Loading...
DUNIA
Penulis: Sabar Subekti 07:02 WIB | Minggu, 18 Oktober 2020

Partai Kristen Menolak Mendukung Hariri sebagai PM Lebanon

Mantan Perdana menteri Lebanon yang mengundurukan diri Oktober tahun lalu, Saad Hariri. (Foto: dok. Ist)

BEIRUT, SATUHARAPAN.COM-Partai politik Kristen terbesar di Lebanon mengatakan pada hari Sabtu (17/10) bahwa pihaknya tidak akan mendukung pencalonan mantan Perdana Menteri Saad al-Hariri untuk memimpin pemerintah untuk mengatasi krisis ekonomi yang parah. Hal itu semakin memperumit upaya untuk menyetujui perdana menteri baru.

Hariri, yang mundur sebagai perdana menteri pada Oktober tahun lalu dalam menghadapi protes nasional, mengatakan dia siap memimpin pemerintah untuk melaksanakan reformasi yang diusulkan oleh Prancis sebagai cara untuk membuka bantuan internasional yang sangat dibutuhkan.

Tetapi Hariri, politisi Muslim Sunni paling terkemuka di Lebanon, gagal mendapatkan dukungan dari dua partai utama Kristen, Gerakan Patriotik Bebas (FPM) dan Pasukan Lebanon.

Konsultasi parlemen untuk menunjuk perdana menteri baru rencananya diadakan hari Kamis (15/10) lalu, tetapi Presiden Michel Aoun menunda setelah menerima permintaan penundaan dari beberapa blok parlemen.

FPM, yang dipimpin oleh menantu Aoun, Gebran Bassil, mengatakan tidak dapat mendukung tokoh politik seperti Hariri, karena proposal Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah menyerukan pemerintahan reformis yang terdiri dari dan dipimpin oleh "para ahli".

Akibatnya, dewan politik partai "memutuskan dengan suara bulat untuk tidak mencalonkan... Hariri untuk memimpin pemerintahan", kata sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa penundaan selama sepekan oleh Aoun tidak akan membuat partai tersebut mempertimbangkan kembali posisinya.

Setahun Protes Rakyat

Hariri masih bisa mendapatkan mayoritas parlemen jika kelompok Syiah yang kuat, Hizbullah dan sekutunya Amal, mendukungnya sebagai perdana menteri.

Tetapi tidak adanya dukungan dari salah satu blok utama Kristen akan memberinya mandat yang paling rapuh untuk mengatasi krisis paling parah di Lebanon sejak perang saudara 1975-1990.

Negara itu telah terjerumus ke dalam kekacauan finansial dan nilai pound Lebanon telah jatuh. COVID-19 dan ledakan besar di pelabuhan Beirut dua bulan lalu telah memperparah krisis dan mendorong banyak orang Lebanon jatuh ke dalam kemiskinan.

Hariri, yang telah dua kali menjabat perdana menteri, mengundurkan diri dua pekan setelah protes besar meletus tepat setahun lalu.

Demonstrasi yang dipicu oleh rencana untuk mengenakan pajak atas panggilan suara yang dilakukan melalui aplikasi pesan WhatsApp milik Facebook, setahun yang lalu berkembang menjadi protes yang lebih luas terhadap elit politik Lebanon. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home