Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Anil Dawan 17:41 WIB | Rabu, 03 Oktober 2018

Pembelajaran Penanganan Bencana

SATUHARAPAN.COM – Berulang kali bencana menyapa Indonesia. Ibu Pertiwi agaknya menangis meratapi jiwa yang melayang akibat bencana yang silih berganti. Selang beberapa bulan setelah gempa di Lombok, NTB, terjangan gempa dan tsunami Palu dan Donggala pada Jumat, 28 September 2018 menambah duka kita. Jumlah korban jiwa sebanyak 1.234 orang, yang dilansir oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menandakan bahwa gempa dan tsunami Palu-Donggala dan Mamuju menorehkan duka mendalam karena daya rusak dan kerugian yang ditimbulkannya.

Dalam beberapa pembelajaran mengenai bencana-bencana sebelumnya, di belahan dunia dimana saja, kita menemukan bahwa penguatan sistem deteksi dini terhadap bencana sangat mempengaruhi cepat atau lambatnya tindakan yang dapat diberikan untuk mengantispasi agar kondisinya tidak bertambah buruk.

Dalam ”The Makassar Strait Tsunamigenic Region Indonesia”, yang diterbitkan di Jurnal Natural Hazard (2001), ahli tsunami Gegar Prasetya menyatakan bahwa 14 tsunami terjadi di kawasan Palu-Donggala dalam kurun 1820-1882. Artinya, dalam catatan sejarah bencana, setiap 4 tahun 3 bulan terjadi tsunami, yang menunjukan betapa kawasan tersebut rentan terhadap bencana.

Karena itu, prioritas yang perlu dilakukan adalah begitu penting dan mendesaknya pembangunan sistem deteksi dan peringatan dini (early warning system) dan manajemen informasi baik di tingkat pusat maupun daerah. Membangun sistem termasuk di dalamnya teknologi dan informasi yang digunakan sekaligus pengembangan sumber daya manusia yang dibangun dari kesadaran terhadap lingkungan geografisnya, dan kemampuan untuk bertindak cepat, tanggap ketika bencana terjadi. Program yang dijalankan juga perlu membangun kesiapsiagaan yang dilatihkan mulai anak hingga dewasa di sekolah, lingkungan RT, RW, kelurahan, kecamatan dan seterusnya.

Pemerintah perlu bekerja sama dan merangkul berbagai lembaga kemanusiaan untuk mengembangkan program sekolah aman bencana, tempat ibadah aman bencana, rumah dan lingkungan aman bencana. Program tersebut mencakup penyiapan seluruh elemen untuk ramah dan siap siaga menghadapi risiko bencana dari aspek konstruksi bangunan, kurikulum, dan simulasi pelatihan jika terjadi bencana.

 

Penanganan Yang Holistik

Berita baik terkini dari peristiwa gempa Palu dan Donggala adalah bantuan mulai mengalir berdatangan setelah 3- 4 hari bencana terjadi. Bantuan bahan makanan, pakaian dan sukarelawan terus berdatangan di Sulawesi Tengah, baik melalui darat, udara, maupun laut. Kondisi masyarakat korban bencana juga perlu dibantu secara holistik.

Bantuan logistik berupa makanan, minuman dan semua keperluan pengungsi juga perlu memperhatikan kebutuan psikososial mereka. Kita tahu bahwa bencana, yang mengakibatkan kehilangan nyawa dan harta benda, akan mengguncang emosi, jiwa dan kematangan mental dan spiritual dan kerap kali menimbulkan trauma yang mendalam. Rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, yang disebabkan oleh bencana alam atau nonalam maupun faktor manusia, mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerusakan harta benda dan dampak psikologis, diantaranya: depresi, cemas, perilaku agresif, bingung, putus asa, sedih, kehilangan, takut, menyendiri.

Melihat dampak psikologis yang timbul, maka tidak hanya bantuan secara fisik, namun dukungan psikologis pascabencana juga sangat diperlukan. Bantuan logistik untuk pemenuhan kebutuhan fisik harus satu paket dengan dukungan psikososial yang memampukan korban bencana memiliki perasaan yang baik (positif) terhadap diri sendiri, merasa nyaman berada di sekitar orang lain, mampu mengendalikan ketegangan dan kecemasan,  mampu menjaga pandangan atau pikiran positifnya dalam hidup, memiliki rasa syukur terhadap apa yang dimiliki dalam hidup, bahkan untuk hal sederhana sekalipun, mampu menghormati dan menghargai alam dan lingkungan sosialnya.

Kerja sama lintas sektoral dari lembaga akademis yang berfokus pada penanganan psikologi dan lembaga berbasis agama perlu dikembangkan untuk memberikan perspektif keimanan yang mengukuhkan ketahanan dan ketabahan dalam merespons dan menghadapi bencana.

 

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home