Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:41 WIB | Sabtu, 18 Agustus 2018

Penyayang Hewan Serukan Stop Tunggangi Gajah

Ilustrasi. Gajah dinaiki pawangnya di Bengkulu. (Foto: bbc.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Gajah sumatera adalah binatang langka yang terancam kepunahan. Sekarang ini di dunia hanya ada kurang dari seribu gajah sumatera. Para penyayang binatang pun beraksi dalam seruan unik.

"Saya minta maaf... Saya bertobat. Saya nggak akan pernah naik gajah lagi," kata Iqbal Himawan melalui Instagramnya.

"Saya tidak akan bersenang-senang di atas penderitaan makhluk pintar yang punya empati ini," kata Iqbal yang bekerja sebagai jurnalis di stasiun TV di Jakarta.

Dalam waktu kurang dari dua hari, tulisan Iqbal menyebar di media-media sosial. Di Instagram, puluhan orang menyerukan untuk menghentikan kebiasaan naik punggung gajah, melalui hastag #stopridingelephant. Di Twitter, kesaksiannya dikutip ulang dan menjadi bahan pembicaraan ribuan cuitan.

Dalam Instagramnya, Iqbal menyebutkan bahwa struktur punggung gajah terdiri atas tonjolan tulang yang dilapisi jaringan tipis. Jika diberi dudukan untuk naik, gajah bisa terluka dan menyebabkan cedera tulang belakang jangka panjang pada gajah.

"Saya tidak sekadar sharing, tapi saya sudah melakukan riset mendalam dari pernyataan berbagai NGO di seluruh dunia, termasuk Carol Buckley, ahli dari Elephant Aid International," kata Iqbal saat dihubungi BBC Indonesia melalui telepon pada Kamis (16/8) .

Selama ini, Iqbal telah beberapa kali menyuarakan perlunya menghentikan kebiasaan turis menaiki gajah. Ada alasan bermacam, khususnya, untuk bisa dinaiki oleh manusia, gajah dilatih keras melibatkan penyiksaan kejam.

Sebagai jurnalis dan pelancong, Iqbal telah beberapa kali pergi ke tempat-tempat di mana gajah dinaiki. Di Tangkahan, Sumatera Utara, dia bertemu tur safari gajah. Di sini Iqbal sempat naik gajah. Di Rajastan, India, dia melihat gajah dihias dengan mewah agar turis bisa merasa seperti bangsawan kerajaan.

Perjalanan ke Way Kambas menjadi pembuka matanya. Di sana dia melihat gajah di habitat aslinya yang dilepaskan di alam liar, dan berbicara dengan para pawang gajah.

"Saya jadi belajar banyak di konservasinya langsung dan ingin menyebarkan agar semua orang tahu untuk tidak naik gajah," kata dia.

Terutama, Iqbal ingin agar para traveller menyadari risiko menaiki gajah di tempat-tempat wisata. Sebab, dia mengakui bahwa para pelancong akan mudah tergoda untuk naik gajah di tempat indah.

"Kadang para traveller demi feed Instagram, akan melakukan apa pun. Jangan hanya karena selfie lalu mengorbankan gajah-gajah ini," kata dia.

"Kuncinya ada di kita. Selama masih ada orang yang naik gajah, mereka (penyedia naik gajah di tempat wisata) tidak akan berhenti karena mereka akan terus mendapatkan uang," kata Iqbal.

Habitat Gajah Makin Menurun

Prakarsa unik ini didukung WWF Indonesia, terutama kasus-kasus di tempat wisata.

"Kenapa kita harus menunggangi satwa? Gajah terancam punah, bukan satwa yang layak ditunggangi untuk keperluan umum," kata Wildlife Specialist WWF Sunarto, saat dihubungi BBC Indonesia.

Apalagi, ada indikasi penunggangan gajah untuk wisata sudah mengarah ke eksploitasi.

Sunarto mengatakan, kondisi gajah saat ini sudah berbeda dengan pada tahun 1980-an saat masih ada banyak gajah dan populasinya masih dapat dikatakan aman. Kini, jumlah gajah sudah turun drastis sekali.

Menurut Sunarto, pada 2007 dokumen resmi mencatat populasi gajah sumatera sebanyak 2.800-2.400 ekor. Pada tahun 2013, jumlahnya diperkirakan tinggal 1.724. "Saat ini sedang proses pemutakhiran, angkanya belum resmi tapi ada indikasi kuat tidak lebih dari 1.000," kata Sunarto.

Dia berharap, atraksi naik gajah untuk wisata bisa diganti dengan membuat pameran yang lebih bagus untuk gajah. Misalnya, tambahan informasi mengenai kehidupan gajah di alam, dan penjelasan bahwa kondisi gajah sudah sangat terancam.

Informasi ini menjadi sangat penting, karena saat ini saat ini di masyarakat umum belum belum ada rasa kegentingan terkait populasi gajah yang terus menurun.

Sunarto mengatakan, tidak dapat memastikan konsekuensi untuk gajah yang dijadikan tunggangan. Pasalnya, ada beberapa pendapat yang berbeda. "Ada yang bilang tidak apa-apa ditunggangi, ada yang bilang boleh ditunggangi asalkan di leher," kata dia.

Sunarto pun pernah naik gajah di tempat wisata. "Tapi setelah membaca tentang kemungkinan tulang belakangnya tidak kuat, saya bilang saya menyesal pernah melakukan itu," kata Sunarto.

Meski demikian dia mungkin masih akan terpaksa melakukannya, jika pekerjaan mengharuskan dia naik gajah dengan tim konservasi dengan tujuan menjaga gajah yang ada di alam.

Sunarto mengatakan, penunggangan gajah yang belum dapat dihindarkan adalah ketika dipakai oleh tim patroli di wilayah konservasi. Gajah jinak biasanya ditunggangi pawang ketika tim berusaha mengurangi konflik dengan gajah liar.

Untuk kondisi ini, dia berharap tim penanganan tak usah lagi dikerahkan, ketika gajah sudah mendapatkan tempat yang layak dan tidak lagi berkonflik dengan manusia.

Meski demikian, gajah yang dipakai di situasi ini diperlakukan dengan semirip mungkin dengan kondisinya di alam. Misalnya, gajah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk makan, sehingga ketika dinaiki pun gajah harus tetap mendapatkan akses ke makanan dan air.

Hak Asasi Hewan

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Wisnu Wardana, dokter hewan yang juga menjadi pengurus Komisi Kesejahteraan Hewan di Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia.

"Gajah tunggang itu latihan yang baik untuk dia. Asal jam kerjanya juga tidak dilakukan terus menerus. Yang dipermasalahkan adalah kalau gajahnya kurus dan telantar," kata Wisnu Wardana.

Dia mengatakan, hubungan manusia dengan hewan punya beberapa paham. Paham yang dianutnya adalah "animal welfare". "Animal welfare setuju hewan dimanfaatkan oleh manusia, asal untuk kebaikan, baik kebaikan manusia maupun hewannya sendiri," kata Wisnu.

Sedangkan paham animal right dan animal freedom, punya haluan yang sangat berbeda. "Melihat sapi dan kerbau yang dicucuk hidungnya saja tidak setuju," kata dia.

Meski demikian, pemanfaatan gajah tetap harus memenuhi lima hak asasi hewan. Hak itu adalah bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari penyakit dan cedera, bebas dari rasa takut dan stress dan bebas berperilaku alami.

Misalnya, perilaku alam gajah sebagai hewan berkelompok yang suka bermain, tetap harus diberi kesempatan untuk bersosialisasi, saling menyentuh dan mencium gajah lainnya.

"Kalau ada kasus, kita lihat dulu lima hak ini terpenuhi atau tidak. Itu cara menilainya," kata dia.

Wisnu yang juga pengurus Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia mengakui, belum semua kebun binatang di Indonesia memperlakukan hewan dengan baik. "Ada yang bagus dan ada yang kurang bagus, semua pihak ikut bertanggung jawab, termasuk pemerintah," kata dia. (bbc.com)

Editor : Sotyati

TOA
Bank Central Asia
Zuri Hotel
Back to Home