Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 15:00 WIB | Minggu, 16 April 2017

Paus: Korupsi dan Ketidakadilan Salibkan Martabat Manusia

Paus Fransiskus memimpin Kebaktian di malam Paskah di St Peter's Basilica, Vatikan pada 15 April 2017. (Foto: AFP)

VATIKAN, SATUHARAPAN.COM – Paus Fransiskus pada hari Sabtu (15/4) mengecam  bagaimana imigran, orang miskin dan kaum marginal menderita ‘penyaliban martabat manusia’ setiap hari melalui ketidakadilan dan korupsi. Dalam pesan Paskahnya, ia mendesak umat beriman agar tetap berharap untuk masa depan yang lebih baik.

Paus memimpin misa dalam upacara larut malam yang khusyuk di Basilika Santo Petrus di tengah kekhawatiran keamanan yang tinggi menyusul serentetan serangan yang terinspirasi dari gerakan Islam dan ketegangan atas masuknya imigran Muslim di Eropa.

Keamanan sangat ketat, merupakan bagian dari langkah-langkah keamanan yang lebih berat dari biasanya. Langkah ini dilakukan oleh seluruh dunia untuk kegiatan Pekan Suci, khususnya setelah serangan kembar Minggu Palma di gereja-gereja Koptik di Mesir yang menewaskan 45 orang.

Dengan memegang lilin, Paus Fransiskus menyusuri lorong tengah basilika, yang melambangkan kegelapan yang kalah setelah penyaliban Yesus pada hari Jumat Agung. Ketika Paus mencapai altar, lampu sorot basilika dihidupkan kembali. Ini melambangkan cahaya kebangkitan Kristus.

Dalam khotbahnya, Paus mengingat kisah dari dua perempuan yang mendekati makam Yesus dan berkata kesedihan mereka atas kematianNya. Ini bisa dilihat dari kehidupan kita setiap hari di mana anak-anak kita menjadi korban dari kemiskinan, ketidakadilan dan eksploitasi.

“Kita juga bisa melihat wajah-wajah mereka yang menyambut dengan jijik karena mereka adalah imigran yang kehilangan negara, keluarga dan rumahnya.”

Selain itu, korban berikutnya adalah korban birokrasi yang lumpuh dan korupsi yang melucuti mereka dari hak-hak mereka dan menghancurkan mimpi-mimpi mereka,” kata Paus, seraya menggemakan dua tema yang terus ia tekankan dalam masa empat tahun kepausannya yaitu merawat imigran dan mencela korupsi.

“Dalam kesedihan mereka, kedua perempuan tersebut mencerminkan wajah semua orang yang berjalan di kota-kota kita dan memperhatikan martabat manusia yang terpasung.”

Namun, Paus mendesak umat beriman untuk memiliki pengharapan, seperti yang dilambangkan dengan kebangkitan Kristus. Dia menyerukan umat Katolik untuk “menghancurkan semua dinding yang membuat kita terkunci dalam pesimisme, tembok-tembok yang mengisolasi kita dari kehidupan, kebutuhan kompulsif kami untuk keamanan dan ambisi tak terbatas membuat kita berkompromi akan martabat orang lain.”

Layanan Sabtu larut malam itu juga membaptis 11 orang termasuk dua anak dan satu orang perempuan dari Tiongkok.

Layanan ini dilakukan beberapa jam setelah Paus memimpin Prosesi Jumat Agung di Colosseum Roma, di mana ia berulang kali menyebut kata ‘malu’ dari darah yang tumpah terhadap anak-anak, perempuan dan imigran yang tidak bersalah dalam konflik dunia, kapal tenggelam dan tragedi lainnya.

Pada hari Minggu, Paus akan merayakan sukacita misa Paskah di Lapangan  Santo Petrus  yang penuh dengan bunga. Ribuan orang diperkirakan akan datang. Langkah-langkah pengamanan dilakukan seperti pemasangan detektor logam dan penutupan jalan untuk mencapai lapangan tempat misa diselenggarakan. (AP)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum

Back to Home