Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:05 WIB | Senin, 18 Juni 2018

Peneliti IPB: Ekosistem Terumbu Karang Indonesia Merosot

Ilustrasi. Terumbu karang dan ekosistem laut yang masih terjaga di Taman Laut Olele, Kecamatan Kabila Bone, Gorontalo. (Foto: nasional.tempo.co/Antara/Adiwinata Solihin)

BOGOR, SATUHARAPAN.COM – Dr Hawis Maddupa, peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (ITK FPIK IPB), mengatakan pentingnya mempelajari metode dalam pendataan ikan di terumbu karang.

Hal itu ia sampaikan di hadapan mahasiswa FPIK IPB, dalam Fish Survey Method Workshop yang digelar oleh Fisheries Diving Club (FDC) di Ruang Serba Guna Ilmu dan Teknologi Kelautan (RSG ITK), Kampus IPB Dramaga (10/5). Seminar itu digelar untuk meningkatkan keilmuan di bidang kelautan dan mengidentifikasi biota khususnya di terumbu karang.

“Perkembangan ekosistem terumbu karang terus mengalami kemorosotan dan degradasi, sehingga memerlukan pemantauan. Pemantauan tersebut berguna untuk mengetahui tindakan yang harus dilakukan dalam upaya penyelamatan ikan,” katanya.

Menurut Pembina FDC IPB ini, pemantauan ikan di terumbu karang sering dilakukan oleh FDC FPIK IPB. Metode dalam pendataan ikan dikategorikan menjadi dua yaitu spot survey dan fish transect. Dalam spot survey dilakukan pemantauan dari satu spot tertentu. Sementara itu fish transects dibagi lagi menjadi dua yaitu belt transect dengan menggunakan roll meter dan time restricted transects yang dibatasi oleh waktu.

Pendataan ikan di terumbu karang, umumnya membutuhkan waktu pengerjaan selama satu sampai dua jam. Jumlah surveyor disesuaikan dengan kebutuhan. Umumnya, pendataan ikan membutuhkan dua orang untuk mendata ikan besar dan kecil.

Stereo video, merupakan salah satu teknologi yang berkembang akhir-akhir ini dan sering dimanfaatkan dalam pendataan ikan di terumbu karang. Penggunaan stereo video ini memiliki kelebihan yaitu dapat memantau secara langsung dan cepat serta dapat mendeteksi biomassa dan ukuran ikan.

“Sejak 1999, saya sudah mulai melakukan survei. Saat itu saya masih aktif di FDC FPIK IPB. Ada pengalaman menarik saat survei seperti di Teluk Jakarta dan di Raja Ampat. Di Teluk Jakarta kita harus melakukan usaha ekstra karena perairannya memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi. Sementara itu Raja Ampat memiliki laut yang masih kaya akan ikan sehingga kami dapat menjumpai ikan yang jarang ditemui,” kata Dr Hawis.

Sementara itu, menurut Siti Khodijah, selaku Ketua Pelaksana mengatakan bahwa workshop ini dapat digunakan sebagai ajang pembelajaran bagi scientific diver, khususnya anggota internal FDC FPIK IPB untuk melakukan pendataan ikan di terumbu karang.

“Peserta yang hadir dilatih juga untuk melakukan identifikasi ikan termasuk ke dalam fase juvenil atau dewasa. Peserta juga diajak untuk mengenali jenis-jenis ikan yang penting di terumbu karang,” katanya. (Antaranews.com)

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home