Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Melki Pangaribuan 12:18 WIB | Kamis, 21 Februari 2019

Pemimpin Baru Venezuela Diproyeksi Dorong Reformasi Pasar

Pemimpin oposisi dan Presiden sementara Venezuela, Juan Guaido (kiri) dan Presiden Nicolas Maduro.(Foto: VOA)

VENEZUELA, SATUHARAPAN.COM - Perekonomian Venezuela yang kaya minyak dan di ambang kehancuran mungkin memudahkan pemimpin-pemimpin oposisi untuk mengubah kebijakan-kebijakan sosialis yang dibuat oleh mantan presiden Hugo Chavez, jika mereka mampu membuat pengganti Chavez – Presiden Nicolas Maduro – mundur dari kekuasaan.

Wartawan VOA, Brian Padden, melaporkan dengan hilangnya kredibilitas model pembangunan negara sosialis itu, kepemimpinan baru Venezuela yang berkoalisi dengan Amerika diperkirakan akan mendorong reformasi pasar yang kuat.

Dalam lima tahun terakhir ini, perekonomian Venezuela telah menyusut hampir separuhnya. Hiperinflasi membuat harga barang naik tiga kali lipat setiap bulan dan mendorong jutaan warga lari ke luar negeri untuk keluar dari kemiskinan. Kelangkaan makanan dan obat-obatan yang luar biasa tidak dapat lagi diatasi oleh program-program bagi warga miskin yang disubdisi pemerintahan mantan presiden Hugo Chavez dan dilanjutkan oleh penggantinya, Nicolas Maduro.

Semakin meningkatnya ketidakpuasan, bahkan diantara pendukung “Chavista,” telah meningkatkan harapan warga Venezuela untuk siap melakukan perubahan.

Hiperinflasi setiap bulan mendorong jutaan Venezuela warga lari ke luar negeri, terutama ke Kolombia, untuk berusaha keluar dari kemiskinan (foto: dok).

Dany Bahar di Brookings Institution mengatakan, “Karena warga Venezuela telah sangat menderita, mereka bersedia memberikan kesempatan pada pemimpin baru untuk melakukan semua perubahan ini.”

Ini jika upaya mendorong agar Maduro mengundurkan diri yang dipimpin oleh kelompok oposisi, yang dilarang mengikuti pemilu tahun lalu, berhasil. Amerika dan sekitar 50 negara lain telah mengakui Presiden Majelis Nasional Venezuela Juan Guaido sebagai pemimpin sementara negara itu.

Pemerintah Venezuela di Caracas, yang berafiliasi dengan Amerika, tampaknya akan menerima bantuan internasional yang diblokir oleh Maduro. Juga bantuan pinjaman, dengan imbalan privatisasi industri-industri milik negara dan pemangkasan subsidi pemerintah.

Mengatasi inflasi dengan memangkas program-program sosial dan mengendalikan harga akan menjadi prioritas utama, langkah yang oleh sejumlah ekonom dinilai akan benar-benar membantu warga miskin, dengan membiarkan pasar bebas bekerja.

Monica de Bolle di Peterson Institute for International Economics mengatakan, “Begitu bergerak dari inflasi sangat tinggi ke inflasi rendah, hal pertama yang terlihat adalah pengurangan angka kemiskinan secara dramatis.”

Privatisasi perusahaan minyak dan gas milik pemerintah Venezuela, PDVSA, dapat meningkatkan dengan pesat pendapatan, terutama setelah Amerika mengurangi sanksi-sanksi terhadap industri minyak. Perusahaan-perusahaan itu mengalami penurunan produksi hingga dua per tiga dalam sepuluh tahun terakhir ini karena hancurnya infrastruktur dan mismanajemen.

“Hal-hal ini pada dasarnya dapat diselesaikan dengan relatif cepat sehingga Venezuela dapat memulai kembali produksi minyaknya atau setidaknya sebagian produksi minyaknya,” tambah Monica de Bolle seperti diberitakan VOA Indonesia, Kamis (21/2).

Pemerintah mendatang di Caracas tampaknya akan berupaya merestrukturisasi utang-utangnya pada para kreditor, seperti China dan Rusia, dan mengakhiri pengiriman sekitar 50.000 barel minyak secara cuma-cuma ke Kuba, sekutu utama Maduro, setiap hari.

 

Editor : Melki Pangaribuan

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home