Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Prasasta Widiadi 19:34 WIB | Kamis, 04 Februari 2016

Peneliti Rumah Kitab Investigasi Kampung Halaman Pelaku Bom Sarinah

Peneliti Yayasan Rumah Kitab Jamaluddin Mohammad (kiri) dan Pendiri Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla (kanan) pada Diskusi bertajuk “Menelusuri Genealogi Ideologi Radikalisme ‘Kelompok Sarinah’–Sebuah Kajian Awal”, di Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan, Jl. Cikini Raya No. 43, Jakarta Pusat, hari Kamis (4/2). (Foto: Prasasta WIdiadi).

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Peneliti dari Yayasan Rumah Kita Bersama (Rumah Kitab), Jamaluddin Mohammad, atau yang biasa disapa Gus Jamal, menceritakan pada pertengahan Januari 2016 dia melakukan investigasi ke wilayah tempat para pelaku bom Sarinah, Jakarta, yakni di Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Subang, Jawa Barat. 

“Saat saya tiba di Desa Sukahaji (Kabupaten Subang, red) saya berkenalan dengan  Hakim, Kepala Desa  Sukahaji, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang. Kemudian Hakim  menceritakan tentang keseharian  Azan (Ahmad Muhazan, pelaku terorisme di Sarinah, Januari 2016, red) yang pernah  belajar di Pondok Pesantren Miftahul Huda (Kabupaten Subang, red),” kata Jamaluddin kepada para hadirin dalam Diskusi bertajuk “Menelusuri Genealogi Ideologi Radikalisme ‘Kelompok Sarinah’, Sebuah Kajian Awal”, di Kantor Yayasan Indonesia untuk Kemanusiaan, Jl. Cikini Raya No. 43,  Jakarta Pusat, hari Kamis (4/2).

Jamaludin – berdasar  percakapannya dengan Hakim – mengatakan mantan pelaku aksi terorisme di Indonesia, Noordin M. Top, pernah belajar di pesantren tersebut 

Penelusuran Jamaluddin tidak hanya di Kabupaten Subang, namun dia berpindah ke Kabupaten Indramayu hingga dia bertemu dengan Maemunah (ibunda Azan), dan Saroni (ayahanda Azan) di sebuah rumah  di RT 4 RW 1 Desa Kedungwungu, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

“Azan adalah anak keempat dari lima bersaudara. Ibunya adalah seorang aktivis pengajian ibu-ibu, untuk menghidupi keluarganya ia membuka warung kecil di rumahnya,” kata Jamaluddin berdasar keterangan kedua orang tuanya.

Jamaluddin menceritakan Azan menyelesaikan semua pendidikan  di Desa Kedungwungu mulai dari sekolah dasar, kemudian melanjutkan di sebuah madrasah tsanawiyah selama hampir tiga tahun, namun Azan tidak menamatkan madrasah aliyah.

“Pada 2006 Azan diajak pamannya dan kakak iparnya melanjutkan ke Pesantren Miftahul Huda di Kampung Bungur, Sukahaji, Ciasem, Kabupaten Subang,” kata dia.

Jamaludin melanjutkan ceritanya, di Pesantren Miftahul Huda, Azan menikah dengan Putri, salah seorang santriwati asal Jawa Tengah. Setelah belajar di pondok pesantren di Subang, Jawa Barat tersebut, Azan berjualan Kebab Turki di Cikampek, Jawa Barat, kemudian merantau ke Jakarta mengikuti kakak iparnya, Syamsuddin, berjualan ban bekas di Klender, Jakarta Timur.

Jamaludin mengemukakan berdasar keterangan salah satu kerabat Azan yang menolak disebut namanya, setelah selesai belajar agama di Subang (Pesantren Miftahul Huda, red) perilaku Azan mulai berubah, karena tidak mau salat berjamaah di musala kampungnya.

“Azan lebih senang mendengarkan pidato-pidato melalui audio box dan suka sekali memakai topi pejuang Afganistan dan romi JAT (Jamaah Anshoru Tauhid). Ia sering membawa istrinya yang bercadar itu pulang kampung,” kata Jamaluddin dengan berdasar keterangan salah satu kerabat Azan.    

Jamaludin mengemukakan selain Pesantren Miftahul Huda, di Desa Sarimulya-Rangdu, Kabupaten Subang, ada pesantren lain yang terkenal radikal. Jamaludin menjelaskan bahwa Afif, pelaku teror Sarinah berasal dari pondok pesantren tersebut.

Jamaludin mengemukakan di pesantren  inilah Azan berkenalan dengan beberapa pelaku teror Sarinah lainnya, Dian Juni Kurniadi, Muhammad Ali, dan Afif.   

Yayasan Rumah Kitab

Yayasan Rumah Kita Bersama (Rumah Kitab), seperti diberitakan situs resmi mereka rumahkitab.com merupakan lembaga penelitian  untuk memproduksi pemikiran-pemikiran kritis tentang keislaman Indonesia dan perubahan-perubahan sosial yang berpihak pada kaum marjinal dengan berbasis pada riset transformatif dan mengadvokasikannya kepada pengambil kebijakan.

Yayasan ini mengembangkan pesantren berbasis komunitas sebagai pembelajaran dan wahana pengembangan pemikiran-pemikiran kritis tentang Islam untuk perubahan, dan melakukan kaderisasi tentang pemikiran Islam kritis.

Berdasar pemberitaan satuharapan.com, hari Sabtu (16/1), empat dari tujuh korban meninggal dunia diduga merupakan pelaku teror bom  di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat pada hari Kamis (14/1).

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya Kombes Polisi Musyafak menjelaskan  ledakan di pos polisi Sarinah, ada tiga korban teridentifikasi diantaranya korban pertama bernama Rico yang teridentifikasi dari sidik jari secara otentik, lalu yang kedua bernama Sugito teridentifikasi berdasarkan sidik jari, kemudian ketiga bernama Dian Joni Kurniadi teridentifikasi dengan sidik jari.

Lalu korban yang meninggal di halaman gerai kopi ada tiga juga, yaitu Muhammad Ali teridentifikasi berdasarkan sidik jari, Afif alias Sunakin teridentifikasi dengan sidik jari juga, kemudian Amir Fuali Taher warga negara Kanada teridentifikasi dengan sidik jari dari paspornya.

Korban yang terakhir berada di dalam gerai kopi, hanya satu orang, bernama Ahmad Muhazan bin Saron dengan kondisi perut dan bagian dada hancur, teridentifikasi berdasarkan sidik jari.

Ketujuh korban ledakan tersebut merupakan korban meninggal yang berada di lokasi ledakan. Tim Kedokteran Kepolisian sampai saat ini masih terus melaksanakan pengambilan sampel darah dari pihak keluarga.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home