Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 13:16 WIB | Kamis, 05 April 2018

Penari Gandrung Banyuwangi Pentas di Dasar Laut

Ilustrasi. Tari Gandrung Banyuwangi, dalam Underwater Festival dipentaskan di dasar laut. (Foto: Radio Bintang Tenggara Banyuwangi)

BANYUWANGI, SATUHARAPAN.COM – Atraksi menarik ditampilkan dalam Underwater Festival di Banyuwangi. Sebanyak 23 penari Gandrung dan pemusiknya menggelar pentas tari bawah laut di perairan Bangsring, Banyuwangi, Rabu (4/4/2018).

Di kawasan wisata bahari Bangsring Underwater, para penari Gandrung mengenakan kostum yang cukup unik di pantai Bangsring. Mengenakan ornamen Gandrung, seperti omprok, selendang, kipas tangan, kaus kaki, dan perlengkapan gandrung lain, namun para penari memakai peralatan selam lengkap dengan tabung oksigen di punggung.

Seusai Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang membuka festival tersebut, mengenakan omprok (mahkota penari Gandrung) ke salah satu penari, mereka pun langsung menyelam menuju panggung pentas di kedalaman 10 meter. Agar tak merusak terumbu karang, alas pentas menggunakan anyaman bambu.

Sebanyak 12 penari, delapan pembawa umbul-umbul, dan tiga pemusik gandrung pun langsung melakukan atraksi tari. Para penari terlihat melenggak-lenggok di kedalaman laut dengan latar belakang terumbu karang, mengikuti irama dari pemusik yang membawa kenong dan gong. Beberapa kali terlihat ikan berenang di sekitar para penari.

“Ini adalah pengalaman pertama saya menari gandrung, dan langsung di dasar laut, lagi. Mendebarkan, tapi pengalaman yang keren ini,” kata Mega Zalzalah (20), salah satu penari asal Banyuwangi seusai menyelam.

Mega mengaku berlatih selama dua bulan bersama teman-temannya menyiapkan acara itu. Satu bulan pertama digelar di darat untuk menyesuaikan gerakan, karena tidak semua peserta adalah penari gandrung. Satu bulan berikutnya mulai berlatih di kolam untuk penyesuaian dengan kondisi laut. Untuk pelatihan di dasar laut, digelar selama dua hari.

“Saat menari di dalam laut tadi, tantangannya lumayan juga. Harus berjuang melawan arus laut, karena massa tubuh kita lebih ringan saat di dalam air. Jadi selain diberi sabuk pemberat, harus bisa mengatur pernapasan agar badan bisa stabil dan tidak terangkat. Tapi seru, saya bangga bisa terlibat,” ujar Mega.

Penari Mahasiswa Universitas Brawijaya

Sepuluh menit menari di dasar laut, mereka pun satu persatu naik ke permukaan. Saat mereka semua muncul, penonton yang berada di rumah apung langsung bertepuk tangan gemuruh. Penonton terlihat lega melihat para penari berhasil menjalankan tugasnya.

Salah satu peserta yang juga terlihat lega adalah Fathur Rayyan. Menurut Fathur, bukanlah hal mudah untuk menari di dasar laut apalagi mengenakan kostum lengkap gandrung. Menurutnya, yang paling sulit adalah menyesuaikan keseimbangan.

“Agar seimbang selendang diberi pemberat timah. Properti tari dimodifikasi agar bisa digunakan di dalam laut. Kipas dikaitkan ke rompi selam. Omprok dimodifikasi menggunakan bahan kedap air agar tidak rusak di dalam air. Jadi persiapannya memang khusus,” ia menjelaskan.

Para penari dan pemusik ini merupakan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang, yang memiliki sertifikasi diving. Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) tersebut, sebelumnya pernah mengadakan penelitian di kawasan Bangsring.

“Kami diajak pengelola di sini untuk terlibat, langsung kami iyakan. Semoga ada lagi moment seperti ini,” Mega berharap.

Dalam Underwater Festival tersebut, selain atraksi Gandrung Bawah Laut juga digelar “Nemo Dancing” (pengamatan ikan Nemo selama 48 jam), tari gandrung di dasar laut, pelatihan produk olahan ikan, dan edukasi bahari kepada 250 pelajar Banyuwangi. 

Sementara itu Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar mengatakan, “Ini merupakan cara kreatif nelayan-nelayan Bangsring untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Tidak hanya menggelar event semata, namun mereka juga menyisipkan edukasi bahari kepada kita,” kata Bupati Banyuwangi, saat membuka acara tersebut.

Anas mengatakan nelayan-nelayan Bangsring terus menunjukkan perilaku positif untuk mengembangkan daerahnya. Ini adalah bentuk partisipasi rakyat dalam memajukan daerah. “Mereka mengerjakan dengan kreatif. Kini banyak wisatawan khususnya anak-anak akhirnya memilih laut sebagai pilihan berliburan. Dan syukur di Bangsring, mereka tidak hanya bisa bermain, namun ada sisi edukatif juga di sini,” kata Anas. (banyuwangikab.go.id)

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home