya Deni Rahman berjudul "Ziggytal Stardust" dan "Deer Hopes", sebagai sebuah karya seni isntalasi dan produk fungsional keduanya bisa menyatu dalam sebuah karya. Diantaranya ketujuh karya, Ziggytal Stardust menjadi karya yang paling eye catching, dan tanpa penjelasan berlebih pengunjung bisa dengan mudah menangkap bahwa Ziggytal Stardust adalah sebuah karya multi fungsi.

BIsa jadi "Metroseksual" karya Frans Gupita menjadi hal yang unik: drawer untuk laki-laki. Jika selama ini meja rias (drawer) identik dengan kaum perempuan, Frans Gupita justru seolah ingin membuat anti tesis tersebut: meja rias dengan washtafel, cermin, penyimpan alat-alat perkakas, permainan dart, yang kesemuanya bisa difungsikan. Menariknya, keseluruhannya dibingkai dalam ban yang dicat warna pink. Apakah feminitas ataupun maskulinitas terhenti pada simbol-simbol pada sebuah drawer? Setidaknya Metroseksual memberikan pandangan dari sudut yang berbeda.

Diantara ketujuh karya yang dipamerkan, "Pollutant Reactor" karya Duvrart Angelo menjadi sebuah karya konsep yang cukup kuat. Ingatan dan kegelisahaan masa kecil Anggi, panggilan Duvrart Angelo. Lahir dan dibesarkan pada daerah pengolah emas di Yogyakarta, Anggi kenyang menghirup udara tidak sehat dari pengulahan/peleburan emas.

"Saat itu kita tidak tahu, yang saya ingat setiap mulai ada protes dari warga akibat terpapar dari proses peleburan emas. Belakangan saya tahu bahwa untuk meleburkan emas tersebut digunakan asam clhorida (HCl). Bisa dibayangkan betapa berbahayanya jika itu mencemari udara pada masyarakat sekitar." kata Anggi.

Belakangan WALHI membuatkan sebuah reaktor pengolahan peleburan emas agar digunakan secara aman dengan sesedikit mungkin mencemari udara di sekitarnya.

"Ide itu yang coba saya terapkan. Awalnya sekaligus sebagai pemanas air, namun kemarin waktunya tidak mencukupi." kata Anggi. Saat ditanya satuharapan.com mengapa justru sisa-sisa daun tersebut justru dibakar, bukannya dikomposkan? Anggi menjelaskan akan membuat itu untuk project yang lain.

Pameran "This is It" akan berlangsung hingga 26 September 2017 di Jogja Contemporary - Kompleks Jogja National Museum.

Back to Home