Google+
Loading...
HAM
Penulis: Wim Goissler 09:46 WIB | Jumat, 04 Agustus 2017

Pendeta Benny Giay: Di Papua Aparat Menyembah Pemodal

Pdt Benny Giay (Foto: bbc.com)

JAYAPURA, SATUHARAPAN.COM- Dalam pesan pastoral kepada jemaatnya, Ketua Sinode Gereja KINGMI di Tanah Papua, Pdt Benny Giay, mengatakan jemaat di Deiyai banyak yang berpendapat bahwa yang menjadi penguasa di wilayah mereka bukan Bupati melainkan aparat keamanan.

Pada saat yang sama, ia menilai, aparat keamanan lebih mengutamakan kepentingan pemilik modal yang hadir di Papua lewat perusahaan-perusahaan mereka. Mereka "siap amankan kepentingan" para pemodal, bahkan "menyembah" mereka.
 
Surat pastoral itu diterbitkan setelah terjadinya penembakan oleh aparat terhadap warga sipil di Deiyai, Papua, yang menewaskan satu orang dan melukai beberapa orang lainnya.

Menurut keterangan saksi mata, seorang warga Deiyai bernama Ravianus Douw (24) tenggelam pada 2 Agustus 2017 sekitar pukul 16:30 di kali Oneibo, Tigi Selatan. Korban berhasil diselamatkan oleh warga setempat dalam kondisi kritis. Warga setempat kemudian memohon bantuan kendaraan kepada pihak perusahaan Putra Dewa Paniai yang sedang membangun jembatan kali Oneibo untuk membawanya ke RSUD Deiyai tetapi ditolak. 

Akhirnya warga yang kritis itu dibawa ke RS memakai kendaraan lain yang baru diperoleh setelah cukup lama.

Ketika tiba di rumah sakit, Ravianus tidak tertolong lagi. Diperkirakan lambatnya penganan medis yang disebabkan oleh jarak dan waktu membuat korban tidak terselamatkan. 

Hal ini telah memicu kemarahan warga kepada pihak perusahaan. Warga sekitar mengamuk dan melampiaskannya dengan  membongkar camp perusahaan.

Untuk menghadapi amuk massa, pasukan bersenjata lengkap dari satuan Brimob Polres Paniai,  turun ke lokasi dan melakukan penembakan. Pihak keamanan mengatakan mereka menembakkan peluru karet, namun keluarga korban dan sejumlah saksi mengatakan  para korban terkena peluru besi.

Dalam pesan pastoralnya yang cukup panjang, Pdt Benny Giay mengurai berbagai faktor yang menyebabkan pelanggaran HAM seperti yang terjadi di Deiyai selalu berulang. Tidak ada faktor tunggal, berbagai pihak, termasuk gereja, turut andil.

Pdt Benny Giay mengemukakan sorotan sangat tajam terhadap aparat pemerintah baik sipil maupun militer, yang ia nilai selalu 'tiarap' ketika hal-hal seperti ini terjadi.

Ia mengulang lagi contoh-contoh, seperti kisah  100 lebih balita yang meninggal di Distrik Tigi Barat. "Pelayanan kesehatan masyarakat tidak jalan. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Prov Papua, semua kebijakan tidak jalan, walaupun sudah ada juklak dan juknis. Puskesmas tidak berjalan. Kepala Dinas Kesehatan juga tidak laksanakan tugas. Menurut warga, ini protes ke Dance Takimai, Bupati Deiyai juga tidak pernah masuk kantor sejak dilantik di Jayapura beberapa tahun lalu. Dia habiskan hari-harinya di tempat lain. Sekarang sibuk untuk maju lagi." 

"Ada pejabat yang memperkirakan Bupati Deiyai hanya masuk kantor 30  hari sejak dilantik sebagai Bupati Deiyai."
 
Fenomena seperti ini, menurut Pdt Benny Giay, tidak asing di Papua.

"Dari sisi performa Bupati Deiyai ini, yang tidak pernah masuk kantor ini memang bukan baru. Bupati Paniai sebelum Henky Kayame yang memang warga Gereja KINGMI juga lakukan lakukan hal yang sama. Dia menurut Kapolres Paniai pada waktu itu, hanya masuk kantor di Enarotali hanya 40 hari."

Lebih mengenaskan lagi, kata Pdt Benny, Kapolres Paniai kala itu pernah berkata, "Sayalah Bupati Paniai."

"Kalau begitu, siapa yang Bupati di Deiyai, selama 5 tahun terakhir ini? Menurut jemaat, 'Aparat Keamanan yang dibayar oleh PT tertentu,'” tulis Pdt Benny Giay.  

Menurut Pdt Benny Giay, seperti halnya banyak gereja di Papua yang hanya menyembah ajaran Gereja yang mati, kaku berorientasi ke dunia batin, para pejabat elit dan TNI POLRI juga sedang menyembah sesuatu yang lain yang tidak relevan dengan kehidupan masyarakat Papua. Yang mereka sembah, menurut dia, adalah para pemilik modal, seraya ia menyebut nama sebuah PT yang menjadi obyek protes rakyat Deiyai.

"Perhatikan dalam sejumlah insiden  yang disebutkan di atas. Para Bupati, SKPD, Calon Bupati, dll, aparat Keamanan hari ini tiarap, sembah sujud “Pak Dewa”. Siap amankan kepentingannya; melayani nafsu sang “putra dewa” di Meuwo.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home