Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 09:58 WIB | Senin, 22 April 2019

Pascaserangan di Gereja dan Hotel, Sri Lanka Berlakukan Jam Malam

Ilustrasi. Ruang dalam salah satu gereja yang porak-poranda pascaserangan gereja di Sri Lanka bertepatan dengan perayaan Paskah pada Minggu (21/4). (Foto: Capital FM/AFP/STR)

KOLOMBO, SATUHARAPAN.COM – Pemerintah Sri Lanka menerapkan jam malam di seluruh negeri hingga waktu yang tidak ditentukan menyusul serangan terkoordinasi di sejumlah gereja dan hotel pada Minggu (21/4).

Hingga kini sedikitnya 207 orang meninggal dunia dan 450 lain mengalami luka dalam serangan bertepatan dengan perayaan Paskah itu.

Menteri Pertahanan Ruwan Wijewardane mengatakan larangan keluar pada malam hari diberlakukan “hingga pemberitahuan lebih lanjut”.

“Kami akan menempuh segala tindakan yang diperlukan untuk melawan kelompok ekstrem yang beroperasi di negara kami,” ia menegaskan.

Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas peristiwa itu. Kementerian Pertahanan mengatakan serangan kemungkinan dilakukan oleh satu kelompok, tanpa memerinci kelompok yang disebut.

Selain memberlakukan jam malam, pihak berwenang juga memblokir sementara akses ke media sosial sebagai langkah mencegah berbagai spekulasi atau informasi menyesatkan terkait serangan tersebut.

Tidak Ada Informasi WNI yang Menjadi Korban

Di antara 207 orang yang meninggal terdapat 27 warga negara asing. Menteri Luar Negeri Belanda Stef Blok mengatakan seorang warga negaranya meninggal dunia. Adapun kantor berita Turki Anadolu melaporkan dua warga negara Turki juga turut menjadi korban meninggal dunia.

Sementara itu Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam pernyataannya pada Minggu (21/4) mengatakan, “Hingga saat ini tidak ada informasi mengenai WNI yang menjadi korban dalam insiden tersebut.”

Menurut Kemenlu RI, terdapat sekitar 374 WNI di Sri Lanka, termasuk sekitar 140 orang di antaranya berada di Kolombo.

Bagi keluarga dan kerabat yang membutuhkan informasi lebih lanjut, Kemenlu menyarankan agar mereka menghubungi nomor hotline KBRI Kolombo +94772773127, akan tetapi sambungan telepon gagal masuk ketika BBC News Indonesia mencoba menghubungi nomor tersebut beberapa kali.

Kecaman Dunia

Masih dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Indonesia, disebutkan Indonesia mengecam keras aksi pengeboman di berbagai lokasi di Sri Lanka.

“Pemerintah dan rakyat Indonesia menyampaikan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban.”

Delapan ledakan dilaporkan terjadi, termasuk di tiga gereja di Negombo, Batticaloa dan Kochchikade di Kolombo ketika dilangsungkan perayaan Paskah.

Serangan bom juga menyasar empat hotel, termasuk tiga hotel mewah di ibu kota: Shangri-La, Kingsbury, dan Cinnamon Grand.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengunggah pernyataan lewat Twitter dengan mengatakan “aksi kekerasan di gereja-gereja dan hotel-hotel di Sri Lanka benar-benar mengerikan”.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan “duka cita mendalam” atas “serangan teroris yang mengerikan”.

Paus Fransiskus mengecam serangan sebagai “kekerasan yang begitu kejam” dengan sasaran umat Kristen yang sedang merayakan Paskah.

Kardinal Kolombo, Malcolm Ranjith, mengatakan kepada BBC: “Situasi ini sangat sulit dan sangat menyedihkan bagi kami semua karena kami tidak pernah memperkirakan hal ini akan terjadi dan khususnya di Hari Paskah.”

Di jajaran pemerintahan, Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe juga mengutuk serangan.

“Saya mengutuk keras serangan pengecut terhadap rakyat kami hari ini. Saya menyerukan kepada seluruh rakyat Sri Lanka untuk tetap bersatu dan kuat dalam situasi tragis ini.”

Agamadi Sri Lanka

Buddha Theravada tercatat sebagai agama terbesar di Sri Lanka. Berdasarkan sensus terbaru, sekitar 70,2 persen penduduk negara itu memeluk agama Buddha.

Agama itu dianut oleh etnik Sinhala yang merupakan etnik mayoritas. Buddha mendapat tempat utama dalam hukum di Sri Lanka dan bahkan secara khusus dicantumkan dalam konstitusi.

Selain Buddha, terdapat pula penganut Hindu sekitar 12,6 persen dan Muslim sekitar 9,7 persen dari total penduduk.

Berdasar sensus tahun 2012, sekitar 1,5 juta penduduk Sri Lanka beragama Kristen, sebagian besar adalah Katolik Roma.

 

Back to Home