Loading...
HAM
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 10:21 WIB | Minggu, 27 Juli 2014

Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik

Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik
Ribuan pemudik memadati kawasan pintu tol Jembatan Suramadu sisi Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/7). Arus mudik 2014 di Jembatan Suramadu diperkirakan akan mencapai puncaknya pada H-1 lebaran pada hari Minggu (27/7) esok. (Foto-foto: Antara)
Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik
Pemudik kendaraan sepeda motor memadati jalur alternatif jalur Pantura Kawasan Cikalong, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (26/7). Puncak arus mudik yang menggunakan sepeda motor dterjadi pada Jumat (25/7) hingga Sabtu (26/7) pagi.
Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik
Pemudik motor melintas di jalur alternatif Karawang - Cikampek, Jalan Syekh Quro, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (26/7). Jalur alternatif Karawang - Cikampek tersebut dapat menghemat waktu tempuh 2 - 3 jam perjalanan menuju jalur Pantura.
Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik
Sejumlah calon pemudik menunggu keberangkatan bus di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (26/7). Menurut data terminal tersebut, pada H-3 Idul Fitri 1435 H jumlah penumpang yang menggunakan jasa terminal tersebut sebanyak 10.920 orang menurun dibanding tahun 2013 yakni 13.291 penumpang.
Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik
Anggota kepolisian memberi pengarahan tentang uang palsu kepada penjual jasa penukaran uang di kawasan Jalan Veteran, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (26/7). Pengarahan ini diberikan anggota Polrestabes Surabaya sebagai antisipasi peredaran uang palsu khususnya menjelang Idul Fitri 2014.
Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik
Seorang sopir menjalani pemeriksaan kesehatan yang dilakukan petugas kesehatan di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (26/7). Pemeriksaan tersebut guna memeriksa kesehatan sopir sebagai upaya meminimalisir kecelakaan pada mudik dan balik Lebaran 2014.
Pengungsi Syiah Sampang Masih Dilarang Mudik
Sejumlah calon pemudik antre di depan loket penjualan langsung untuk mendapatkan tiket di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (26/7). Hingga H-2 Idul Fitri 1435 H pemudik masih memadati stasiun guna mencari tiket mudik Lebaran dengan tujuan berbagai kota di Pulau Jawa.

SURABAYA, SATUHARAPAN.COM - Ratusan pengungsi Syiah Sampang hingga saat ini masih dilarang mudik ke kampung halamannya di Sampang atau rumah kerabatnya di kawasan Madura dengan alasan yang tetap sama selama dua tahun, yakni keamanan.

"Pengungsi Syiah Sampang sudah genap dua tahun terusir dari kampungnya, dari GOR Sampang hingga Rusunawa Jemundo, Sidoarjo," kata Koordinator YLBHU Hertasning Ichlas di Surabaya, Minggu (27/7).

Lebaran kali ini, katanya, Koordinator pengungsi Syiah Sampang, Ikli Al Milal, mengirimkan pesan singkat (SMS) dan foto kepadanya tentang kendala berlebaran ke Madura.

"Pak Ris, tadi, sy minta izin ke BNPB u/ lebaran di rmh mertua di Pamekasan. Tp tdk dapat izin. Kata Irfan (BNPB), larangan pulang kampung ini umumx Madura dan khususx Sampang" demikian SMS Ikli Al Milal.

Menurut dia, pesta demokrasi sudah usai dan debat capres soal hukum dan HAM juga semakin maju dan nyata. Banyak kebaikan ditawarkan capres kepada publik.

Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun terlihat semakin arif dan banyak mengingatkan kepada para capres tentang kepentingan rakyat menjelang masa lengsernya.

"Tapi, dalam dunia yang lebih nyata, orang tertindas tetap saja jadi tontonan seperti nasib pengungsi Syiah Sampang itu yang sudah mengungsi sejak Agustus 2012," katanya.

Sejumlah inisiatif bagus dari masyarakat untuk memulihkan konflik, katanya, sudah dilakukan. Masyarakat dengan masyarakat sudah berdamai, bahkan mengikatkan diri dalam skema "perdamaian rakyat".

Tak cukup hanya itu, kolaborasi para pihak menawarkan resolusi konflik dengan program bedah rumah dan program orientasi pengungsi dalam asuhan K.H. Noer Iskandar S.Q. juga sudah disepakati para kiai, pengungsi, dan warga di kampung.

Bahkan Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz, K.H. Noer Iskandar S.Q., sejumlah kiai kunci dan pihak pendamping pengungsi juga sudah bersepakat dan mengikatkan diri dalam tanda tangan.

"Inilah salah satu terobosan paling krusial dari para pihak memunculkan resolusi konflik berbasis hak, power, dan kepentingan," katanya.

Akan tetapi, semuanya menjadi tidak ada artinya ketika harus melewati otoritas Gubernur Soekarwo dan Presiden SBY, karena keduanya mengelak dan menepis setiap inisiatif yang ada.

Masalahnya, pemerintah selalu menganggap dan mengatakan kondisi masih tidak aman dan karenanya pengungsi berkali-kali dilarang kembali ke kampungnya, tapi semuanya tanpa kejelasan.

"Jika pemerintah tidak bisa menyelesaikan masalah, maka atas dasar moral apa pemerintah melarang dan tak menggubris setiap inisiatif masyarakat sipil, pengungsi, dan warga kampung untuk mencoba menyelesaikan masalah mereka sendiri?," katanya. (Ant)

 


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home