Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 21:15 WIB | Kamis, 18 Juli 2019

Penampilan Kethoprak Tuna Netra dalam Pasar Rakyat Kampung Terban

Penampilan Kethoprak Tuna Netra dalam Pasar Rakyat Kampung Terban
Penampilan kelompok jathilan Turonggo Bekso Code Laras di depan Pasar Terban-Gondokusuman dalam Pasar Rakyat Kampung Terban FKY 2019, Sabtu (13/7) sore. (Foto-foto: official dok. Panitia FKY 2019)
Penampilan Kethoprak Tuna Netra dalam Pasar Rakyat Kampung Terban
Keroncong Purbo Rahayu Kelurahan Terban-Gondokusuman.
Penampilan Kethoprak Tuna Netra dalam Pasar Rakyat Kampung Terban
Penampilan kethoprak tuna netra Distra Budaya dalam Perta Rakyat Kampung Terban 2019.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Hari Sabtu (13/7) sore, Pasar Terban menjadi titik yang dipilih untuk menyelenggarakan salah satu agenda acara Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019. Dalam program bertajuk “Pasar Rakyat Kampung Terban”, warga Kelurahan Terban Kecamatan Gondokusuman-Yogyakarta menampilkan berbagai potensi kesenian dan budaya.

Masyarakat sangat antusias. Dari sore hingga acara ditutup, yaitu sekitar pukul 22.30 WIB, warga sekitar maupun pengunjung lainnya memenuhi halaman depan Pasar Terban untuk menonton gelaran di kampung urban itu. Seluruh kelompok usia menampilkan berbagai kesenian yang dikembangkan di Kelurahan Terban. Misalnya, dari kelompok anak-anak menampilkan tari kreasi “Tlatah Bocah Kali Belik”, kelompok remaja menampilkan kesenian jathilan, dan kelompok dewasa-orang tua menampilkan macapat.

Kampung Terban dipilih karena kampung ini dinilai paling siap dengan potensi kesenian dan budayanya, dan merupakan kampung budaya di tengah kota. Harapannya, FKY 2019 dapat menjadi ruang untuk memaksimalkan potensi seni dan budaya, khususnya untuk warga Terban.

Lurah Terban, Anif Luhur Kurniawan menjelaskan kelompok-kelompok kesenian yang tampil dipersiapkan hanya selama satu bulan sebab mereka sudah terbiasa tampil dan melakukan latihan rutin.

“Setiap kelurahan memiliki ciri khas masing-masing. Dari Kelurahan Terban kesenian yang paling kuat adalah jathilanJathilan kami pernah tampil di Taman Mini Indonesia Indah,” jelas Anif Luhur Kurniawan.

Anif berharap melalui gelaran kesenian ini masyarakat dapat lebih peduli dan tergerak untuk melestarikan budaya Jawa.

Acara ini dibuka dengan kirab dari Bregodo Purbonegoro dan dilanjutkan dengan penampilan tari jathilan kelompok Turonggo Bekso Code Laras yang dilakukan para pemuda, lalu kelompok Hadroh Nababa al-Hidayah yang beranggotakan ibu-ibu. Setelah magrib, penonton diajak berdendang bersama Keroncong Purbo Rahayu yang membawakan lagu-lagu keroncong standar Indonesia dilanjutkan dengan penampilan anak-remaja yang menampilkan tari kreasi dan tari klasik Angujiwat dari Sanggar Sekar Parijhoto.

Program Pasar Rakyat Kampung Terban FKY 2019 ditutup dengan penampilan istimewa dari kethoprak tuna netra Distra Budaya milik Yayasan Mardi Wuto. Nama “Distra Budaya” merupakan singkatan dari disabilitas tuna netra nguri-uri budaya. Kelompok ini didirikan pada tahun 2002 atas prakarsa Harjito dan beranggotakan para penyandang tuna netra yang ada di wilayah Yogyakarta.

“Kami menampilkan lakon berjudul Lambang Sari Edan. Cerita ini mengenai seseorang yang ingin merebut istri seorang penguasa. Inspirasi cerita ini saya dapatkan dari kisah Kerajaan Kediri,” jelas penggagas cerita Getir.

Seluruh persiapan, mulai dari latihan ketoprak, busana, make up, dan musik, mereka lakukan secara mandiri. Ketika berdandan pun mereka hanya diarahkan dan melakukan segala persiapan dengan tangan mereka sendiri. Peralatan musik yang mereka gunakan pada penampilan kali ini pun sederhana, yaitu alu dan lesung padi, kendhang, dan gendang paralon.

Editor : Sotyati

Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home