Loading...
OLAHRAGA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:00 WIB | Sabtu, 16 Juni 2018

Pembuktian Xhaka

Jelang Pertandingan Brasil vs Swiss
Pertandingan persahabatan kesebelasan Brasil melawan Jepang. (Foto: Mirror.co.uk)

SATUHARAPAN.COM - Kesebelasan Brasil adalah satu-satunya timnas yang selalu hadir pada setiap perhelatan Piala Dunia. Hingga penyelenggaraan yang ke-21 hanya timnas Jerman yang mendekati jumlah keikutsertaannya di babak final Piala Dunia.

Dari tujuh partai final Piala Dunia yang pernah dicapai, Brasil meraih lima trofi PD. Trofi Jules Rimet telah menjadi milik Brasil saat mereka menjadi juara PD yang ketiga kalinya di Meksiko tahun 1970. Sejak itu trofi PD diganti dengan trofi yang diperebutkan hingga saat ini.

Dengan pencapaian tersebut tidak berlebihan jika Brasil selalu menjadi tim unggulan saat PD dihelat. Permainan atraktif-indah, materi pemain bertalenta tinggi, serta prestasi yang diraih selalu menjadi daya tarik tim Brasil. Brasil mengalami fase keemasan kedua kalinya pada rentang waktu 1994-2002. Dalam tiga penyelenggaraan PD mereka selalu menembus partai puncak dengan torehan juara di Amerika Serikat pada tahun 1994 dan di PD 2002, Jepang-Korea Selatan. Pada PD 1998 mereka ditaklukkan tuan Prancis di final. Setelah itu Brasil belum menunjukkan performa terbaiknya termasuk saat menjadi tuan rumah pada PD 2014.

Swiss lolos ke PD 2018 Rusia melalui pertandingan play off  melawan Irlandia Utara. Pada babak kualifikasi PD 2018 grup B zona Eropa, Swiss tampil dengan baik. Memenangi sembilan pertandingan dari sepuluh pertandingan sebenarnya mereka memiliki poin yang sama dengan pemuncak grup Portugal. Head to head kedua kesebelasan pun sama. Saling mengalahkan dengan skor yang sama pada dua perjumpaan, Portugal lolos langsung ke Rusia karena lebih produktif dalam selisih gol.

Kekuatan kesebelasan Swiss saat ini tidak jauh berbeda dengan skuad saat mereka menjalani PD 2014 dan Piala Eropa 2016 dimana pada kedua turnamen tersebut Swiss mampu menembus babak 16-besar. Estafet kepelatihan di tubuh kesebelasan Swiss cukup berhasil saat Vladimir Petković menggantikan Ottmar Hitzfeld usai PD 2014. DNA tim Swiss yang diwariskan Hitzfeld menjadi lebih bertenaga ketika Petkovic memasukkan pemain-pemain muda. Granit Xhaka, Lang, Embolo, Rodriquez, Shaqiri, telah diberikan tempat di tim utama yang menjadikan warna kesebelasan Swiss yang bertenaga. 

Prediksi pertandingan

Neymar jr, bagaimanapun pemain gelandang serang Brasil ini masih menjadi napas dan sosok sentral yang bisa menentukan permainan bahkan kemenangan bagi Brasil. Tidak diragukan lagi skill Neymar maupun permainan timnya menjadi inspirasi bagi kesebelasan Brasil. Selagi Neymar bisa bermain lepas serta cedera yang menghantuinya tidak kambuh saat tampil di PD 2018, Tite sedikit dimudahkan untuk menyusun strategi permainan.

Barisan belakang Brasil sejauh ini cukup solid dengan kehadiran Danilo, Silva, Luis, Marcelo. Jika Silva dan Luis mampu tampil konsisten dan disiplin menjaga wilayahnya, sulit bagi gelandang lawan menembus pertahanan Brasil. Satu yang perlu dicermati adalah back sayap Marcello yang sering ikut naik membantu serangan, harus memastikan bahwa daerah pertahanannya benar-benar sudah aman. Pergerakan Marcello akan mengingatkan pada permaian pemain belakang elegan Brasil Roberto Carlos. 

Kokohnya barisan pertahanan Brasil akan diuji penyerang muda Swiss Zuber, Gabranovic, Seferovic yang mendapat dukungan sepenuhnya dari pergerakan Xherdan Shaqiri dengan mobilitas yang cukup tinggi,

Coutinho sebagai otak serangan sejauh ini masih membuktikan dirinya sebagai gelandang dengan determinasi pada serangan-pertahanan yang sama baiknya. Di lapangan tengah Coutinho bersama Casemiro dan Fermino akan beradu strategi melawan gelandang muda Swiss Xhaka yang semakin matang permainannya. Bersama Behrami ataupun Embolo, Xhaka akan menjadi pengatur serangan sekaligus penghubung lini belakang-tengah Swiss. Di Piala Eropa 2016, Xhaka telah membuktikan bagaimana bersama gelandang Swiss lainnya mereka mampu mengimbangi permainan barisan gelandang Prancis Matuidi, Kante, dan Pogba. Juara Eropa 2016 Portugal yang memiliki pola permainan seperti Brasil pun telah merasakan bagaimana mereka dikalahkan Swiss dengan skor 2-0 melalui penguasaan lapangan tengah yang digalang Xhaka.

Pertarungan lapangan tengah akan mewarnai pertandingan Brasil-Swiss. Dalam persaingan memperebutkan lapangan tengah oleh barisan gelandang energik kedua kesebelasan, kehadiran Neymar jr di kubu Brasil bisa mengubah jalannya permainan. Kemampuan melepaskan kawalan, membuka pertahanan lawan dengan mencari daerah-daerah kosong, dalam waktu bersamaan memberikan assist ataupun membuat tendangan ke arah gawang menjadi keahlian Neymar. 

Baik di klubnya Barcelona ataupun PSG, Neymar menjadi pemain kunci permainan. Keberadaannya dalam tim seolah menjadi kartu as. Pilihan terbaik bagi Lang, Akanji, Elvedi, Rodriquez, untuk mengamankan pertahanannya adalah bermain disiplin menjaga wilayah. Terpancing sedikit untuk memberikan pengawalan ketat pada Neymar jr ataupun mengikuti alur permainan Coutinho justru akan membuka celah pertahanannya. Dua pemain Brasil (Neymar-Coutinho) saat ini menjadi salah satu tandem terbaik gelandang serang.

Jadwal pertandingan

Kesebelasan Brasil akan mengawali pertandingan fase grup E melawan Swiss di Rostov Arena, Roston on Don, Minggu (17/6) pukul 21.00 waktu setempat atau Senin (18/6) pukul 01.00 WIB.

Perkiraan susunan pemain:

Brasil (4-3-3) : Alisson (gk), Danilo, Silva, Luis, Marcelo, Willian/Fernandinho, Casemiro, Coutinho, Firmino, Jesus/Costa, Neymar. | pelatih: Tite

Swiss (4-2-3-1): Sommer (gk) Lang, Akanji, Elvedi, Rodriquez, Fernandes/Behrami, Xhaka, Frei/Embolo, Dzemaili, Zuber/Shaqiri, Gabranovic/Seferovic | pelatih: Vladimir Petković 

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home