Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 08:30 WIB | Rabu, 10 Oktober 2018

Peneliti BMKG Usulkan Ibu Kota Sulteng Dipindah

Ilustrasi. Foto udara kawasan tanah bergerak (likuifaksi) yang terjadi akibat gempa bumi berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018 di Palu Selatan, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018).(Foto: Antaranews.com/Irwansyah Putra)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Peneliti gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr Muzli, mengusulkan agar ibu kota Sulawesi Tengah dipindah dari Palu ke tempat lain, mengingat daerah tersebut rawan gempa.

"Kalau melihat Palu, wilayahnya riskan sekali. Kalau bisa dipindah, karena di samping penuh garis patahan, juga ada di atas endapan sedimen berupa batuan lunak yang tebal,“ kata Muzli yang saat ini menjadi peneliti tamu di Earth Observatory of Singapore kepada Antara di Jakarta, Selasa (9/10).

Muzli mengatakan, Palu berada di garis sesar Palu Koro, yang merupakan patahan aktif yang memanjang sekitar 500 kilometer mulai dari Selat Makassar sampai Pantai Utara Teluk Bone.

Selain itu, wilayah Palu merupakan area batuan lunak yang bisa dilihat secara kasat mata melalui Google Map, dan bisa diketahui seberapa tebalnya endapan sedimen tersebut.

"Warnanya putih kalau dilihat dari Google Map, itu juga menunjukkan topografinya rendah."

Bahayanya, endapan sedimen tebal membuat rentan terjadinya likuifaksi atau pencairan tanah.

“Likuifaksi terjadi, karena Palu merupakan daerah batuan lunak atau sedimen. Jadi ketika gempa terjadi, menyebabkan permukaan tanah retak dan menyebabkan air permukaan bercampur dengan endapan sedimen, yang kemudian menjadi lumpur," katanya.

Kebetulan sedimen mudah sekali bercampur dengan air, dan tanah di bagian bawah yang keras menjadi landasan tergelincirnya sedimen yang bercampur air. Ditambah lagi gaya gravitasi  menyebabkan tanah seakan bergerak.

Menurut Muzli, di Lombok juga terjadi likuifaksi namun tidak terjadi dalam skala besar seperti di Palu. Hal tersebut dikarenakan endapan sedimen tidak setebal di Palu.

Jika terjadi gempa di daerah yang memiliki endapan sedimen tebal, maka tinggi gelombang atau amplitudo gempa mengalami pembesaran dan kompensasinya kecepatan gelombang gempa menjadi rendah. Sementara di daerah tanah keras, jika terjadi gempa maka menyebabkan amplitudo gempa kecil dan kecepatan gempa menjadi besar.

"Untuk bangunan, lebih aman di tanah yang keras dibandingkan di daerah dengan endapan sedimen yang tebal."

Menurut dia, endapan sedimen yang tebal di Palu tersebut  juga menyebabkan banyaknya bangunan yang rusak pascagempa berkekuatan 7,4 SR yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu. (Antaranews.com)

 

Back to Home