Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 21:32 WIB | Kamis, 02 Agustus 2018

Pemerintah Dukung Penuh Sektor Otomotif

Presiden memeriksa mobil dalam acara Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) ke-26 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (2/8). (Foto: Humas/Agung/Setkab)

BANTEN, SATUHARAPAN.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa salah satu yang harus diwaspadai adalah risiko jangka pendek pada siklus otomotif dan mungkin sudah mulai memuncak terutama di pasar-pasar besar seperti Amerika dan Tiongkok.

“Ini juga harus dilihat. Tentunya kita semuanya sangat paham bahwa industri otomotif itu ada siklusnya, dan siklusnya sangat peka terhadap siklus ekonomi yang ada,” ujar Presiden saat membuka acara Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) ke-26 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis (2/8).

Kepala Negara mengungkapkan bahwa banyak peneliti mulai bilang jumlah penjualan mobil di Amerika mungkin sudah setinggi-tingginya, sudah mentok, dan sulit untuk naik lagi. Ia menambahkan bahwa beberapa tahun ke depan justru kemungkinan besar akan mulai menurun.

“Jadi kita harus siap menghadapi kondisi-kondisi ini, kalau siklus otomotif dunia mengalami penurunan dalam tahun-tahun mendatang. Tetapi kita juga masih optimis bahwa pasar kita adalah juga pasar besar,” ujar Presiden Jokowi.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden selalu menyampaikan kepada industri otomotif agar terus didorong untuk pasar-pasar ekspor, apalagi peran industri otomotif dalam ekonomi sekarang sudah besar sekali. “Dengan posisi sektor nomor dua terbesar dalam industri pengolahan dan masuk 5 besar sumber investasi dalam sektor industri,” kata Presiden ke-7 Republik Indonesia (RI).

Untuk itu, Presiden menegaskan bahwa Pemerintah akan terus all out untuk membantu dan mendukung industri otomotif. “Dan pemerintah juga sedang menyiapkan berbagai insentif yang nanti bisa diberikan kepada industri otomotif, seperti tax holiday dan tax allowance, serta yang sedang dalam kajian adalah super deduction,” tambah Presiden.

Mengenai super deduction, Presiden menyampaikan bahwa caranya yakni biaya perusahaan untuk kegiatan-kegiatan seperti pelatihan vokasi bisa dipotong 200% dari penghasilan yang kena pajak (PKP).

“Ini akan gede sekali, tapi ini masih dalam kajian di Menteri Keuangan. Namun industri otomotif itu sendiri juga harus rajin keluar dari zona nyaman. Hati-hati kita ini kadang-kadang kalau sudah masuk zona nyaman itu keluarnya sulit,” tandas Kepala Negara seraya mengingatkan agar semua pelaku untuk terus dinamis, bekerja keras untuk meneruskan, dan menerapkan inovasi-inovasi yang diperlukan.

Inovasi AMMDes

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyambut baik inovasi Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) yang merupakan satu jenis kendaraan, tapi kaitannya dengan industri hulunya sangat banyak. Lebih lanjut, Presiden mengaku telah mendapat laporan bahwa lebih dari 70 industri komponen dalam negeri siap menjadi pemasok komponen AMMDes ini.

“Saya juga sangat senang bahwa industri otomotif kita bertumbuh baik, sudah mencapai eskpor 231 ribu unit CBU, 8,1 juta bisnis komponen otomotif di tahun 2017 yang lalu. Sehingga industri otomotif sekarang menduduki peringkat nomor empat dari top 25 sektor ekspor non migas kita di periode Januari sampai Juni 2018, dengan nilai 3,45 miliar dolar AS,” tambah Presiden.

Hal terakhir yang disampaikan, Presiden menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sangat butuh implementasi biodiesel B20, sampai ke segala sektor termasuk di luar kendaraan konsumen.

“Saya minta bantuan semua pihak untuk mendukung penuh ini supaya subtitusi biodiesel produksi lokal bisa kita jalankan semaksimal mungkin. Saat ini kita tahu semuanya kita, negara, butuh dolar, kita perlu dolar,” sambung Presiden.

Dengan asumsi harga minyak mentah (crude oil) itu 70 dolar per barel dan dengan asumsi meningkatkan penyerapan biodiesel, Presiden mengaku telah menghitung dan penggunaan B20 akan mengangkat harga minyak sawit (cpo) naik 100 dolar per ton.

Kalau Indonesia bisa implementasi itu, Presiden meyakini bahwa negara akan menghemat devisa sebesar 5,9 miliar dolar AS, hampir 6 miliar dolar AS, sehingga penting untuk konsentrasi ke situ.

“Dan proses ini akan saya ikuti terus, karena biasanya kita ini kalau sudah rapat, ‘iya, iya, iya, iya,’ tapi keluar dari rapat lupa semuanya. Sekarang saya ikuti terus. Dengan angka yang hampir 6 miliar dolar AS lebih, akan menyelesaikan defisit neraca transaksi berjalan kita,” janji Presiden.

Di akhir sambutan, Presiden minta kesungguhan dan keseriusan semua pihak untuk membantu implementasi kebijakan biodiesel B20 ini. “Brazil tahun 1970 sudah bisa implementasi kendaraan 100% bioetanol yang dibuat dari produk lokal gula tebu, masak kita yang punya produksi sawit jutaan ton tidak bisa menyelesaikan ini,” kata Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara kali ini, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo. (Setkab)

 

Editor : Melki Pangaribuan


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home