Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Wim Goissler 12:10 WIB | Kamis, 06 Juli 2017

Pendeta Obed Moses Terpilih Jadi Presiden Vanuatu

Pendeta Tallis Obed Moses (Foto: Ist)

PORT VILA, SATUHARAPAN.COM - Seorang pendeta gereja Presbiterian, Pendeta Tallis Obed Moses, terpilih sebagai presiden baru Vanuatu, menggantikan Baldwin Lonsdale, yang juga seorang pendeta, yang meninggal dunia mendadak akibat serangan jantung beberapa waktu lalu.

Moses terpilih setelah pemilihan berlangsung tiga putaran, mengalahkan 16 kandidat lainnya. Ia terpilih setelah meraih dua pertiga dari seluruh suara, yang diharuskan oleh sistem pemilihan presiden Vanuatu. Sore ini (06/07) ia akan dilantik dalam sebuah upacara sederhana di Port Vila, ibukota negara itu.

Direktur media Vanuatu Daily Post, Dan McGarry, yang berada di gedung parlemen melaporkan peristiwa ini, seperti dikutip dari radionz.co.nz.

McGarry mengatakan bahwa presiden baru tersebut adalah seorang tokoh Vanuatu yang mendapat pendidikan di Australia dan Papua Nugini dan pernah menjabat sebagai moderamen Gereja Presbyterian di Vanuatu.

"Dia juga banyak dianggap sebagai seseorang yang memiliki karakter moral tanpa cela dan saya pikir pada akhirnya adalah faktor penentu saat orang mempertimbangkan warisan mendiang presiden Baldwin Lonsdale saat mereka memberikan suara mereka," kata dia.

Obed Moses berasal dari Pulau Ambrym di Provinsi Malampa. Dia merupakan pendeta jemaat di Padon Memorial Church (PMC) di Port Vila.

Obed Moses menjadi pemimpin pertama dari Provinsi Malampa yang memegang jabatan Kepala Negara Republik Vanuatu.

Sebagai catatan presiden adalah jabatan seremonial di Vanuatu sedangkan pemerintahan dijalankan oleh perdana menteri.

Dalam sistem pemilihan presiden di Vanuatu, yang berhak memberikan suara adalah semua anggota parlemen dan ketua dewan provinsi. Pemilihan dapat berlangsung hingga beberapa putaran sampai ada kandidat yang memperoleh dua pertiga suara.

Perkembangan politik di Vanuatu penting diamati karena peranan negara ini cukup menentukan dalam pertarungan diplomasi antara Indonesia dan kelompok-kelompok yang menyerukan penentuan nasib sendiri di Papua.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home