Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Natanael Setiadi 22:20 WIB | Selasa, 09 April 2019

Pemilih Cerdas, Pemilu Berkualitas

Dari kiri ke kanan: Erwindo Parulian, James Arifin Sianipar, S. Maeda Yoppy Nababan, Jan Pieter Pangaribuan, Putra Nababan, Rian Ernest

SATUHARAPAN.COM – ”Kami sudah siap untuk mengikuti pemilihan presiden, tapi tidak tahu siapa yang harus kami pilih di pemilihan legislatif. Kami tidak kenal caleg yang ada,” kata seorang ibu.

Pertanyaan itu dilontarkan dalam suatu Seminar Kebangsaan bertajuk ”Indonesia Rumah Kita: Cerdas Memilih untuk Masa Depan Bangsa” yang diselenggarakan oleh BPMK GKI Klasis Jakarta Timur bekerja sama dengan Gerakan Kebangsaan Indonesaia, pada Sabtu, 16 Maret 2019 lalu, bertempat di GKI Kayu Putih.

Pernyataan ibu tersebut, tampaknya mewakili kegelisahan hati banyak warga jemaat. Sebagian besar dari mereka sudah siap untuk mengikuti pilpres, namun belum cukup siap mengikuti pileg. Lagi-lagi karena belum mengenal para caleg yang ada. Belum lagi, ada ketidakpercayaan terhadap anggota legislatif sehubungan dengan kasus hukum dugaan korupsi yang sedang ditangani oleh KPK.

Di sisi lain, sejumlah caleg coba mendatangi gereja untuk mendapat ruang berkenalan dengan warga jemaat. Hanya saja, gereja merupakan tempat yang netral, tidak boleh digunakan sebagai sarana kampanye. Ini menjadi kebingungan sekaligus kecanggungan bagi pimpinan gereja untuk memberi ruang bagi para caleg memperkenalkan dirinya kepada warga jemaat.

Gereja tentu perlu menghindarkan diri untuk tidak terjebak pada politik praktis, dalam pengertian dukung-mendukung calon tertentu. Menariknya, gereja tidak bisa menghindarkan diri dari politik, sebab politik sesungguhnya adalah soal kehidupan sehari-hari. Di situlah terbuka ruang bagi gereja untuk mengupayakan pendidikan politik bagi warga jemaat.

Situasi itulah yang ditangkap oleh Gerakan Kebangsaan Indonesia menyambut Pemilu 2019 mendatang dengan menyelenggarakan Bincang-bincang Cerdas: Pemilih Cerdas, Pemilu Berkualitas,” pada Kamis, 4 April 2019 bertempat di Gedung Pertemuan Tobasa, Pulogadung, Jakarta Timur.

”Acara ini terselenggara dengan 3 modal: panggilan hati, nekat dan persahabatan,” kata Pdt. Natanael Setiadi, Sekretaris Gerakan Kebangsaan Indonesia, saat membuka acara.

Pdt. Adi—demikian dia biasa dipanggil—menjelaskan dalam sambutannya, ”Disebut panggilan hati, karena ada kebutuhan warga masyarakat untuk mengenali para caleg. Kami juga nekat menyelenggarakan acara ini, karena kami (Gerakan Kebangsaan Indonesia) baru memiliki kontak dua caleg saja. Padahal, idealnya caleg yang hadir bisa banyak dari sejumlah parpol nasionalis. Nah, lewat persahabatan, didapatlah kontak ke beberapa caleg lainnya untuk diundang hadir dalam acara ini. Berawal dari dua caleg, kini yang hadir di tengah kita ada delapan caleg.”

Malam itu, turut hadir Prof. Dr. H. Jimly Asshiddique, S.H, calon DPD RI dari propinsi DKI Jakarta. ”Saya mengajukan diri untuk menjadi DPD untuk memperbaiki sistem sebagaimana mestinya. Saat ini, DPD mengalami parpolisasi, yakni dimasuki orang dari partai politik. Padahal, DPD adalah perwakilan daerah,” papar Jimly.

Berkait dengan berita mengenai dirinya, sebagaimana ditanyakan Tya selaku salah satu moderator, Jimly menambahkan, ”Oh, yang kemarin-kemarin itu ya? Saya disebut-sebut mendukung salah satu capres. Padahal sebagai calon DPD saya harus tampil nonpartisan, netral. Tapi begini. Saya adalah orang pertama yang pernah menyatakan bahwa Jokowi akan dua periode. Ini dikarenakan sistem politik di Indonesia belum melembaga. Karena itu, kita akan melihat nanti apakah dugaan saya ini benar atau tidak. Tapi sekali lagi, sebagai calon DPD, saya netral. Tidak memihak. Di sisi lain, saya punya relasi yang baik dengan semua parpol. Jadi, jika terpilih kelak, lebih mudah melakukan mediasi.”

Seusai Jimly mengundurkan diri dari acara, moderator membacakan tata tertib acara yang menggunakan format seperti ”Debat Capres”. Erwindo Parulian (caleg PSI untuk DPRD DKI Jakarta dapil 4) mendapat kesempatan pertama memaparkan visi-misinya. ”Saya ingin Jakarta yang lebih baik, birokrasi yang profesional. Saya ingin menghidupkan kembali RPTRA di mana di dalamnya ada kursus gratis,” katanya.

Lain lagi dengan visi-misi dari James Arifin Sianipar (caleg Partai Nasdem untuk DPRD DKI Jakarta dapil 4, yang juga petahana). ”Saya ingin tempat-tempat ibadah di kota ini bisa nyaman untuk kebaktian. Apalagi kita sudah punya zonasi, termasuk zonasi rumah ibadah,” paparnya lugas.

Caleg ketiga yang berkesempatan memaparkan visi-misinya adalah Jan Pieter Pangaribuan (caleg Partai Golkar untuk DPRD DKI Jakarta dapil 4), yang sudah 30 tahun lebih mengabdi di Kementerian Dalam Negeri. ”Saya fokus membangun semangat kebangsaan. Saya ingin DKI Jakarta menjadi kota yang nyaman untuk dihuni, tidak hanya aman,” jelasnya.

Ada yang segar dalam acara di malam itu, yakni dengan hadirnya caleg perempuan dalam diri S. Maeda Yoppy Nababan (caleg PDIP untuk DPRD DKI Jakarta dapil 4). Panitia sudah berusaha mengundang caleg perempuan lainnya, seperti Wanda Hamidah (caleg Partai Nasdem untuk DPR RI dapil 1) dan Susana Suryani Sarumaha (calon DPD RI dari propinsi DKI Jakarta), namun keduanya berhalangan hadir.

Sdri. Maeda berkata, ”Sejak tahun 1998 saya sudah menjadi aktivis, saat reformasi. Dan terus bekerja memberikan advokasi. Sehingga turut menginspirasi pembuatan film Ruma Maida. Saya ingin mendirikan lebih banyak rusun untuk orang miskin di DKI.”

Caleg DPRD DKI Jakarta sedapil lainnya, Sdr. Ariston Silalahi (dari Partai Gerindra) sempat hadir pada malam itu. Namun, dia menyampaikan permohonan maaf tidak bisa turut serta dalam perbincangan karena menjadi tuan rumah kebaktian rumah tangga yang diselenggarakan oleh gerejanya (HKBP Kayu Putih).

Acara Bincang-bincang Cerdas menjadi semakin menarik, tatkala panitia juga berhasil menghadirkan dua caleg DPR RI. Putra Nababan (caleg PDIP untuk DPR RI dapil 1) mendapat kesempatan pertama menyampaikan visi-misinya.

”Saya adalah anak wartawan. Sejak kecil saya ingin menjadi wartawan dan kesampean. Saya punya pengalaman di redaksi selama 30 tahun. Seusai saya lepas dari itu, saya lantas berpikir apa yang akan saya kerjakan kemudian. Sebelumnya, saya berkali-kali diminta untuk menjadi caleg. Berkali-kali saya menghindar. Baru pada permintaan yang keempat di tahun 2018, saya bersedia. Sebagai seorang Kristen, ada panggilan untuk bertugas di garda terdepan untuk membangun bangsa, sebab negara ini didirikan oleh perjuangan orang Kristen juga. Sebagai caleg, saya mendukung Presiden Jokowi dan program nawacitanya,” katanya.

Sesi pertama ditutup oleh pemaparan visi-misi dari Sdr. Rian Ernest Tanudjaja (caleg PSI untuk DPR RI dapil 1). ”Umur saya 31 tahun. Saya mulai bekerja di kantor konsultan hukum. Namun pengalaman pengabdian saya dimulai saat saya menjadi staf ahli BTP. Saya sering membawa dokumen untuk KPK dan melihat aparat kepolisian yang harus didukung. Saya ingin memperjuangkan kesejahteraan kepolisian, agar ada dana operasional yang cukup. Rotasi jabatan harus jelas, dengan sistem meritokrasi. Siapa yang kompeten dia yang naik. Juga saya akan mendorong untuk meninjau ulang peraturan bersama menteri mengenai pendirian rumah ibadah,” papar pria blasteran Jerman-Tionghoa ini.

Waktu 3 menit yang diberikan oleh panitia, dimanfaatkan betul oleh setiap caleg guna menjelaskan visi-misinya. Sesi kedua lantas dilanjutkan dengan pertanyaan dari moderator untuk mengelaborasi pendapat dan respons para caleg terhadap beberapa isu publik yang muncul, seperti: ”Survei Setara Institute pada akhir 2018, menempatkan Propinsi DKI Jakarta pada nomor ketiga sebagai propinsi yang intoleran. Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki kondisi ini?”

Setiap caleg memiliki jawaban yang beragam sebagai solusi atas kondisi yang tengah terjadi pasca-Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lalu. Khusus untuk caleg DPR RI, Pdt. Adi—yang merangkap sebagai moderator—bertanya, ”DPR RI dikategorikan sebagai salah satu lembaga negara yang memiliki tingkat kepuasan yang rendah (dikarenakan anggota dewan yang tersangkut kasus korupsi, tidur/terlambat datang rapat, pencapaian target Program Legislasi Nasional/Prolegnas yang sangat minim). Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki hal ini?” Para caleg diberi waktu dua menit untuk menjawab pertanyaan di sesi kedua ini.

”Seharusnya tidak perlu dua menit untuk menjawab pertanyaan ini. Jika PDIP tidak dicurangi oleh parpol lain dalam beberapa pemilu sejak 1999 dengan tidak diberi kursi Ketua DPR, hal yang ditanyakan tadi tidak akan terjadi. Kami, jika diberi kesempatan, akan membawa perubahan pada DPR RI,” tegas Putra Nababan.

Lain lagi jawaban Rian Ernest. ”Kami di PSI, sudah mengembangkan aplikasi yang turut dikembangkan oleh pengembang aplikasi Qlue. Setiap kami rapat, harus ada live-streaming. Kalau fraksi kami nanti melihat ada anggota yang tidak aktif aplikasinya, akan ada sanksi yang tegas dari partai,” katanya.

Para peserta tampak antusias untuk menyampaikan pertanyaan pada sesi ketiga. Ada tiga penanya yang sempat melontarkan pertanyaan, yakni: Ibu Sisca Rumondor, Bpk. Panjaitan dan Sdr. Widodo. Pada sesi ini, setiap caleg mendapat waktu enam menit untuk menjawab ketiga penanya. Setiap caleg memanfaatkan waktu dengan baik untuk menjelaskan apa yang menjadi gagasan mereka jika terpilih kelak, sekaligus meyakinkan peserta untuk tidak golput dalam Pemilu mendatang.

”Jika umumnya, masyarakat atau sebuah komunitas meminta uang atau bantuan material dari caleg yang berkunjung, maka kami sebagai penyelenggara menolak bantuan material dari caleg dalam penyelenggaraan acara ini untuk menjaga netralitas acara ini. Malah, kami yang akan memberikan cindera mata sebagai ungkapan terima kasih kehadiran mereka dalam acara kami,” papar Pdt. Adi di pengujung acara yang dihadiri sekitar 170 peserta ini.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home