Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 03:41 WIB | Senin, 16 April 2018

Pemimpin yang Berempati

ā€¯Hanya ada dua cara untuk mempengaruhi perilaku orang: memanipulasinya atau menginspirasinyaā€¯ (Simon Sinek)
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – ”Siapakah yang punya bos seperti saya yang selalu membuat saya merasa bersalah kalau  tak mengikuti keinginannya? Jika kebetulan banyak pekerjaan yang harus dilemburkan dan saya dengan sopan menolak karena ada tugas penting keluarga yang harus saya selesaikan, pasti saya akan pulang dengan rasa bersalah yang ia munculkan dalam diri saya:  ’Anda tidak bersedia berkorban bagi kepentingan perusahaan. Anda kurang kemauan untuk mengembangkan diri. Seharusnya Anda setiap saat siap untuk lembur karena ’kan Anda tahu bekerja di kantor seperti ini selalu ada kemungkinan pekerjaan datang mendadak. Anda meninggalkan saya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan Anda?’ Dan macam-macam lagi.  Jika ada kesalahan bawahan yang muncul dalam email, maka tanpa ragu email tersebut akan diteruskan kepada sebanyak-banyaknya orang.”

Cerita macam di atas kita dengar, kita baca, dan mungkin membuat kita terheran-heran, tetapi bisa juga membuat kita mengangguk tanda setuju: ”Bosku pun demikian!” Tampaknya kisah tadi bukan hal yang jarang ditemui. Nyatanya survei membuktikan bahwa sekitar separuh manajer di dunia ini adalah manajer yang tidak memiliki empati. Tidak matang secara kecerdasan emosinya. Jelas, dia bos yang memanipulasi perasaan dengan tujuan mempengaruhi, namun gagal menginspirasi.

Memang ada orang yang sesungguhnya baik, namun karena kurang mampu menunjukkan empati,  hanya sanggup atau justru gemar menunjukkan kelemahan orang lain. Padahal kecerdasan emosi sering dipercaya sebagai unsur utama keberhasilan tiap orang, apalagi seorang pemimpin.  Seorang kawan menyampaikan bahwa jika ia memberi pengarahan kepada bawahannya, maka hal yang salahlah yang dikoreksinya. ”’Kan memang tugas kita membuat ia bekerja benar,” begitu kilahnya. Bukan empati yang ditunjukkan melainkan mencari kesalahan. Kecerdasan emosinya dangkal.

Gaya kepemimpinan seperti itu, mungkin cocok untuk  zaman baby boomers. Mungkin masih bisa sedikit berlaku bagi pekerja generasi X. Namun, bagi generasi Y, jangan coba-coba menggunakan siasat ”menimbulkan rasa bersalah untuk menghasilkan prestasi”.

Generasi Y atau generasi milennial, tahu persis apa yang mereka mau: mereka mau memberi dampak. Mereka mau hidupnya  berarti. Bukan karena mereka sangat berbeda dalam jiwa memberi dan melayani  dibanding generasi sebelumnya sehingga punya dorongan lebih kuat untuk membuat orang lain berbahagia, namun lebih pada kepuasan diri bahwa ”sesuatu yang baik telah aku kerjakan”, ”aku bisa melakukan hal hebat”, ”aku bisa mengubah dunia dengan mengubah diri sendiri”.  

Menumbuhkan rasa bersalah pada pekerja generasi milennial hanya akan membuat mereka terdemotivasi dan tak akan berkeinginan menghasilkan prestasi tinggi. ”Toh apa pun yang diperbuat akan dipersalahkan.” ”Aku bekerja baik pun setiap saat berisiko terima surat peringatan.”  Kemungkinan besar dibarengi dengan mengirimkan surat lamaran ke perusahaan lain, dan segera cari bos lain.

Karena itu, pekerja millennial membutuhkan pemimpin yang berempati. Pimpinan yang memahami apa yang mereka butuhkan dan harapkan. Bukan dengan tujuan memanjakan mereka dengan memenuhi semua yang mereka inginkan, namun dengan menyelaraskannya dengan apa yang dibutuhkan oleh perusahaan.  

Di tingkat paling dasar, penting bagi siapa pun juga untuk merasa bahwa apa yang dikerjakannya dihargai orang lain. Perasaan berguna bagi orang lain, akan membuat orang jadi berani untuk  mengulangi keberhasilan, bahkan meningkatkannya. Dan semua itu bisa ditumbuhkan oleh seorang pemimpin yang berempati, yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi.  

”Saya sama sekali tak berharga jika sendiri. Keberhasilan saya sepenuhnya tergantung pada mereka yang bekerja bersama saya. Dan adalah tanggung jawab saya untuk melihat mereka bekerja dengan kapasitas maksimal,” demikian Simon Sinek sang pakar motivasi.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home