Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 17:44 WIB | Sabtu, 11 November 2017

Pdt Rahab Kariuki, Lilin bagi Pengidap HIV

Pdt Rahab Wanjiru Kariuki. (Foto: Albin Hillert/WCC)

SATUHARAPAN.COM – Pendeta Rahab Wanjiru Kariuki, pendeta Anglikan yang hidup dengan para pengidap HIV di Kenya, sangat yakin bahwa meningkatnya infeksi HIV di kalangan anak muda lebih disebabkan karena lebih banyak orang diam berpangku tangan, tidak melakukan apa pun.

Dan, Pdt Kariuki menolak dimasukkan dalam daftar orang yang diam, berpangku tangan. Menolak untuk pasif. Itulah mantra yang membuatnya bukan hanya selalu hidup energetik, tapi juga menjadi cara dia menemani dan merawat orang lain.

Ia telah menyaksikan, walaupun tingkat HIV di seluruh dunia menurun, di beberapa komunitas, infeksi HIV terus meningkat.

“Ada peningkatan kasus kematian. Begitu mengunjungi orang-orang itu, Anda menemukan di rumah mereka, tumpukan obat (antiretroviral, Red) yang ditinggalkan begitu saja di sana,” kata Pdt Kariuki. “Itu disebabkan orang-orang itu ditinggalkan sendiri. Mereka tidak bersosialisasi. Mereka tidak punya seseorang yang mengingatkan untuk terus minum obat.”

Selama bertahun-tahun, Pdt Kariuki tak pernah lelah berbicara, memberi contoh, dan mendesak orang lain untuk juga ikut berbicara. Ia telah melayani, sebagai bagian dari dua pemimpin berbeda dari badan konsultasi Emergency Plan For AIDS Relief (PEPFAR), di Kenya pada tahun 2016, dan i Uganda pada tahun 2017.

Badan konsultasi tersebut dirancang dan difasilitasi oleh Inisiatif dan Advokasi Ekumenis HIV dan AIDS dari Badan Gereja-gereja Dunia (WCC-EHAIA) dan disponsori secara finansial PEPFAR-UNAIDS Faith Initiative. PEPFAR adalah inisiatif Pemerintah Amerika Serikat untuk menangani epidemi HIV/AIDS global.

Memasuki tahap kedua berkarya bersama PEPFAR-UNAIDS Faith Initiative ini, Pdt Kariuki berencana untuk terus menjadi suara kunci bagi WCC-EHAIA. Ia telah mengembangkan dan mendukung penanganan berkelanjutan terhadap HIV dengan tujuan untuk mengakhiri HIV dan AIDS pada tahun 2030.

Menghadapi Masalah Stigma

Pdt Kariuki mengamati, semakin tinggi stigma seputar HIV di masyarakat, semakin tinggi risiko infeksi HIV baru.

Namun, stigma tampaknya tak pernah berakhir. “Kami selalu menghadapi masalah stigma dan sekarang mulai berakar lagi,” katanya. “Ketika beberapa pemimpin agama diberondong pertanyaan dari kaum muda tentang masalah HIV, mereka tidak memiliki jawabannya. Ini seperti informasi yang terlupakan,” ia menggambarkan.

Pdt Kariuki percaya, pemimpin agama perlu diingatkan dan didorong untuk juga bertanggung jawab menjaga kesehatan masyarakat. “Itulah kehendak Tuhan,” ia mengingatkan. “Jika semua usaha kita lakukan, tidak ada yang tidak dapat kita ubah.”

Pdt Kariuki dan pemimpin agama lainnya telah dilibatkan dalam pelatihan dan lokakarya, yang diselenggarakan oleh WCC-EHAIA bersama mitra lokal, yang berfokus pada metodologi "save", yang merupakan praktik yang aman, akses dan ketersediaan obat-obatan, konseling dan tes sukarela, dan memberdayakan masyarakat dengan keterampilan.

Ia juga bekerja melalui Jaringan Internasional Pemimpin Agama yang Hidup dengan atau yang Terkena Dampak HIV dan AIDS Secara Pribadi, dan berpartisipasi dalam kampanye Dewan Gereja-gereja Dunia, "Memimpin dengan Contoh: Pemimpin Agama dan Tes HIV".

Beberapa orang terasa sulit untuk diuji. “Pengujian dan konseling, ada beberapa orang yang tidak masuk ke fasilitas dan diuji karena stigma. Jadi kita perlu mencari cara dan sarana untuk mendorong pemimpin agama itu dilatih untuk melakukan praktik konseling dan pengujian.”

Pdt Kariuki yakin HIV bisa dikalahkan. Ia mengatakan, “Ada banyak tanda harapan. Tuhan telah membawakan kepada kita cara untuk mengalahkan HIV.”

Ia melihat ke generasi berikutnya dengan optimisme yang tinggi. “HIV dikalahkan dengan cara seperti ini: orang yang positif HIV, keduanya dapat menyebabkan anak-anak yang HIV-negatif. Ada generasi yang datang yaitu HIV negatif. HIV dapat dicegah. Tapi banyak usaha yang harus dilakukan agar kita bisa mencegahnya.”

Mengidap HIV Lebih dari 20 Tahun

HIV tidak dapat disembuhkan, namun bisa ditangani. “Orang yang HIV positif seperti saya, bisa menjalani hidup sehat jika mereka mematuhi pengobatan. Saya telah positif HIV selama lebih dari 20 tahun, dan saya tidak pernah dirawat di rumah sakit. Saya telah mampu menjalani hidup ini, penyembuhan holistik dari Tuhan melalui sains membuat saya utuh,”

“Ada harapan besar bahwa HIV dapat dikalahkan dan bisa dihilangkan. Ya, mungkin saja menghilangkan HIV dari dunia ini.”

“Menghadapi badai HIV, kita bisa bergerak bersama. Menjadi agen perubahan,” katanya. (oikoumene.org)

Editor : Sotyati

Back to Home