Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:52 WIB | Sabtu, 01 Juni 2019

Penemuan Spesies Baru Keong Darat dari Jawa

Peneliti Ayu Savitri Nurinsiyah dari LIPI bersama Marco Neiber dan Bernhard Hausdorf (Centrum für Naturkunde/CeNak, Universität Hamburg, Jerman), berhasil menemukan spesies baru keong darat dari Jawa. (Foto: lipi.go.id/Tedi Setiadi)

CIBINONG, SATUHARAPAN.COM – Indonesia kembali menambah daftar panjang keanekaragaman hayati. Peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ayu Savitri Nurinsiyah, bersama Marco Neiber dan Bernhard Hausdorf (Centrum für Naturkunde/CeNak, Universität Hamburg, Jerman), berhasil menemukan spesies baru keong darat.

Penemuan tersebut dipublikasikan dalam “Revision of the land snail genus Landouria Godwin-Austen, 1918 (Gastropoda, Camaenidae) from Java“ yang diterbitkan oleh European Journal of Taxonomy edisi Mei 2019.

Terdapat 16 spesies baru keong darat yang berhasil ditemukan oleh ketiga malacologist (peneliti moluska) tersebut.

Mereka melakukan penelitian berdasarkan investigasi terhadap keong Landouria dari hasil koleksi langsung di Jawa maupun yang tersimpan di berbagai museum dunia seperti Natural History Museum of London (Inggris), Naturalis Biodiversity Center (Belanda), Senckenberg Museum of Frankfurt (Jerman), Zoological Museum of the University of Hamburg (Jerman), dan Museum Zoologicum Bogoriense (Indonesia).

“Dalam melakukan revisi sistematika, penelitian ini menerapkan pendekatan integratif yang menggabungkan pemeriksaan morfologi cangkang, karakter genitalia, dan DNA,” kata Ayu, seperti dilansir situs resmi lipi.go.id, pada Jumat (31/5).

Ayu menjelaskan, hasil penelitian mengungkapkan bahwa Landouria merupakan keong darat yang memiliki keanekaragaman spesies tinggi di Jawa.

“Dari enam spesies Landouria yang diungkap oleh van Benthem Jutting (1950) dan satu spesies oleh Bunjamin Dharma (2015), kami berhasil mendeskripsi kembali 28 spesies di Jawa, 16 di antaranya adalah spesies baru dalam ilmu pengetahuan,” katanya.

Keenambelas spesies tersebut di antaranya adalah Landouria parahyangensis, yang dinamakan berdasarkan area sebaran spesies tersebut yaitu di tanah Sunda (Parahyangan).

Sementara Landouria petrukensis diberi nama Petruk, karena hanya ditemukan di kawasan Gua Petruk, Kebumen. “Sedangkan Landouria abdidalem terinspirasi dari abdi dalem Kraton Yogyakarta di mana spesies tersebut ditemukan di Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata  Ayu.

Sementara spesies-spesies lain masing-masing diberi nama Landouria naggsi, Landouria nusakambangensis, Landouria tholiformis, Landouria tonywhitteni, Landouria madurensis, Landouria sewuensis, Landouria sukoliloensis, Landouria nodifera, Landouria pacitanensis, Landouria zonifera, Landouria pakidulan, Landouria dharmai, dan Landouria menorehensis.

Menurut Ayu, sebagian besar Landouria adalah hewan endemik atau hanya memiliki sebaran di daerah-daerah tertentu di Jawa. “Keanekaragaman spesies Landouria tertinggi sebanyak 19 spesies terdapat di dataran rendah di bawah 500 m dpl (meter di atas permukaan air laut, Red). Keragaman tersebut berkurang dengan meningkatnya ketinggian,” kata  Ayu.

Ia  menjelaskan, hanya lima spesies yang tercatat berada pada ketinggian di atas 1000 m dpl, dan hanya 2 spesies yang diketahui memiliki sebaran hingga ketinggian di atas 2.000 m dpl. “Karena sebaran yang terbatas inilah, hewan endemik seperti Landouria sangat rentan terhadap ancaman kepunahan.”

Ayu mengungkapkan, perubahan dan kehilangan habitat merupakan salah satu contoh ancaman yang sedang dihadapi oleh Landouria di Jawa. “Oleh karena itu, konservasi dan pengungkapan keanekaragaman hayati Indonesia sangat penting dan mendesak untuk dilakukan,” katanya.

         

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home