Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:23 WIB | Senin, 28 Januari 2019

Pameran Tunggal Edi Maesar “Jangan Berhenti”

Pameran tunggal Edi Maesar dengan tema “Jangan Berhenti” berlangsung di Miracle Prints, hingga 15 Februari 2019. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Seratus lima puluh satu lukisan dalam ukuran kecil karya Edi Maesar dipamerkan di Miracle Prints. Pameran dibuka Jumat (25/1) sore. Karya-karya berukuran mulai dari 13 cm x 17 cm sampai tidak lebih dari 22 cm x 27 cm dibuat Maesar dalam kurun waktu lima tahun terakhir di sela-sela menjalani aktivitasnya sebagai pelukis potret di Jalan Malioboro Yogyakarta.

Dalam dua tahun terakhir Maesar menghidupkan kembali komunitas Perupa Jalan Malioboro (Perjam). Saat ini sekitar 30-an seniman-perupa yang aktif tergabung dengan aktivitas harian di tiga titik di sepanjang Jalan Margo Utomo (Jalan Pangeran Mangkubumi) hingga Jalan Malioboro. Menghindari perdebatan dan stigma yang dianggap tidak menguntungkan terhadap penggunaan istilah seniman-perupa jalanan (street art), komunitas Perjam menggunakan kata Jalan Malioboro pada nama Perjam.

“Setiap harinya sekitar dua puluhan perupa beraktivitas di sana. Melukis potret sesuai pesanan pengunjung tetap dilakukan, begitupun perbincangan-diskusi dalam banyak hal terutama ranah seni di antara teman-teman untuk mengembangkan komunitas ini,” Edi Maesar menjelaskan kepada satuharapan.com saat pembukaan pameran.

Melukis potret sebagai profesi untuk membuat asap dapur tetap mengepul di saat pasar seni rupa sedang lesu, pada sisi lain latar belakang sebagai seniman-perupa Maesar kerap dihadapkan pada idealisme dan realtitas yang harus dihadapinya. Masih ada anggapan bahwa profesi pelukis potret jalanan bukan termasuk kegiatan seni, mengingat orientasinya adalah mencari uang semata. Namun, beraktivitas seni di jalan justru memperkaya Maesar dalam berkarya melalui observasi-eksplorasinya sehari-hari tanpa harus dipusingkan dengan dikotomi tersebut. Hasilnya, Maesar masih tetap bisa berkarya tanpa harus terjebak dan terpenjara pada ‘pasar’ yang ada.

Sebagai pelukis potret dalam beberapa tahun terakhir yang realis serta mengejar kepersisan bentuk, keseluruhan karya Edi Maesar yang dipamerkan dalam pameran bertajuk “Jangan Berhenti” justru tidak mengejar kepersisan atau kebenaran bentuk. Karya lukisan Edi yang dibuat dengan cat minyak di atas kanvas lebih kuat pada impresionis menangkap objek-objek ibu muda sedang memasak, anak belajar, pria dengan laptop, remaja bermain handphone, kegiatan perbaikan jalan, turis berjemur di pantai, ibu menyusui, bapak-bapak di kedai kopi, anak berulang tahun, sepotong daun, pemusik jalanan, dalam goresan garis yang kuat-cepat.

Teman satu angkatan Edi Maesar yang menjadi pengajar program studi Seni Murni ISI Yogyakarta I Gede Arya Sucitra dalam tulisan pameran menjelaskan bahwa pelukis impressionisme membawa kesegaran dalam seni lukis dengan warna-warnanya yang cerah, kebebasan garis, dan yang paling penting cahaya dalam lukisan karya mereka menjadi ciri khas tersendiri.

Impressionisme adalah aktivitas melukis di luar ruangan, tidak melukis di dalam studio, mereka disebut sebagai outdoor painters, karena kaum impressionisme cenderung menangkap cahaya dengan cepat, selesai dalam waktu itu juga, dan tidak menghendaki pendetailan. Dalam impressionisme murni, penggunaan cat hitam dan cokelat dihindari terutama untuk bayangan, cat basah ditimpa ke dalam cat basah tanpa menunggu kering, untuk menghasilkan batas lembut dan pembauran warna, hal yang demikian itu betul-betul telah menjadikan impressionisme mempunyai pewarnaan yang segar meriah karena setiap warna digunakan dengan kedalaman yang penuh.

Seratus lima puluh satu lukisan yang dipresentasikan Edi Maesar menjadi rekaman estetika proses bersenirupa di tengah-tengah aktivitas sebagai professional artist  yang dijalaninya. Di titik itulah Edi Maesar selalu menemukan kegairahan dan hal-hal baru.

Pameran tunggal Edi Maesar dengan tema “Jangan Berhenti” berlangsung di Miracle Prints, Jalan Suryodiningratan MJ II/853, Mantrijeron, Yogyakarta hingga 15 Februari 2019.

Editor : Sotyati

Back to Home