Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 18:34 WIB | Jumat, 29 Mei 2015

Panglima TNI Harus Berpengetahuan Politik, Tidak Perang Saja

Panglima TNI Jenderal TNI Dr Moeldoko mengunjungi Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Indonesian Battalion (Satgas Indobatt) Kontingen Garuda XXIII-I/Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon). (Foto: Dok. satuharapan.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Pengamat intelijen dan militer dari Universitas Indonesia (UI) Susaningtyas Kertopati mengatakan jabatan Panglima TNI ke depan harus diisi sosok yang memiliki pengetahuan politik, tidak sekadar kemampuan perang saja.

“Menurut saya jabatan Panglima TNI ke depan harus orang yang mumpuni, bukan hanya pada kemampuannya dalam berperang, tetapi juga memiliki pengetahuan politik yang baik meski tak ikut berpolitik,” ucap Susaningtyas lewat Blackberry Messenger kepada satuharapan.com, di Jakarta, Jumat (29/5).

Selain itu, dia mengatakan, Panglima TNI ke depan juga tidak boleh melakukan pencitraan berlebihan dan harus pandai merangkul semua unsur masyarakat. Tentunya dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dengan tepat.

“Panglima TNI pengganti Moeldoko juga harus memiliki sistem early warning atau deteksi dini yang tajam, sehingga TNI juga siap menghadapi ancaman faktual kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” tutur dia.

Lebih baik lagi, Susaningtyas menambahkan, Panglima TNI ke depan harus memiliki visi dan misi pertahanan yang bisa menjadikan TNI sebagai tentara berkemampuan world class army. Selain itu, Panglima TNI juga harus memahami pemilihan alutsista bagi semua matra, sehingga kegunaannya tepat dan pembeliannya tidak sia-sia.

“Panglima TNI ke depan harus pahami pemilihan alutsista, bagi semua matra, harus tepat guna. Jadi tidak sia-sia dibeli,” ujar pengamat intelijen dan militer dari UI itu.

Terkait sosok dari matra mana yang akan diangkat menjadi Panglima TNI nantinya, Susaningtyas mengatakan semua punya kesempatan yang sama, kecuali Presiden Joko Widodo menggunakan cara yang sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono dalam memilih Panglima TNI. “Semua kepala staf dari masing-masing matra punya probabilitas yang sama, kecuali urut kacang seperti zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, maka sekarang harus giliran Kepala Staf Angkata Udara (Kasau),” ujar dia.

Pucuk pimpinan di TNI akan berakhir 31 Juli 2015. Panglima TNI saat ini, Jenderal Moeldoko akan pensiun dari dinas militer pada Juli 2015. Ada tiga calon pengganti jadi perbincangan.

Sesuai Pasal 13 ayat (4) UU TNI Nomor 34/2004, jabatan Panglima TNI dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap angkatan yang sedang menjabat Kepala Staf Angkatan. Saat Ini Kepala Staf Angkatan Darat dijabat Jenderal Gatot Nurmantyo, Kepala Staf Angkatan Lau dijabat Laksamana Ade Supandi, dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna.

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home