Google+
Loading...
HAM
Penulis: Reporter Satuharapan 12:54 WIB | Senin, 30 September 2019

Pangeran Harry Desak Usaha Internasional Bersihkan Ranjau Darat

Pangeran Harry mengikuti jejak ibunya, Putri Diana, mengunjungi Angola untuk mendukung program Halo Trust membersihkan ranjau barat peninggalan perang di negara itu, demi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. (Foto: news.sky.com)

ANGOLA, SATUHARAPAN.COM – Pangeran Harry berjalan kaki di ladang ranjau yang belum dibersihkan sepenuhnya di Angola untuk menggarisbawahi ancaman ranjau, 22 tahun setelah ibunya, Diana, Princess of Wales, melakukan hal yang sama.

Pria bergelar kebangsawanan Duke of Sussex itu memakai rompi pelindung saat berjalan melalui bekas markas artileri di Kota Dirico, Angola tenggara.

Ia juga melakukan ledakan terkontrol untuk menghancurkan ranjau.

Putri Diana menjadi perhatian dunia pada tahun 1997 saat berjalan melalui lapangan ranjau yang masih aktif di negara itu.

Putri Diana didampingi organisasi kemanusiaan pembersihan ranjau darat Inggris, Halo Trust, saat mengunjungi Huambo, Angola tengah. Badan itu yang juga membawa Harry ke lapangan ranjau di dekat Dirico.

Pasukan anti-pemerintah menaruh ranjau di Dirico pada tahun 2000 saat bergerak mundur meninggalkan markas mereka.

Pada tahun 2005, anak perempuan berumur 13 tahun kehilangan satu kakinya karena menginjak ranjau di daerah tersebut.

Staf Halo Trust bekerja untuk mengamankan daerah tersebut sejak bulan Agustus dan berharap tempat itu akan bersih dari ranjau pada akhir bulan Oktober.

Pangeran Harry diberi tahu untuk tidak berjalan di jalur yang belum dibersihkan, menyentuh sesuatu, atau berlari.

Dalam pidatonya, ia mengatakan Halo Trust telah membantu masyarakat “menemukan perdamaian”.

“Ranjau darat adalah luka perang yang tidak sembuh. Dengan membersihkan ranjau darat kita dapat membantu komunitas ini menemukan perdamaian, dan dengan begitu muncul berbagai kemungkinan lainnya,” katanya.

“Kita dapat melindungi kehidupan alam yang beragam dan unik, yang menggantungkan diri pada Sungai Kuito yang indah, di samping tempat tidur saya kemarin malam.”

Pangeran mendesak adanya usaha internasional untuk membersihkan ranjau darat dari Okavango, di Pegunungan Angola, dimana senjata tersebut ditinggalkan 17 tahun setelah berakhirnya perang saudara.

Strategi Militer Tahun 1960-an

Konflik dari tahun 1975 sampai 2002 tersebut membuat Angola menjadi salah satu tempat paling banyak ranjau di dunia, sekitar 1.200 lapangan, menurut Halo Trust.

Organisasi tersebut menyatakan telah melumpuhkan sekitar 100.000 ranjau sejak tahun 1994, tetapi nyaris tidak mungkin mengetahui seberapa banyak yang tersisa.

Penempatan secara acak bahan peledak menjadi bagian dari strategi militer di tahun 1960-an.

Sekitar 50 tahun kemudian, sekitar 60 negara dan wilayah masih memiliki ranjau anti-manusia.

Lebih dari 120.000 orang meninggal atau terluka karena ranjau darat dari tahun 1999-2007, menurut penelitian Landmine Monitor.

Warga sipil merupakan 87 persen dari jumlah korban, hampir setengahnya anak-anak.

Camille Wallen, direktur strategi Halo Trust mengatakan kunjungan Pangeran Harry “benar-benar merupakan sebuah momen penting”.

“Seperti yang kita saksikan pada tahun 1997, Putri Diana benar-benar meningkatkan kesadaran terkait dengan isu ranjau darat dan nasib orang-orang yang hidup dengan ranjau darat setiap hari,” katanya kepada BBC.

“Ini mengubah apa yang kami lakukan dan membawa perubahan bagi orang-orang itu. Mereka benar-benar merasa didengarkan.”

Keterlibatan Putri Diana menjadi dasar munculnya desakan bagi pelarangan ranjau darat sedunia.

Traktat Ottawa

Tiga bulan setelah Putri Diana meninggal dunia pada tahun 1997, 122 negara menandatangani Traktat Ottawa, yang melarang penggunaan, pembuatan, penyimpanan dan pemindahan ranjau anti-manusia.

Wallen mengatakan kunjungan Harry membantu untuk “mengingatkan dunia bahwa ranjau darat bukanlah hanya sesuatu dari masa lalu”.

“Puluhan tahun setelah konflik, ranjau tetap mengancam kehidupan manusia,” ia menambahkan.

Pangeran Harry akan mengunjungi bekas lapangan ranjau di Huambo, Angola, yang dikunjungi ibunya pada tahun 1997.

Situs tersebut menjadi “tempat yang sama sekali berbeda” setelah dilakukan pelumpuhan ranjau, kata Wallen.

“Tempat itu sama sekali berubah dari semak belukar menjadi tempat tinggal masyarakat yang sibuk, dengan adanya perumahan, sekolah dan pertokoan,” katanya.

Menteri Angola, Lucio Goncalves Amaral mengatakan kampanye anti-ranjau yang dilakukan Putri Diana menjadi “warisan kemanusiaan” yang mendorong pemerintah untuk mendorong pelumpuhan seluruh ranjau pada tahun 2025.

“Kami tidak akan pernah melupakan sumbangannya yang sangat berharga bagi kampanye melarang ranjau darat anti-manusia,” kata wakil menteri integrasi sosial Angola.

“Warga Angola akan selamanya berterima kasih atas pekerjaan melumpuhkan ranjau di wilayah kami.”

Perubahan Iklim

Pangeran Harry yang sedang melakukan lawatan Afrika bagian selatan, juga mengunjungi Botswana untuk membantu penanaman pohon.

Ia mengatakan kita berlomba dengan waktu untuk menghentikan pemanasan global. Ia mengatakan “terganggu” dengan orang-orang yang masih menyangkal terjadinya perubahan iklim.

Pada hari Rabu, ia mengunjungi Afrika Selatan, dan berkesempatan bersama Duchess of Sussex memperkenalkan anak laki-laki mereka, Archie, kepada pegiat anti-apartheid, Uskup Agung Desmond Tutu.

Mereka juga bertemu pemimpin agama lain di masjid pertama dan tertua Afrika Selatan, serta mengunjungi organisasi kemanusiaan kesehatan jiwa.

Duchess mengatakan kepada remaja perempuan di daerah tidak makmur yang dikunjunginya di Afrika Selatan bahwa ia bukan hanya anggota Keluarga Kerajaan, tetapi juga “seorang perempuan kulit berwarna dan saudara perempuan Anda”. (bbc.com)

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home