Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Sotyati 18:40 WIB | Kamis, 13 November 2014

Penghargaan: Irma Hardisurya Buka Jalan Jurnalisme Mode

Irma Hardisurya. (Foto: Dok jakartafashionweek.co.id)

SATUHARAPAN.COM – Pergelaran Jakarta Fashion Week 2015 telah usai. Namun, perhelatan mode akbar yang digelar 1 - 7 November itu menyisakan banyak catatan penting. Salah satu di antaranya, pada penyelenggaraan awal November lalu ditandai dengan pemberian penghargaan kepada Irma Hardisurya.

Jakarta Fashion Week (JFW), platform penggerak industri mode Indonesia, memberikan penghargaan “Apresiasi Khusus Persembahan Jakarta Fashion Week untuk Irma Hardisurya atas Prakarsa dan Dedikasi Mengembangkan Jurnalisme Mode Indonesia”.  Penyelenggaraan hari ketiga JFW 2015 itu juga dibuka dengan pergelaran busana “Jakarta Fashion Week – Fashion Council: Presents The Style Makers: A Tribute to Irma Hardisurya”.  Pergelaran itu menampilkan karya lulusan LPM, yakni Jeffry Tan, Carmanita, Stephanus Hamy, dan pemenang LPM 2013/2014 Yelly Lumentu.

Di kalangan yang berkecimpung di dunia mode, Irma dikenal sebagai ikon mode Indonesia. Ia jurnalis mode legendaris, juga penggagas Lomba Perancang Mode (LPM) yang melahirkan banyak perancang busana di Tanah Air.   

Lulusan ITB  

Irma, Miss Indonesia 1969, memulai karier Irma sebagai penulis mode pada 1972. Saat itu ia diminta untuk mengisi halaman mode Majalah Femina, yang akan terbit. Sejak saat itu ia banyak menulis tentang mode dan meliput fashion show di mancanegara. Lulusan Seni Rupa ITB itu juga menuangkan liputannya dalam bentuk sketsa, sehingga pembaca artikelnya mendapat gambaran jelas tentang tren mode terkini.

Tulisan pertama Irma di Majalah Femina adalah “Keluyuran di Pusat Mode New York”, yang merupakan suatu fashion forecast untuk tahun 1973.

Mulai tahun 1977 dan tahun-tahun berikutnya, Irma giat meliput Pret-a-porter Paris sebagai jurnalis fashion resmi, bersama Pia Alisjahbana.  Bersama Pia Alisjahbana juga, dan Mirta Kartohadiprodjo, sejak 1978, Irma membuat terobosan fundamental bagi industri mode Indonesia, dengan rutin menyelenggarakan LPM, yang diinspirasikan oleh Hong Kong RTW Festival, yang kemudian menjadi Hong Kong Fashion Week.

Dari ajang LPM, lahir perancang busana yang mewarnai perkembangan usaha kreatif mode Tanah Air hingga saat ini. Di antaranya, Samuel Wattimena, Edward Hutabarat, Itang Yunasz, Carmanita, Denny Wirawan, hingga Priyo Oktaviano.

Kini, pada usia menginjak 67 tahun, Irma masih terus berkarya. Ia mengelola Rona & Gaya Color and Image, biro konsultasi warna dan penampilan, serta sebuah butik khusus untuk wanita matang, Rumah Rona Gaya. Irma secara khusus mendalami bidang warna dan penampilan pada 1994 di Amerika Serikat. Ia juga mengajar, memberi konsultasi tentang warna, baik untuk penampilan, bisnis, ataupun industri.

Irma sudah menulis dua buku, Warna bagi Citra dan Penampilan, serta Kamus Mode Indonesia. Buku terakhir itu ia tulis bersama Ninuk Mardiana Pambudy dan Herman Yusuf, dan diluncurkan di Jakarta Fashion Week 2012.    

Di sela kesibukannya, Irma melukis, bidang yang ia tekuni di bangku kuliah di ITB. Pada 2004 ia menggelar karyanya, “Realisme Romantik Kontemporer” dalam pameran tunggal.   

Editor : Sotyati

Back to Home