Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 17:32 WIB | Senin, 15 Januari 2018

Pemkab Asmat Bentuk Tim Tangani Wabah Campak-Gizi Buruk

Tim Terpadu Pemkab Asmat melakukan pelayanan pemberian imunisasi, pengobatan campak, pemberian vitamin dan makanan tambahan di Distrik Pulau Tiga (Kampung As dan Atat) belum lama ini. (Foto: Antara/Humas Pemkab Asmat.)

TIMIKA, SATUHARAPAN.COM - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asmat, Provinsi Papua telah membentuk tim untuk menangani wabah campak dan kasus gizi buruk yang semakin meluas di wilayah itu dalam beberapa bulan terakhir.

Kabag Humas Pemkab Asmat M Reza A Baadila yang dihubungi Antara dari Timika, hari Senin (15/1), mengatakan tim yang melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah setempat itu akan terjun ke 23 distrik (kecamatan) yang mencakup 224 kampung (desa) untuk melakukan pencegahan penularan wabah campak yang lebih besar lagi.

"Tim besar ini mulai bertugas sejak hari ini, Senin (15/1) sebagaimana hasil rapat bersama pada Minggu (14/1)," ujar Reza.

Reza menerangkan bahwa awalnya wilayah Asmat mengalami peningkatan kasus campak sejak September 2017.

Menyikapi hal itu, Dinkes Asmat melalui berbagai Puskesmas melakukan kegiatan pengobatan (program Puskesmas Keliling).

Adapun RSUD Asmat sejak September-11 Januari 2018 dilaporkan telah merawat ratusan pasien yang terkena penyakit campak dimana 393 orang diantaranya menjalani rawat jalan dan 175 orang diantaranya terpaksa harus menjalani rawat inap.

"Kendala yang kami hadapi, tidak semua wilayah bisa terjangkau. Mobilitas masyarakat juga sangat tinggi, tidak setiap saat mereka berada di kampung karena sering pergi ke hutan dan tinggal berpindah-pindah," jelas Reza.

Disamping itu, keterbatasan tenaga medis dan paramedis di Puskesmas dan Pustu juga menjadi kendala utama dalam melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Asmat yang pemukimannya terpencar-pencar di wilayah pesisir laut dan sungai.

Mengingat kasus wabah campak terus meluas di seluruh Asmat, maka pada Senin (8/1) malam lalu, Bupati Asmat Elisa Kambu langsung memimpin rapat untuk menyikapi secara serius permasalahan tersebut.

Rapat saat itu menyepakati membentuk empat tim untuk segera turun ke lapangan dalam rangka melakukan pencegahan dan pengobatan penyakit campak serta pemberian makanan tambahan bagi balita dan anak-anak.

Empat tim tersebut langsung bergerak ke Distrik Pulau Tiga, Distrik Sawa Erma, Distrik Suator, Distrik Akat, Distrik Sirets, Distrik Jetsy, Distrik Kolf dan wilayah-wilayah lainnya seperti Kota Agats pada 9 Januari.

Di Kampung Nakai, Distrik Pulau Tiga, tim Pemkab Asmat menemukan satu pasien balita yang terserang campak dan langsung dievakuasi ke RSUD Asmat untuk menjalani perawatan.

Di kampung itu, dilaporkan terdapat dua warga meninggal dunia.

Kasus campak di Distrik Pulau Tiga dilaporkan cukup banyak. Khusus di Kampung Yamas dan Yeni, warga yang terserang campak dilaporkan masing-masing berjumlah satu orang.

Adapun di Distrik Suator dilaporkan mengalami puncak kasus campak pada bulan September-Oktober 2017. Tim tidak banyak menemukan pasien campak di wilayah itu karena sebagian besar sudah sembuh. Juga dilaporkan tidak ada kasus kematian akibat campak di wilayah Distrik Suator.

Sementara di Distrik Sawa Erma, pihak Puskesmas setempat melaporkan terdapat 39 pasien terserang campak pada Desember 2017 dan tidak ada warga yang meninggal.

Sedangkan di wilayah Tomor tidak ada temuan lagi kasus campak semenjak awal Januari 2018.

Tim yang mengunjungi Distrik Akat menemukan ada tiga anak dirawat karena terserang campak. Selama periode Oktober-Desember 2017, terdapat 37 orang yang dirawat di Puskesmas Akat karena terserang campak.

Di Kampung Yousakor, Distrik Sirets, pada Desember 2017 dilaporkan terdapat 11 warga terserang campak dan tiga orang mengalami gizi buruk.

Sementara tim yang bergerak di wilayah Kota Agats (ibu kota Kabupaten Asmat) menemukan 12 kasus campak dan tujuh kasus gizi buruk.

Semua tim yang ditugaskan ke berbagai distrik tersebut langsung menggelar rapat sekembalinya ke Agats pada Selasa (9/1) malam.

Dalam rapat itu juga terungkap ada laporan kematian 13 warga di wilayah Kappi, As dan Atat.

"Rapat malam itu memutuskan bahwa empat tim melanjutkan kegiatan ke tempat-tempat yang sudah diperkirakan kasus campaknya meluas. Tim harus berada di tempat pelayan selama tiga hari untuk melakukan pengobatan," ujar Reza.

Terkait wabah campak yang meluas di Kabupaten Asmat itu, Bupati Elisa Kambu memerintahkan seluruh jajaran agar segera menuntaskan masalah tersebut dan dampak-dampak lainnya seperti gizi buruk di seluruh Asmat dalam bulan Januari hingga Februari mendatang.

Pengobatan

Menindaklanjuti perintah Bupati Asmat tersebut, tim yang sudah dibentuk langsung bergerak ke berbagai titik sasaran untuk melakukan pengobatan dan imunisasi serta pemberian vitamin A dan makanan tambahan bagi balita.

Di Distrik Suator dan Kolf Braza, tim melakukan pelayanan kesehatan di sembilan kampung dengan jumlah warga yang terlayani sebanyak 933 anak. Kasus campak hanya ditemukan di wilayah Waganu I (tiga pasien) dan lima orang lainnya dinyatakan suspek campak.

Sementara di Distrik Fayit dan Aswi, tim melakukan pelayanan di 16 kampung, dengan jumlah warga yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 1.724 orang, 407 orang diantaranya merupakan anak-anak.

Di lokasi itu ditemukan 101 anak terserang campak, tujuh anak mengalami gizi buruk dan dilaporkan terdapat 22 warga meninggal dunia (satu orang meninggal karena gizi buruk dan sisanya karena terserang campak).

Adapun di Kampung Nakai, Distrik Pulau Tiga, ditemukan 63 anak terserang campak, 101 orang diberikan vaksinasi dan empat anak dirujuk ke RSUD Asmat untuk menjalani perawatan lanjutan. Di kampung itu dilaporkan terdapat empat anak meninggal akibat terserang campak.

Sementara di Kampung Ao, tim memberikan vaksinasi kepada 93 nak. Tidak ada laporan kasus gizi buruk maupun warga yang meninggal di kampung itu.

Sedangkan di Kampung Kappi, tiga anak yang terserang campak langsung diberikan pengobatan, 105 anak diberikan vaksinasi dan dua orang anak dilaporkan meninggal akibat terserang campak.

Tim juga melayani pengobatan bagi 28 anak yang terserang campa di Kampung As, pemberian vaksinasi bagi 71 orang anak. Di kampung itu, dilaporkan terdapat delapan anak yang meninggal akibat terserang campak, dan satu anak mengalami kasus gizi buruk.

Sementara di Kampung Atat, terdapat 53 anak mendapat pengobatan akibat terserang campak, 108 anak diberikan vaksinasi.

Jumlah warga (anak-anak) yang meninggal akibat terserang campak di Kampung Atat dilaporkan sebanyak 23 orang dan dua orang mengalami kasus gizi buruk.

Tim Pemkab Asmat juga melakukan kegiatan pelayanan serupa di beberapa distrik lain seperti di Distrik Jetsy dan Distrik Sirets.

Di Distrik Jetsy, terdapat 320 anak yang mendapat layanan kesehatan, sebanyak 112 orang diantaranya terserang penyakit campak. Mereka tersebar pada empat kampung.

Adapun di Distrik Sirets, tim melakukan pelayanan pada lima kampung dengan total warga yang terlayani sebanyak 732 anak, 108 orang diantaranya terserang penyakit campak.

Hingga kini Pemkab Asmat masih melakukan pendataan resmi berapa banyak warga yang meninggal akibat wabah penyakit campak dan kasus gizi buruk di wilayah itu.

"Laporan jumlah warga yang meninggal masih dikarifikasi," kata Reza. 

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home