Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 09:10 WIB | Kamis, 04 Oktober 2018

Pemprov Jabar Akan Fasilitasi Petani dan Peternak Berdagang Online

Gubernur Jabar Ridwan Kamil. (Foto: Dok satuharapan.com/Twitter)

BANDUNG, SATUHARAPAN.COM – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan akan memberikan fasilitas aplikasi perdagangan daring (online) untuk petani, termasuk nelayan, petambak, dan peternak di Jabar.

Dengan menggunakan aplikasi yang dikolaborasikan dengan sejumlah aplikasi perdagangan terkenal tersebut, mereka dapat menjual hasil panen langsung.

“Kita juga sudah menitipkan program perdagangan digital buat petani. Jadi nanti petani bisa jual beras online, peternak bisa jual sapi secara online, petambak ikan bisa jual ikan online,” kata Emil, panggilan akrabnya, seusai memimpin rapat pimpinan di Gedung Sate, Selasa (2/10), seperti dilansir situs resmi jabarprov.go.id.

Upaya itu, katanya, untuk memotong mata rantai perdagangan konvensional yang selama ini membuat petani tradisional tidak kunjung sejahtera. Setelah diteliti, ternyata cara berdagang mereka masih menggunakan cara lama yang memiliki rantai perdagangan yang panjang.

Emil mengatakan sistem perdagangan digital ini akan menggandeng sejumlah perusahaan aplikasi dagang online yang sudah terkenal di Indonesia. Dengan demikian, di tangan para profesional, produk-produk pangan segar ini terpasarkan dengan maksimal.

“Nanti ini akan merevolusi keuntungan bagi petani, peternak, petambak, dan nelayan juga. Kira-kira begitu. Sistem perdagangannya sedang disiapkan, jadi nanti kerja sama dengan Tokopedia atau Bukalapak, namun jualannya produk-produk pertanian,” kata Emil.

Produk-produk tersebut, katanya, akan dijual dalam bentuk paket. Bisa saja koperasi pun ikut serta dalam perdagangan digital ini, asalkan bisa melayani pengiriman paket dalam jumlah kecil, seperti beras dua kilogram dan lainnya.

Percontohan program ini akan dilaksanakan terhadap kawasan pertanian di Kabupaten Tasikmalaya untuk pemasaran sayur secara digital, produk perikanan di Cirebon, dan produk peternakan di Ciamis.

“Kita ingin agar sistem konvensional dengan tengkulak itu bergeser ke digital. Tengkulak boleh beli dari digital tidak masalah, yang penting petani jangan dibatasi hanya dibeli tengkulak. Hasil petani bisa dibeli langsung oleh istri saya di Bandung,” ia mencontohkan.

Emil menjelaskan sudah mencoba program tersebut saat bertugas sebagai Wali Kota Bandung. Dengan cara itu, biaya yang akan dikeluarkan hanya ongkos kirim.

Editor : Sotyati

Back to Home