Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Melki Pangaribuan 13:00 WIB | Senin, 05 Desember 2016

Pence Bandingkan Telepon Antara Trump-Taiwan dan Obama-Kuba

Presiden terpilih AS Donald Trump tiba untuk menghadiri pesta kostum bertema "Penjahat dan Pahlawan" pada 3 Desember 2016 di Long Island, New York, yang kabarnya dijamu oleh sebagian donatur terbesarnya. (Foto: Eduardo Munoz Alvarez /AFP)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM - Tim Donald Trump mengecilkan signifikansi pembicaraan telepon presiden terpilih Amerika Serikat (AS) itu dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, di mana Amerika tidak memiliki hubungan diplomatik resmi sejak tahun 1979.

“Ini (pembicaraan telepon antara Trump dan Presiden Taiwan) hanya courtesy call,” kata wakil presiden terpilih Mike Pence dalam program televisi ABC 'This Week', hari Minggu (4/12).

“Sedikit menakjubkan bagi saya ketika pembicaraan telepon Presiden Obama dan tokoh diktator pembunuh di Kuba tahun lalu dipuji dan membuatnya sebagai pahlawan karena melakukan hal itu, sementara presiden terpilih Donald Trump menjawab courtesy call dari pemimpin yang terpilih secara demokratis di Taiwan menjadi suatu kontroversi,” kata Pence.

Pesan yang dipasang Trump di akun Twitter-nya hari Jumat (1/12), yang mengumumkan pembicaraan telepon yang dilakukannya dengan Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, menuai pertanyaan soal apakah ia berniat mengubah kebijakan lama Amerika atas Tiongkok – yang dikenal sebagai kebijakan “Satu Tiongkok” - yang tidak mencakup pengakuan resmi apapun terhadap Taiwan.

Tetapi – meskipun mengatakan bahwa kontroversi itu terlalu dibesar-besarkan – Pence tidak menyangkal niat Trump untuk bersikap lebih tegas terhadap Tiongkok dalam bidang perdagangan dan isu-isu lain.

“Trump akan memperjuangkan lapangan kerja bagi warga Amerika, dan kita tidak akan membiarkan lapangan kerja itu lari ke Tiongkok atau negara-negara lain,” kata wakil presiden terpilih itu.

Sebelumnya, Trump bersikap terang-terangan tentang Tiongkok selama kampanye pemilu lalu.

“Kita memiliki defisit perdagangan dengan Tiongkok hingga 500 miliar dolar,” kataTrump bulan Mei lalu ketika berupaya memenangkan nominasi calon presiden Partai Republik.

“Kita tidak bisa membiarkan Tiongkok merampok negara kita, dan itu yang selama ini mereka lakukan. Ini merupakan pencurian terbesar dalam sejarah dunia,” dia menegaskan.

Sejauh ini Tiongkok menahan diri untuk tidak menanggapi pembicaraan telepon antara Trump dan Tsai. “Itu hanya permainan Taiwan”, kata Menteri Urusan Luar Negeri Tiongkok Wang Yi.

Dia menambahkan, “hal ini tidak akan mengubah landasan kebijakan internasional Satu Tiongkok. Hal ini tidak akan mengubah kebijakan Satu Tiongkok yang telah diterapkan Amerika selama bertahun-tahun”.

Meskipun tidak memiliki hubungan resmi, AS dan Taiwan telah bekerja sama dalam bidang militer selama puluhan tahun. Apakah Trump berniat memperluas batas-batas hubungan itu sebagai bagian dari janjinya untuk bersikap lebih tegas terhadap Tiongkok, tampaknya masih merupakan misteri hingga ia memangku jabatan secara resmi Januari mendatang. (VOA)

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja