Google+
Loading...
ANALISIS
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 11:19 WIB | Kamis, 16 Agustus 2018

Pembacaan Kaum Muda atas Ruang

Kilas balik sewindu Festival Kesenian Yogyakarta dikelola masyarakat
Dari kiri ke kanan: Ketua umum FKY 30|2018 Roby Setiawan (batik biru) bersama Direktur bagian umum Setyo Harwanto, dan Direktur Program Pertunjukan Ishari Sahida saat memberikan penjelasan pada jumpa media FKY 30|2018 di Planet Pyramid Jl. Parangtritis Km 5,5, Sewon-Bantul, Jumat (20/7). (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

SATUHARAPAN.COM - Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang sempat dikelola langsung oleh Pemda DI Yogyakarta bersama pemerintahan kabupaten-kota, pada tahun 2011 untuk pertama kalinya pengelolaan diserahkan kepada masyarakat dengan Pemda DI Yogyakarta bertindak memfasilitasi terselenggaranya FKY setelah sebelumnya selama tiga tahun kepanitiaan bersama melibatkan pemkab-pemkot melalui dinas terkait.

Pada 2011 ditunjuk dosen jurusan Seni Rupa ISI Yogyakarta Timbul Raharjo bersama Kristiadi, dan Ryan Budi Nuryanto sebagai ketua FKY mengangkat tema "Kreativitas di Antara Gunung dan Samodra". Komposisi ketua berlanjut pada FKY 2012 dengan mengangkat tajuk "Seni untuk Rakyat". 

Dalam dua penyelenggaraan FKY tersebut, kawasan Benteng Vredeburg dan Titik Nol Km Yogyakarta masih menjadi pusat penyelenggaraan FKY dengan beberapa paralel event yang digelar oleh masing-masing pemkab dan pemkot. Pemkot Yogyakarta misalnya, saat itu menjadikan Pasar Ngasem yang sedang dalam masa penataan menjadi venue FKY Kota Yogyakarta. Pasar Seni, panggung seni, diskusi-workshop, bioskop, serta program acara lainnya masih dihelat dengan memanfaatkan berbagai ruang dan bangunan di Benteng Vredebug. Tidak seperti pada penyelenggaraan dua FKY sebelumnya (tahun 2009-2010) yang sepi dari pengunjung, adanya paralel event sedikit ada peningkatan kunjungan terutama pada FKY Kota Yogyakarta di Pasar Ngasem.

Titik balik mulai terlihat pada penyelenggaraan FKY ke-25 tahun 2013 ketika Dinas Kebudayaan (Disbud) DI Yogyakarta mulai memberikan kepercayaan kepada generasi muda Yogyakarta untuk melakukan regenerasi kepanitiaan. Seolah menjadi pertaruhan Disbud DIY ketika menunjuk Setyo 'Tyo' Harwanto sebagai ketua umum. Kepercayaan yang diberikan oleh Disbud DI Yogyakarta dijawab Setyo Harwanto dengan mengajak talenta muda lainnya Ishari 'Ari wulu' Sahida untuk memberikan sentuhan pada pelaksanaan program seni pertunjukan serta Roby Setiawan yang menangani seni rupa. 

Setyo Harwanto dengan berbekal tata kelola seni (art management) yang dipelajari serta pengalaman terlibat pada penyelenggaraan FKY sebelumnya maupun event-event seni budaya di wilayah Yogyakarta menempatkan bagian umum dalam kepanitiaan FKY sebagai wilayah yang tidak berhubungan langsung secara teknis pelaksanaan program, membawa semangat perubahan baru dalam penyelenggaraan FKY. 

FKY 25|2013 memasuki babak baru dalam format yang lebih terencana, tertata divisi per divisi, terprogram dengan penjadwalan yang ketat, melibatkan partisipasi masyarakat seluas-luasnya, serta memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk terlibat dalam kepanitiaan FKY dalam pola kerja voluntary.

Generasi Muda Membaca Ruang

"Ari (Ishari Sahida) selaku Direktur Program Pertunjukan menangani program seni pertunjukan meliputi panggung secara keseluruhan, talent, dan tim kerjanya sementara Roby (Setiawan) sebagai Direktur Seni & Kreatif FKY menangani program seni rupa dan kreativitas lainnya. Untuk urusan teknis dibentuk divisi-divisi sesuai kebutuhan masing-masing direksi semisal divisi area, divisi marketing-komunikasi. Saya sendiri sebagai Ketua Umum FKY 25|2013 merangkap sebagai Direktur bagian Umum yang difungsikan layaknya sebuah kantor pada sebuah usaha. Seluruh aktivitas yang direncanakan dalam setiap harinya dicatat bagian per bagian, divisi per divisi. Dokumentasi dan arsip data harian itulah yang kita gunakan sebagai bahan evaluasi untuk hari-hari berikutnya. (Dokumentasi-arsip) Ini penting," jelas Setyo Harwanto dalam perbincangan dengan satuharapan.com di sektretariat FKY Taman Kuliner Condong Catur-Sleman, pada penyelenggaraan FKY 27 tiga tahun silam.

Ruang (sphere-space) dan tempat (place), fenomena inilah yang pertama kali dibaca generasi muda Yogyakarta saat mendapatkan kepercayaan menangani event besar Festival Kesenian Yogyakarta. Dalam diskusi intensif diantara mereka selain diputuskan untuk membentuk divisi-divisi dalam pelaksanaan FKY sesuai kebutuhan, mereka membuat sebuah lompatan berpikir out of the box ketika memutuskan untuk memindahkan tempat penyelenggaraan FKY keluar dari Benteng Vredeburg. 

Sebuah pilihan yang "berani" mengingat selama ini FKY telah identik dengan Benteng Vredeburg dan Kawasan Titik Nol Km Yogyakarta. Memindahkan tempat penyelenggaraan FKY seolah menjadi pertaruhan mereka. Pasar Ngasem yang baru saja selesai penataan langsung menjadi tempat penyelenggaraan FKY 2013 dan 2014. Bukan perkara mudah berbagi tempat untuk sebuah festival besar dengan pasar tradisional yang masih diaktivasi untuk kegiatan perdagangan meskipun dalam penataan Pasar Ngasem dibangun pula plaza yang memungkinkan untuk membangun panggung pertunjukan. 

Tantangan teknisnya adalah Pasar Ngasem tidak seluas area Benteng Vredeburg, begitupun dengan sarana-prasarana pendukungnya mulai dari area parkir, kamar kecil, maupun area untuk pasar seni. Tanpa membayangkan pun, bisa ditebak FKY yang semakin dekat penyelenggaraannya dengan masyarakat dipenuhi oleh pengunjung setiap hari. FKY menjadi tidak nyaman dan relatif tidak aman. Crowded akibat penumpukan pengunjung pada Pasar Ngasem yang tidak terlalu luas memberikan pesan jelas: FKY perlahan mulai mampu membebaskan dirinya dari Benteng Vredeburg.

"Dalam FKY 2013-2014 panitia cukup berhasil menarik pengunjung ke Pasar Ngasem. Mungkin itu menjadi prestasi pertama panitia semenjak kepindahannya dari Benteng Vredeburg, kemacetan  (arus lalu-lintas) terjadi dimana-mana di sekitar Pasar Ngasem. Hahaha....," papar Tyo panggilan Setyo Harwanto. Sejauh ini ukuran kunjungan sebuah event pada ruang publik di Yogyakarta paling gampang adalah kemacetan arus lalu-lintas.

Crowded yang terjadi dalam dua penyelenggaraan FKY di Pasar Ngasem "memaksa" anak-anak muda untuk mencari ruang-ruang baru yang lebih luas. Pada penyelenggaraan FKY 27|2015 mereka kembali memindahkan tempat penyelenggaraan ke Taman Kuliner Condongcatur, Sleman. Dua penyelenggaraan di Pasar Ngasem mampu membangun image positif FKY sebagai sebuah festival yang layak ditunggu-tunggu. Kepindahan dari Pasar Ngasem ke Taman Kuliner tidak menyurutkan pengunjung untuk datang meskipun sebelumnya Taman Kuliner Condong Catur hanya enak untuk diucapkan namun masyarakat enggan untuk mengunjunginya karena lokasinya yang dianggap jauh.

"Penyelenggaraan FKY di Taman Kuliner dikunjungi rata-rata 10.000 orang perhari. Pada akhir pekan bisa mencapai 15.000 orang lebih. Taman Kuliner sendiri masih cukup nyaman untuk menampung hingga 8.000-an orang perhari. Lebih dari itu kenyamanan akan berkurang. Pada akhir pekan kerja teman-teman panitia bertambah banyak terlebih yang berhubungan dengan keselamatan bersama," kata Tyo.

Sebagai catatan, sebelum digunakan sebagai tempat penyelenggaraan FKY, banyak kios di Taman Kuliner yang kosong dan sepi dari pengunjung. Rata-rata setiap tahun dikunjungi 10.000-an orang. Angka ini sama dengan jumlah pengunjung harian FKY 2015-2016. Membuka ruang-ruang yang sebelumnya sepi dari pengunjung menjadi tantangan bagi ketiga direktur FKY beserta tim kepanitiaan. 

Menurut Ketua Umum FKY 27|2015 Ishari Sahida, dipilihnya Taman Kuliner Condongcatur Yogyakarta sebagai tempat digelarnya FKY 27|2015 didasari pertimbangan kondisi budaya dan kemasyarakatan yang menarik.

“Sebagai sebuah wilayah yang di satu bagian memiliki kondisi lingkungan urban, sementara pada bagian lain terdapat penduduk lokal yang masih dekat dengan kehidupan agraris, Condongcatur dapat jadi tempat yang tepat untuk menyerap dan mewujudkan visi dan misi FKY tahun ini,” kata pria yang akrab dipanggil Ari Wulu di sela-sela kesibukan FKY 27|2015.

Selain venue utama di Pasar Ngasem dan Taman Kuliner, mereka selalu mencoba kemungkinan-kemungkinan ruang lain untuk dijadikan panggung tematik FKY. Hasilnya pada FKY 27-2015 mereka menjadikan kolong jembatan Kali Code menjadi panggung Edan-Edanan. Pada FKY 28|2016 amphitheatre Tebing Breksi menjadi panggung Masa Depan. Tahun lalu pada penyelenggaraan FKY 29|2017 pelataran nDalem Pugeran yang berada di Brontokusuman disulap menjadi panggung Mak Byarr. Dan beberapa saat lalu GOR Pancasila yang berada di Lembah UGM dijadikan panggung Mesemeleh.

"Jika selama ini kita menggunakan fasilitas negara (Pasar Ngasem dan Taman Kuliner Sleman), pada FKY 29 tahun ini kita mencoba hal baru dengan menggandeng swasta untuk tempat penyelenggaraannya. Harapannya ini bukan lagi sekedar merespon, namun mencoba memunculkan hal-hal baru dengan tema yang ada di tempat yang baru, sehingga FKY 29 bukan semata-mata ruang untuk bertransaksi, namun juga ruang presentasi," kata Roby Setiawan yang ditunjuk sebagai Ketua Umum FKY 29|2017 saat temu media, Selasa (25/7) tahun lalu.

Dalam hal pembacaan ruang, sewindu pelaksanaan FKY telah mampu membebaskan diri dari keterikatan image FKY hanya dengan Benteng Vredeburg dan Kawasan Titik Nol Km Yogyakarta. Dan saat ini FKY tidak identik dengan satu tempat pun di wilayah Yogyakarta ketika kaum muda pun melakukan jemput bola untuk FKY di ruang-ruang sunyi penjara-lembaga pemasyarakatan, kolong jembatan, panti sosial, panti kaum penyandang disabilitas, ruang yang jauh dari hiruk-pikuk semisal pondok pesantren, gereja, perkampungan yang jauh dari pusat. Waktu akan terus mencatat kehadiran FKY di Tebing Breksi, kolong jembatan Kali Code, bantaran kali Dusun Bintaran Piyungan, Lapas Wirogunan, gereja Ganjuran-Bantul. Pembacaan kaum mudalah yang mengantarkan kehadiran FKY ke berbagai wilayah Yogyakarta melalui kehadiran berbagai programnya.

Pembacaan Teks dalam Konteks yang Dinamis

Generasi muda membaca FKY dalam alam pikir yang ringan, sederhana, lugas, tanpa kehilangan kedalaman makna. Setiap tema yang ditawarkan bisa jadi respon atas dinamika yang sedang berkembang atau mungkin sebuah ajakan atau tantangan membangun ruang-ruang dialog. Pada penyelenggaraan FKY 25 (2013) mengambil tema "Rekreasi", FKY 26 (2014) "Dodolan", FKY 27 (2015) "Dan Dan", FKY 28 (2016) "Masa Depan, hari ini dulu", FKY 29 (2017) "Umbar Mak Byarr" serta tahun ini "Mesemeleh", adalah keseharian mereka yang dikemas secara jenaka sekaligus serius.

Tema "Rekreasi" bisa dimaknai sebagai sebuah aktivitas santai melepaskan kepenatan dan rutinitas untuk menikmati FKY, namun bisa juga dilakukan pembacaan sebagai re-kreasi: mengulang kreasi dan kreativitas. Bicara tentang masa depan dalam "Masa Depan, hari ini dulu"? bicarakan dan perbincangkanlah realitas hari ini dulu. Dan dalam "Umbar Mak Byarr" menjadi upaya meng-Umbar kreativitas agar semakin Mak Byarr. Begitulah generasi muda FKY membaca teks dan konteks hari ini: ringan, jenaka, lugas, dan tetap bermakna.

Dinamika tema pada setiap penyelenggaraan FKY diterjemahkan ke dalam belasan program secara beragam dan tidak melulu linier dengan tema besarnya. Ini menjadi tantangan lain bagi panitia muda FKY terlebih pada masa lalu FKY identik dengan seni rupa dalam pasar seninya. Hingga tahun 2010 FKY seolah kehilangan ruang seni rupa. Baru pada FKY 23|2011 ditampilkan kembali produk unggulan di tempat stand yang khas dan diisi kerajinan tradisi seperti batik, keris, dan wayang.

Kepindahan tempat penyelenggaraan ke Pasar Ngasem sempat membuat bingung panitia  untuk menggarap seni rupa, akhirnya pada penyelenggaraan FKY 25|2013 mereka mencoba menghadirkan live cooking mengundang seniman-seniman untuk memasak bersama menjadi peristiwa seni.

"Bahwa rasa visual mata-telinga-lidah bisa disajikan dalam satu ruang kejadian," jelas Koordinator Pameran Perupa Muda (Paperu) FKY, Arsita "Dito" Pinandita.

Sebagai tawaran baru, pada penyelenggaraan FKY 26|2014 seni rupa mulai digarap dengan menyasar pada perupa muda. Banyak perdebatan tentang terminologi perupa muda itu sendiri, namun panitia FKY yang diinisasi oleh Direktur Seni & Kreatif Roby Setiawan tetap menawarkan sebuah konsep pameran perupa muda. Dengan konsep yang sederhana cut and remix yang dihelat di Jogja Gallery, kerinduan masyarakat pada seni rupa di FKY sedikit terobati. Setidaknya panitia menerima 200 aplikasi dari perupa muda untuk turut berpameran di FKY.

Baru pada penyelenggaraa FKY 27|2015 Paperu digarap serius dengan konsep pameran dan pasar seni. Dalam tema besar FKY 27|2015, Paperu justru membuat interpretasi yang berkebalikan "Laras Sinawang" dihelat di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta (TBY) serta selasar TBY untuk pasar seni rupanya.

"Konsepnya (ketika itu) adalah laras sinanwang, bagaimana cara memandang kita terhadap orang lain dan orang lain memandang kita. Dari situ mulai melakukan obrolan dengan beberapa pendiri FKY. Saya datangi satu-satu meskipun tidak semua. Kalau kita mau mengembalikan lagi semangat festivalnya, meskipun dengan konteks baru Paperu-nya, kita harus bicarakan ruang," kata Dito pada Diskusi Seni Rupa FKY 30|2018, Jumat (27/7) sore.

Berangkat dari hal tersebut Paperu berlanjut pada FKY berikutnya dengan mengangkat tema (ng)Impi(an) saat FKY 28, "Brake! Break!" (FKY - 29), dan "Cah Cak Cek" (FKY- 30), Menariknya selalu ada hal baru dalam setiap penyelenggaraan Paperu. Tahun ini Paperu menyertakan tiga komunitas/ruang kolektif yang membuat karyanya selama FKY berlangsung.

"Publik FKY itu sangat beragam, tidak hanya dari kalangan seniman. Itu yang berusaha kita jawab, bagaiman menampilkan satu strategi artisitik yang bisa berinteraksi dengan publik yang beragam itu," kata Dito. Lebih lanjut Dito menjelaskan bahwa Paperu ingin menjadi ruang yang bisa berbentuk apapun sesuai pola perupa muda kali ini. Sampai sekarang tidak ada definisi perupa muda, yang bisa menjawab adalah perubahan jaman yang diwakilinya.

Tawaran terbaik

"FKY 30|2018 telah melahirkan sebuah festival dengan nama Jogja Video Mapping Festival (JVMF) melibatkan seniman video mapping dari Jogja, Malang, Bandung, Jakarta. Pada tahun-tahun mendatang JVMF akan menjadi festival mandiri (lepas FKY) dengan harapan menjadi salah satu festival tahunan di Yogyakarta," jelas Robby Setiawan dalam sambutan acara penutupan FKY 30|2018, Kamis (9/8) malam.

Selain Jogja video mapping yang diselenggarakan sejak FKY 2014, berbagai program berpotensi dikembangkan dengan menyasar kaum muda sebagai pelakunya di masa datang. Sebutlah bioskop FKY yang kerap melahirkan sineas muda berbakat. Pasar seni yang dalam tiga tahun terakhir penyelenggaraan diisi oleh seniman-perupa muda. Panggung pasar seni yang menampilkan performer dari berbagai kelompok umur serta disiplin seni pertunjukan yang beragam.

Dengan belasan program selama penyelenggaraannya, FKY sebagai salah satu etalase peristiwa seni-budaya menjadi buku terbuka dalam pengembangannya bagi siapapun. Tawaran terbaik dari penyelenggaraan FKY saat dikelola oleh kaum muda dalam sewindu terakhir adalah platform tata kelola seni yang ditawarkan oleh tiga direktur FKY bersama teamwork-nya yang berhasil meletakkan dasar tata kelola seni (art management) menyeluruh secara dinamis melalui berbagai eksperimen yang terencana dan terdokumentasi dengan baik. Setiap bagian-divisi diperbincangkan dalam diskusi yang intensif sesuai kebutuhan.

Ketika kaum muda diberikan sebuah kepercayaan, memperbincangkan kiprah mereka pada perhelatan FKY hari ini adalah memperbincangkan dialog-dialog di berbagai komunitas-ruang kolektif yang banyak tersebar di berbagai wilayah Yogyakarta dimana FKY menjadi salah satu ruang ekspresi-apresiasi atas proses yang terus dijalaninya: sebuah investasi besar untuk masa depan mereka pada hari ini. Perputaran ekonomi dari banyaknya jumlah kunjungan menjadi bonus dan cerita lain dari FKY.

 
Back to Home