Loading...
INDONESIA
Penulis: Sabar Subekti 09:22 WIB | Sabtu, 13 April 2013

Penghargaan Kebebasan Beragama Melukai dan Dipertanyakan

Jemaat Gereja HKBP Setu, Bekasi saat kebaktian Paskah (29/03) di antara reruntuhan bangunan gereja yang dibongkar Pemda Bekasi karena belum memiliki Ijin Mendirikan Bangunan. (Foto: Dedy Istanto)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Penghargaan yang diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berupa World Stateman Award berkaitan dengan kebebasan beragama patut dipertanyakan. Demikian dikatakan intelektual Muhammadiyah, Dr. Zuly Qodir, hari Sabtu (13/4) di Yogyakarta.

Menurut dia, Indonesia justru sekarang dalam sorotan internasional dan kritikan dalam negeri karena lemahnya penegakkan hukum dan perlindungan kaum minorita, khususnya pemeluk agama dan kepercayaan. Menurut Zuly, pandangan umum dan hasil berbagai survey belakangan juga memperlihatkan suasana prihatin dalam kebebasan beragama. "Penegakan hukum dan perlindungan kelompok minorita justru paling lemah sekarang ini," kata dia.

Menurut  Zuly, lembaga yang memberikan penghargaan, yaitu Appeal of Conscience Foundation patut dipertanyakan kredibilitasnya. Atas dasar apa penghargaan itu diberikan, sementara sejumlah lembaga internasional seperti Human Right Watch juga pernah menyampaikan kritik dan keprihatinannya pada kondisi kebebasan beragama di Indonesia, bahkan mensinyalir adanya keterlibatan pejabat negara.

Disebutkan bahwa di Amerika lembaga yang cukup dikenal dalam memberikan penghargaan dalam kebebasan beragama adalah Freedom of America. Zuly mengaku tidak kenal lembaga yang membetikan penghargaan pada SBY kali ini.

Selain itu, penghargaan ini dirasakan sebagai melukai mereka yang menjadi korban dari kasus kekerasan yang berlatar belakang agama. Dan selama dua periode pemerintahan SBY, kasus ini terus meningkat dan tidak diselesaikan secara damai. Belakangan ini juga dilakukan aksi Forum Rohaniawan se-Jabodetabek yang menyerukan penegakkan hukum dan kebebasan beragama.

Menurut Zuly, ada tendensi bahwa penghargaan ini adalah bagian pencitraan politik yang diperlukan dalam suasana menjelang pemilu atau akhir periode kepresidenannya. Oleh, karena itu, penghargaan ini patut dipertanyakan. Dalam rangka apa penghargaan itu diterima, sedangkan realita di dalam negeri mencerminkan situasi yang berbeda.

Dengan munculnya penghargaan ini justru sekarang dipertanyakan tindakan apa yang dilakukan SBY untuk mewujudkan kebebasan beragama. Apa yang telah dilakukan untuk melindungi warga negara dalam beragama dan beribadah. Selama ini pemerintah justru dikritik karena tidak melakukan pembelaan pada kebebasan beragama.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home