Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 11:54 WIB | Jumat, 01 Maret 2019

Pengembangan UKM, Potensi Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi. Salah satu produk unggulan UKM, kerajinan khas Dayak. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Revolusi industri generasi keempat atau Revolusi Industri 4.0 memunculkan berbagai tantangan baru bagi masyarakat, pebisnis, industri, dan pemerintah dari berbagai negara. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki peran sangat strategis dalam memfasilitasi berjalannya revolusi industri, khususnya dalam mendorong pengembangan usaha kecil menengah (UKM) yang berbasis kepada pasar kreatif dan industri lokal.

“ Indonesia memiliki karakter dan kekayaan sumber daya tersendiri, modal inilah yang dapat menjadi dasar menentukan posisi Indonesia dalam percaturan dunia ke depan,” kata Plt Kepala Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen IPTEKIN (P2 KMIptekin), Dudi Hidayat, seperti dilansir situs lipi.go.id, 25 Februari 2019.

Peneliti P2 KMIptekin LIPI, Trina Fizzanty, menjelaskan kondisi Indonesia dalam awal era Revolusi Industri 4.0. “Indonesia memiliki bonus demografi dan dengan profil penduduk pengguna internet yang mencapai 54,68 persen, yaitu 143 juta dari total 243 juta penduduk,” ia menjelaskan saat hadir dalam seminar “Designing A Strategic Development Framework And Articulating Industry 4.0 in Indonesia” di Jakarta, pada Kamis (21/2).

Trina menambahkan, beberapa kota di Indonesia sudah mulai dengan smart city seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar. “Selain mulai munculnya keberadaan smart city, start up unicorn di Indonesia saat ini sebanyak empat perusahaan dan semuanya merupakan service industry,” ia menambahkan.

Senior Advisor dari Science Technology and Innovation Policy Institute (STIPI) Thailand, Jeong Hyop Lee, dalam paparannya menilai Indonesia dan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara sebenarnya sudah seharusnya dapat mempersiapkan berbagai kebijakan dan pengembangan inovasi dalam iptek yang lebih komprehensif.

“Indonesia tidak boleh tertinggal dari negara Jerman, Tiongkok, dan Thailand dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Indonesia harus siap menghadapinya dengan mengelola potensi yang dimiliki,” katanya.

 

Back to Home