Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Addi S. Patriabara 05:17 WIB | Kamis, 19 Maret 2020

Peran Publik Gereja

Jeritan publik yang begitu keras perlu dijawab gereja dengan tindakan nyata.
Foto: YouTube

SATUHARAPAN.COM – Kontroversi segera merebak saat sejumlah gereja menutup ibadah minggunya akibat wabah Covid-19. Ada yang kontra, merasa kecewa dan mengecam, beranggapan bahwa gereja tengah dirudung ketakutan. Padahal pada saat semacam ini, begitu kata yang kontra,  justru gereja seharusnya menunjukkan keberaniannya sebagai tanda iman yang kuat pada Tuhan. Penutupan ibadah menunjukkan gereja kalah dengan ”setan” virus Corona. Ada pula yang sangat setuju dengan menyatakan inilah salah satu cara gereja melindungi umatnya dari wabah berbahaya.

Tentu saja, pro dan kontra merupakan hal biasa dalam kehidupan bersama. Persoalan yang penting buat gereja dalam mengambil keputusan penutupan ibadah adalah apa alasannya? Jika semata-mata hanya demi melindungi umatnya, maka gereja hanya menjadi komunitas eksklusif yang hanya peduli dengan dirinya sendiri. Apakah seperti ini panggilan gereja? Tentu saja tidak! Gereja perlu mendasari keputusannya sebagai sebentuk pelayanan dan ketaatan kepada Tuhan di ruang publik.

Gereja harus menyadari ia hadir di ruang publik, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari publik-publik yang lain. Keberadaannya bisa disamakan dengan lembaga-lembaga publik yang lain seperti sekolah, kampus, pasar, dan lainnya. Disamakan bukan berarti sama, sebab gereja punya identitas khas yaitu bersumber dari Tuhan Yesus Kristus. Gereja yang bersumber dari Tuhan, hadir di ruang publik untuk berkarya bersama dengan publik-publik yang lain demi kebaikan bersama (bonum commune).

Jadi, justru karena bersumber pada Tuhan, gereja tidak boleh hanya mendasarkan keputusannya atas keputusan pemerintah belaka! Gereja harus mendasarkan keputusannya atas hikmat dalam relasi dengan Tuhan, Sang Sumber hidup gereja.

Dalam hal ini, gereja perlu kembali mengingat Yohanes 3:16—”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Nas itu menegaskan bahwa Tuhan mencintai dunia ini. Sekali lagi, Tuhan mencintai dunia ini! Karena cinta-Nya, ada pengorbanan besar yang dilakukan Tuhan yaitu mengorbankan anak-Nya yang tunggal. Maka inilah saatnya gereja mengorbankan egonya demi ketaatannya kepada Tuhan. Gereja sebagai komunitas publik harus bertanya, apakah yang dikehendaki Tuhan baginya untuk berperan di ruang publik? Sekali lagi, hal itu dilakukan karena ketaatan gereja kepada Tuhan yang mencintai dunia ini.

Peran publik yang terlihat begitu nyata saat ini adalah membatasi penyebarluasan virus agar tidak menghancurkan kehidupan publik (baca: masyarakat). Salah satu caranya adalah membatasi perjumpaan fisik, seperti ibadah minggu. Mengapa ibadah? Sebab ibadah minggu adalah bagian perjumpaan yang paling banyak dihadiri oleh warga gereja.

Jadi, ketika gereja tidak mengadakan ibadah minggu, hal itu harus dilihat sebagai cara gereja melayani publik. Gereja tidak ingin keberadaan dan keputusannya merusak publik secara luas. Bayangkanlah ketika ada warga gereja dengan keberanian iman beribadah dan menjadi pembawa virus di tengah-tengah masyarakat, itu berarti gereja ikut bersalah karena membiarkan virus menyerang warga publik lainnya.

Tentu saja peniadaan ibadah minggu (dan menggantinya dengan cara apa pun) tidak boleh menjadi satu-satunya cara gereja berperan di ruang publik. Jeritan publik yang begitu keras perlu dijawab gereja dengan tindakan nyata.

Ada banyak cara lain yang bisa dilakukan gereja untuk berperan di ruang publik. Misalnya, mengadakan dan membagikan hand sanitizer atau masker secara gratis. Juga membagikan bahan makanan yang saat ini banyak dikuasai kelompok berduit, dan banyak lagi yang lain.

Gereja perlu memikirkan bagaimana cara menolong warga publik yang bekerja sehari untuk keperluan sehari. Inilah saatnya gereja meneriakkan suara kenabian, menyerukan agar umat bersehati dalam doa dan karya nyata.

Inilah saatnya bagi gereja untuk bergerak dan bertindak bagi publik.

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
Zuri Hotel
Back to Home