Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 12:25 WIB | Rabu, 20 Februari 2019

Perbanyak Ruang Perjumpaan untuk Perkuat Kerukunan Umat Beragama

Peserta dialog lintas iman sepakat bahwa memperbanyak ruang perjumpaan akan menguatkan persaudaraan antarumat beragama (Foto: Voaindonesia.com/Petrus Riski)

SURABAYA, SATUHARAPAN.COM – Pelaksanaan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden serta Pemilu Legislatif pada 17 April 2019 mendatang, semakin membuka adanya perbedaan dalam masyarakat terutama dalam hal pilihan politik.

Perbedaan itu telah berlangsung jauh sebelumnya, yakni pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Potensi konflik itu semakin dipertajam dengan munculnya politik identitas, seperti etnis, agama dan kesukuan, yang dapat semakin memecah-belah masyarakat Indonesia.

Pendeta Simon Filantropha, Ketua Persatuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Jawa Timur, mengatakan perlu dilangsungkan lebih banyak pertemuan dan dialog antarumat beragama, untuk mengikis prasangka dan menyadari bahwa perbedaan yang ada harus dapat dihidupi menjadi sebuah kekuatan untuk bersatu.

“Salah satu bentuk membiasakan diri itu adalah kita harus berani keluar dari zona nyaman kita, supaya kalau bicara nyaman juga ngomong nyamannya orang lain, lalu juga menjadi penting bahwa membiasakan diri bertemu, berbicara, dan di situ kita semakin hari akan semakin mengikis prasangka kita. Itu yang saya bilang menghidupi perbedaan itu sebenarnya seperti itu, justru orang harus keluar dari cangkang dirinya,” kata Simon.

Perlunya Banyak Ruang Perjumpaan Antarumat Beragama

Membiasakan diri untuk mau keluar dan saling berjumpa serta berbicara dengan umat beragama lain, maupun etnis dan suku lain, perlu dilakukan tidak hanya oleh orang tua melainkan juga oleh anak usia dini.

Nur Cholis dari Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Timur mengatakan, diperlukan kegiatan bersama yang melibatkan anak-anak dari berbagai agama, sehingga sejak usia dini mereka terbiasa mengetahui adanya perbedaan dan belajar menghargainya.

Permainan tradisional serta olahraga, dapat menjadi sarana pertemuan anak-anak dari berbagai agama yang ada di Indonesia.

“Kewajiban kami, kewajiban kita yang tua-tua ini ya memfasilitasi, memberikan suatu kegiatan yang itu bisa menciptakan momen. Secara tidak langsung mereka berinteraksi, berjabat tangan, berangkulan, jadi kegiatan sosial, kegiatan-kegiatan olahraga itu bisa dilakukan,” kata Nur Cholis, seusai pertemuan lintas iman di GKI Diponegoro, Surabaya, yang dilansir Voaindonesia.com, pada Rabu (20/2).

Koordinator Rumah Bhinneka, Iryanto Susilo mengatakan, setiap agama memiliki struktur organisasi yang memungkinkan terjalinnya interaksi antarumat beragama, terutama di masyarakat tingkat bawah.

“Katolik itu secara struktur pada sampai tingkat paroki, wilayah dan lingkungan, itu struktur yang sangat terorganisir dengan baik. Satu keuntungan yang luar biasa besar, bahwa bagaimana organisasi ini bisa membangun jaringan pada tingkat-tingkat lokal, sehingga irisan jaringan itu semakin rapat, dimana kalau irisan jaringan semakin rapat, maka ini akan memperkuat civil society, ini akan memperkuat pada masyarakat yang madani,” kata Iryanto.

Sementara itu, Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD), Aan Anshori mengusulkan program khusus yang memungkinkan adanya pertemuan dan dialog antarumat beragama secara rutin, sebagai bagian program kerja tahunan pada setiap lembaga agama dan kepercayaan.

Implementasi ini dapat diwujudkan melalui penganggaran untuk penguatan kebangsaan dan pluralisme di Indonesia, sebagai aksi nyata dari keinginan untuk melawan gerakan intoleransi dan radikalisme yang masih marak terjadi.

“Organisasi-organisasi keagamaan, gereja, Islam dan lain sebagainya, mulai memikirkan secara serius apa yang bisa dilakukan. Nah, indikatornya adalah bagaimana yang serius tadi terimplementasikan dalam anggaran. Jadi, agak nonsense menurut saya, mengatakan komitmen terhadap pluralisme, kebangsaan, tetapi tidak punya program secara konkret untuk bisa mempersatukan itu yang terimplementasi dalam anggaran. Saya selalu mendorong, tidak hanya kepada teman-teman Islam, tetapi juga teman-teman Kristen untuk juga mulai agak aktif memasukkan dua, tiga, atau empat program, dalam program tahunan yang digunakan secara bersama-sama,” kata Aan Anshori.

Aan mengatakan, aspek perjumpaan orang-orang dari lintas agama yang belum pernah saling bertemu, untuk saling menjalin komunikasi dan kerja sama dalam rangka menjaga dan merawat kerukunan antarumat beragama, perlu diperhatikan.

“Jadi bagaimana mengajak orang-orang yang katakanlah belum pernah bertemu, itu menjadi bertemu. Jadi pertemuan rutin itu berfungsi untuk memperkuat kohesivitas mereka, sama memperkuat jalinan kerja sama untuk mengajak teman-teman Muslim, teman-teman Kristen, teman-teman Katolik untuk bisa lebih membaur dan bisa lebih terlibat dalam kerja-kerja interfaith,” katanya.

 

Back to Home