Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 19:18 WIB | Minggu, 16 April 2017

Paus: Berpegang Teguh Pada Iman di Tengah Perang dan Kebencian

Paus Fransiskus memimpin Kebaktian di malam Paskah di St Peter's Basilica, Vatikan pada 15 April 2017. (Foto: AFP/Tiziana Fabi)

VATIKAN, SATUHARAPAN.COM – Dalam khotbah misa Paskah pada hari Minggu (16/4), Paus Fransiskus mendorong setiap orang untuk berpegang teguh pada iman meskipun perang, penyakit dan kebencian terjadi di beberapa belahan dunia. Dia mengakui banyak orang bertanya-tanya di mana Tuhan di tengah begitu banyak kejahatan dan penderitaan.

Puluhan ribu umat dengan semangat menghadiri misa melalui pemeriksaan keamanan yang ketat. Hujan singkat sempat mengguyur Lapangan Santo Petrus di mana Paus Fransiskus merayakan misa di Basilika Santo Petrus.

Biasanya, Paus tidak memberikan khotbah pada misa Paskah siang hari. Untuk menghemat waktu dia kemudian mengungkapkan refleksi Paskahnya dalam “Urbi et Orbi”, pesan khidmat yang ia sampaikan untuk kota dan dunia – pada siang hari dari balkon tengah Basilika Santo Petrus.

Tapi Paus Fransiskus mengubah tradisi itu. Dia menyampaikan pesan Paskah selama misa untuk mencoba menjawab pertanyaan yang mengganggu pikiran banyak umat: mengapa ada begitu banyak tragedi dan perang di dunia jika Yesus telah bangkit dari antara orang  mati, sesuatu yang dipercaya oleh banyak orang Kristen setiap merayakan Paskah.

“Gereja tidak pernah berhenti mengatakan: hadapi kekalahan, hati yang tertutup dan ketakutan, ‘berhenti, Tuhan telah bangkit.’ Tetapi jika Tuhan telah bangkit, mengapa hal ini terjadi?” kata Paus, sambil menyebutkan kecelakaan, penyakit, perdagangan manusia, balas dendam dan kebencian serta penderitaan yang lainnya.

“Tidak ada yang pernah bertanya kepada kami: ‘Tapi apakah Anda bahagia dengan semua yang telah terjadi di dunia ini? Apakah Anda ingin maju? Memikul salib seperti yang Yesus lakukan?” kata Paus kepada umat.

Paus Fransiskus kemudian menyebutkan enceng gondok yang ada di pot, bunga tulip dan bakung serta karangan bunga mawar merah muda yang ditata rapi di tangga menuju gereja sehingga menimbulkan kesan indah.

“Paskah bukanlah pesta dengan panyak bunga. Bunga-bunga itu memang cantik, tapi bukan hanya itu, melainkan lebih dari itu,” kata Paus, menggambarkan bahwa hari ini sebagai kesempatan untuk merenungkan misteri iman.

Paus mengatakan Paskah membawa “tanda di tengah-tengah begitu banyak bencana seperti: lihatlah ke luar, jangan lihat ke dinding, ada cakrawala, ada kehidupan dan ada sukacita.” (timescolonist)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

Back to Home