Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 19:05 WIB | Senin, 11 Februari 2019

Pensi SDK PENABUR Jakarta "Aku Indonesia", Ajarkan Toleransi dalam Perbedaan

Pensi SDK PENABUR Jakarta "Aku Indonesia", Ajarkan Toleransi dalam Perbedaan
Pengunjung sedang menikmati hasil karya seni rupa siswa siswi SDK PENABUR Jakarta kelas I- VI ,dalam pameran hasil karya dan pentas seni yang bertajuk Aku Indonesia yang diselenggarakan pada Sabtu (9/2) di SPK PENABUR Kelapa Gading Jakarta. (Foto-foto: Humas BPK PENABUR Jakarta)
Pensi SDK PENABUR Jakarta "Aku Indonesia", Ajarkan Toleransi dalam Perbedaan
Siswi kelas 4 SDK Penabur Bintaro Jaya, sedang membatik pada pameran Pensi SDK Penabur Jakarta.
Pensi SDK PENABUR Jakarta "Aku Indonesia", Ajarkan Toleransi dalam Perbedaan
Salah satu tampilan dalam acara pentas seni siswa siswi SDK PENABUR Jakarta, di Auditorium SPK SMAK Kelapa Gading.

SATUHARAPAN.COM –  Tiga anak perempuan yang mengenakan kebaya duduk di depan pintu masuk ruang pameran. Tangannya memegang canting untuk mewarnai kain yang sudah digambar. Mereka adalah Rahel, Joseline, dan Gwen, murid  kelas 4 SDK Penabur Bintaro Jaya.

Pemandangan itu disajikan di pintu masuk areal SPK PENABUR Kelapa Gading atau Penabur International School Kelapa Gading Jakarta, yang menyelenggarakan acara Pentas Seni dan pameran hasil karya siswa SDK PENABUR se-Jakarta, pada Sabtu (9/2/19). Kegiatan itu merupakan wujud apresiasi dan pengembangan bakat seni siswa-siswi SDK PENABUR Jakarta.yang bertajuk “Aku Indonesia”.

Acara itu diikuti 759 peserta dari 20 SDK PENABUR di Jakarta, yang terbagi dalam dua jadwal pementasan yaitu sesi I pukul 11.00- 13.00 dan sesi II pukul 16.00 – 18.00.

Sebanyak 300 karya seni dalam bentuk lukisan dan prakarya dari 20 SDK PENABUR Jakarta dipajang, di ruang pameran. Bersamaan dengan berlangsungnya pameran diadakan pula atraksi karya seni secara langsung yang dilakukan para siswa, seperti melukis, membuat komik, ilustrasi dan kaligrafi. Lama pembuatan masing-masing karya seni sekitar 45 menit. 

Ketua BPK PENABUR Ir Antono Yuwono mengatakan, pentas seni bertajuk Aku Indonesia yang setiap sekolah menampilkan seni daerah yang ada di Indonesia, merupakan salah satu cara untuk mempersiapkan generasi yang mampu melihat perbedaan sebagai perekat bangsa Indonesia, walaupun Indonesia tetap satu, dan Indonesia maju.

"Seni dapat mengembangkan otak kanan, oleh karena itu melalui pementasan seni perkembangan otak kiri dan kanan menjadi seimbang pada perkembangan anak, diharapkan orang tua mendukung potensi anak," katanya pada pembukaan pentas Seni di ruang Auditorium Gedung SPK PENABUR Kelapa Gading Jakarta, pada Sabtu (9/2).

Menariknya, hasil karya yang dipamerkan dijual dengan harga yang diterapkan sendiri oleh siswa, Meskipun demikian ada juga yang menjadi koleksi pribadi. Hasil penjualan akan diberikan pada siswa yang membuat karya. 

Menurut Iriani Tri Rahayu Kepala Sekolah SDK PENABUR Kota Modern selaku ketua Panitia Pensi SDK Penabur Jakarta, dengan menanamkan jiwa wirausahawan sejak dini, sangat penting dalam membangun karakter siswa siswi. “Intinya siswa-siswi berusaha membuat karya dan mendapat hasil dari karya tersebut, dan bukan dilihat dari nilainya tapi potensi mereka yang dihargai.”

Pentas Seni yang Semarak

Sementara itu, pentas seni yang diselenggarakan di Auditorium SPK SMAK Kelapa Gading atau Penabur International School Kelapa Gading, berlangsung sangat meriah dan semarak.

Pentas seni menampilkan seni tari, musik dan teater, paduan suara, dan mini orkestra. Acara itu dihadiri orang tua dan para undangan lain. yang memenuhi auditorium. Mereka menyaksikan setiap penampilan dari siswa-siswi SDK PENABUR, yang dikemas dalam bentuk tari dan lagu dari berbagai daerah, yang umumnya dikenal masyarakat, antara lain Sipatokaan, Suwe Ora Jamu, Tari Cublak Suweng. Sementara itu, untuk pementasan teater dibantu oleh teater Katak, pimpinan Venantius Vladimir Ivan.

Menurut Antono Yuwono, acara pentas seni itu dipersiapkan lama. Acara itu untuk pertama kali dilaksanakan, dan akan dievaluasi agar ke depan dapat direalisasikan kembali. 

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home