Google+
Loading...
EDITORIAL
Penulis: Redaksi Editorial 18:22 WIB | Selasa, 05 Mei 2020

Pandemi Pasti Berlalu, Kapan?

Salah satu sudut kota Milan di Italia yang sepi setelah aturan pembatasan akibat pandemi COVID-19. (Foto: dok. Reuters)

SATUHARAPAN.COM-Kapan pandemi virus COVID-19 dapat dikendalikan, atau bahkan diberantas? Kapan penguncian diakhiri? Kapan pembatasan dilonggarkan? Kapan kegiatan ekonomi dipulihkan, dan kapan pergerakan manusia kembali lebih leluasa? Kapan sekolah lagi, kapan bekerja lagi?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus bergaung di masyarakat, di seluruh dunia. Masalahnya, pembatasan yang diberlakukan, sekalipun dirasakan efektivitasnya untuk mencegah penyebaran virus, telah berdampak secara luas pada kehidupan manusia, dalam hampir semua aspek.

Sudah banyak prediksi dan perhitungan oleh berbagai lembaga dan para ahli tentang kontraksi ekonomi dunia. Perdagangan dan industri menjadi lesu di setiap negara, dan harga minyak anjlog sangat dalam. Yang lain melihat kebangkrutan dunia usaha dan pemutusan kontrak kerja. Dunia akan melihat jumlah orang miskin bertambah, dan orang-orang yang kelaparan akan semakin banyaka.

Bulan Depan atau Dua Tahun Lagi?

Para pakar epidemiologi memiliki berbagai pandangan tentang sampai kapan pandemi ini akan berlangsung. Berbagai negara mencoba untuk melonggarkan pembatasan, dan berharap Mei, atau Juni atau Juli mendatang kegiatan ekonomi akan bergerak ke arah pemulihan. Tapi itu dilakukan dengan hari-hati, dengan berbagai syarat yang harus ditaati.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan pemerintah untuk berhati-hati ketika melonggarkan pembatasan, dan tetap siap untuk kembali pada pembatasan, ketika kasus terinfeksi kembali meningkat. Juga diingatkan tentang pandemi ini dengan risikonya yang tidak akan berlalu, sebelum obat dan vaksi ditemukan dan diproduksi serta digunakan secara lebih luas di seluruh dunia.

Jepang yang menunda setahun penyelenggaraan ajang olahraga terbesar, Olimpiande 2020, juga diingatkan belum tentu hal itu bisa dilakukan seperti rencana semula. Sebab ajang olah raga yang mengundang kontingen dari seluruh dunia itu tetap berisiko tinggi, jika dunia secara keseluruhan juga belum bisa bebas dari COVID-19.

Jadi, sampai kapan virus ini akan memporak-porandakan kehidupan manusia? Para ahli dan lembaga penelitian sedang berpacu untuk menemukan obat dan vaksin. Ada harapan untuk menemukannya, dan uji klinis pada manusia sedang dilakukan. Tetapi vaksin itu sendiri oleh sejumlah pakar disebutkan akan diproduksi dan tersedia pada tahun 2021. Tapi sampai kapan bahwa ketersediaan vaksi menjamin seluruh dunia memiliki akses untuk imunisasi?

Gelombang Pandemi

Peneliti dari Pusat untuk Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular (Center for Infectious Disease Research and Policy / CIDRAP) Universitas Minnesota, Amerika Serikat, bahkan mengingatkan bahwa pandemi ini bisa muncul dalam serangkaian gelombang, untuk satu atau dua tahun ke depan.

Kajian terhadap delapan pandemi sejak tahun 1700-an, menurut CIDRAP, menunjukkan tidak ada pola musiman dalam sebagian besar kemunculannya. Tujuh pandemi hilang tanpa campur tangan manusia, tetapi muncul kembali enam bulan kemudian.

Laporan kajian CIDRAP itu menolak anggapan bahwa virus akan menurun pada musim panas mendatang, sebaliknya akan muncul dalam gelombang kedua, bahkan mungkin lebih berisiko. Hal itu juga terkait dengan kekebalan yang belum terbentuk di masyarakat, serta sejauh ini belum ada bukti bahwa orang yang pulih dari sakit akibat COVID-19 telah memiliki antibodi yang mencegahnya tertular lagi.

Perang Umat Manusia

Perang menghadapi pandemi ini adalah perang seluruh umat manusia, bahkan melibatkan seluruh aspek kehidupan. Imam Besar Al Azhar Mesir, Sheik Ahmed Al-Tayeb, dan Paus Fransiskus dari Vatikan, bahkan juga mengisyaratkan untuk berperang secara rohani melalui ajakan doa bersama pada 14 Mei mendatang.

Pertempuran melawan pandemi ini tidak bisa hanya diserahkan pada korps kesehatan yang terus bekerja di rumah sakit, atau para peneliti yang mengejar penemuan vaksin dan obat, tetapi juga harus menjadikan setiap individu adalah “prajurit” melawan COVID-19: semua pihak, setiap individu, di setiap komunitas di seluruh dunia. Dan untuk itu yang diperlukan adalah ketaatan setiap individu pada aturan pembatasan, untuk mencapai status nol penularan (infeksi), dan terus-menerus sampai periode aman di setiap komunitas, daerah, negara, dan kemudian dunia.

Melonggarkan aturan pembatasan untuk membangkitkan kehidupan ekonomi bisa efektif jika setiap individu yang terkait menjalankannya dengan setia MENJAGA DIRI dan ORANG LAIN untuk tidak terinfeksi. Kecerobohan adalam hal ini akan menjadi bahaya bagi lebih banyak orang. Tapi sayangnya, sejauh ini kita masih menyaksikan adanya individu dan komunitas yang abai, bahkan melecehkan aturan ini, tanpa peduli risikonya pada komunitas yang lebih luas.

Oleh karena itu, pertanyaan tentang kapan pandemi ini akan berlalu, jawaban itu mungkin ditemukan dengan panduan pakar, lembaga penelitian dan pemerintah. Namun ini sebenarnya adalah pertanyaan yang ditujukan pada setiap individu dari kita: Kapan kita membentuk perilaku yang peduli dengan menjaga diri sendiri sekaligus menjaga orang lain dari penularan COVID-19.

Editor : Sabar Subekti

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home