Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Sotyati 21:56 WIB | Senin, 12 Agustus 2019

Periksa Kesehatan Gratis Tandai 33 Tahun Usia PKM Cipinang Bali

Periksa Kesehatan Gratis Tandai 33 Tahun Usia PKM Cipinang Bali
Menandai peringatan ulang tahun ke-33 Klinik Pratama Cipinang Bali, Jakarta Timur, menggelar bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis, Sabtu (10/8), tercatat 265 orang dari Cipinang Bali dan sekitarnya, memeriksakan kesehatan di poli umum dan poli gigi. (Foto-foto: Sotyati)
Periksa Kesehatan Gratis Tandai 33 Tahun Usia PKM Cipinang Bali
Dokter Triharyadi Tegu mendengarkan keluhan dan memeriksa pasien dalam pelayanan poli umum bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis dalam rangka ulang tahun ke-33 Klinik Pratama Cipinang Bali.
Periksa Kesehatan Gratis Tandai 33 Tahun Usia PKM Cipinang Bali
Pemeriksaan lab sederhana untuk kolesterol, gula darah, dan asam urat.
Periksa Kesehatan Gratis Tandai 33 Tahun Usia PKM Cipinang Bali
Penambalan gigi dan cabut gigi menjadi pelayanan terbanyak yang ditangani poli gigi.
Periksa Kesehatan Gratis Tandai 33 Tahun Usia PKM Cipinang Bali
Berfoto bersama Pdt Yanti Rusli, Pdt Andi Christianto, dan tokoh masyarakat setempat sebelum memulai acara bakti sosial pemeriksaan kesehatan.
Periksa Kesehatan Gratis Tandai 33 Tahun Usia PKM Cipinang Bali
Drg Leony Tjandra Kusuma dan asistennya, Hotma Tiur Maida Siahaan, bergambar bersama pasien tertua di poli gigi, yang merelakan satu-satunya gigi tersisa dicabut.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Klinik Pratama Cipinang Bali, di Jl Cipinang Bali II No 3A RT 008/013, Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, merayakan ulang tahun ke-33 pada Sabtu, 11 Agustus lalu.

Renungan singkat yang mengingatkan rasa syukur atas penyertaan-Nya dapat melaksanakan karya bakti hingga 33 tahun, mengawali kegiatan utama, yakni bakti sosial pemeriksaan kesehatan. Pada Sabtu itu, Klinik Pratama Cipinang Bali menggelar pengobatan umum dan gigi, serta pemeriksaan lab sederhana untuk mengetahui kadar kolesterol, gula darah, dan asam urat.

Dokter Hariani, yang lebih akrab dipanggil dokter Sri, dan kawan-kawan, menargetkan menerima 250 pasien hari itu. Undangan disebar bekerja sama dengan ketua rukun tetangga sekitar klinik di Cipinang Bali, Jakarta Timur itu.

“Kami tidak menyebarkan kupon kali ini, siapa saja dapat datang memeriksakan kesehatan. Gratis. Tahun ini kami juga memberikan bingkisan, untuk pasien dewasa ataupun pasien anak-anak,” kata dokter Sri, Koordinator Sie Klinik merangkap Anggota Sie Lab dan Sie Baksos dari Personalia Pelayanan Kesehatan Masyarakat (PKM) di bawah payung Gereja Kristen Indonesia (GKI) Cawang, Badan Pelayanan Periode 2017 – 2019.

Sejak dimulai pukul 09.00 pagi, pasien mengantre sesuai arahan. Siapa yang datang pertama kali, ia pula yang dilayani. Greyvi Imelda Mawuntu di bagian pendaftaran, Natalia dan kawan-kawan di bagian pemeriksaan tekanan darah, langsung sibuk meladeni pasien yang mengantre.

“Karena bertepatan dengan persiapan Hari Raya Idul Adha, ibu-ibu kader PKK tidak bisa membantu kali ini,” dokter Sri menambahkan. Dalam berbagai kegiatan, klinik bekerja sama dengan PKK setempat.

Kegiatan siang itu melibatkan tiga dokter umum, dua dokter gigi, “Diperkuat juga perawat dari luar Klinik Cipinang Bali.” Di antaranya, dari Klinik Cipinang Indah dan Poli Gigi BPK Penabur Kota Wisata Cibubur.

265 Pasien Dilayani

Hingga akhir penutupan pendaftaran pukul 12.00, tercatat 265 pasien dilayani, 240 pasien dilayani dokter umum dan 25 orang dilayani dokter gigi. “Terpaksa ada yang pulang, karena pendaftaran sudah tutup,” ia menjelaskan.

Lima kasus terbesar untuk poli umum, menurut dokter Sri adalah infeksi saluran pernapasan atas, gangguan tulang dan otot, hiperlipidemia, hipertensi, dan gastritis. Untuk poli gigi, kasus terbanyak yang ditangani adalah penambalan gigi dan cabut gigi susu.

Sutirah, 35 tahun, termasuk salah satu pasien yang mendapatkan pelayanan penambalan gigi. Ibu asal Madura yang sehari-hari berjualan sate itu sebetulnya ingin menambal lebih dari satu gigi, tetapi hanya mendapatkan pelayanan satu kali penambalan di kegiatan bakti sosial itu. Pada hari praktik biasa, ia harus mengeluarkan uang Rp85.000 untuk menambal gigi.

Panji, 7 tahun, termasuk pasien yang mendapatkan pelayanan cabut gigi. Begitu dokter gigi Leony Tjandra Kusuma memintanya duduk di kursi pasien dan lampu langsung menyorotnya, ia yang tadinya tenang mulai tampak gentar, lalu merengek. Bujukan dan tantangan akhirnya dapat menenangkannya. Tak lama kemudian, ia sudah terlihat berlarian, tersenyum riang, memperlihatkan gigi susunya yang telah hilang.

Di ruang yang lain, dokter gigi Kristiana Budi Rahayu, harus menenangkan Jibran, 3 tahun, yang menangis dan meronta di pangkuan ibunya. Sambil menenangkan membujuk, ia berhasil mencuri-curi mengamati apa yang terjadi dengan gigi Jibran.

Ia tidak memberikan tindakan medis apa pun, tetapi dengan melihat abses pada gusi Jibran, ia memberi saran agar ibu Jibran mulai membiasakan anaknya meninggalkan minum susu dengan dot. Dokter juga menyarankan untuk membiasakan gosok gigi. Si ibu yang tidak punya pilihan lain, mengiyakan saran dokter.

Nani adalah pasien tertua di poli gigi. Dalam surat pengantar dari bagian pendaftaran tertulis ia berusia 75 tahun, namun di hadapan drg Leony ia mengaku berumur 85 tahun. Tubuhnya mulai bongkok, namun ia datang sendiri, naik ojek. Keluhannya, satu-satunya gigi depan bagian bawah yang tersisa, mulai goyang. Membuatnya tidak nyaman.

Dokter Leony akhirnya memutuskan mencabut gigi, satu-satunya itu, dan memberikan resep obat penahan rasa sakit. 

Cita-cita ke Depan

Bertambah usia, Klinik Pratama Cipinang Bali pun diperhadapkan pada tantangan lebih berat ke depan. Salah satu di antaranya, seperti disampaikan ketua rukun warga setempat adalah menjadi provider BPJS.  

“Ini memang salah satu hal yang masih harus diperjuangkan (menjadi provider BPJS). Namun, bukan semudah membalik telapak tangan, karena beberapa persyaratan harus disiapkan, yakni menyediakan layanan kebidanan, apotek, dan laboratorium sederhana,” kata dokter Sri, dalam wawancara terdahulu.

Untuk kebidanan dan apotek, menurut dokter Sri, bisa bekerja sama dengan jejaring yang dekat. Laboratorium sederhana bisa dilakukan dengan alat-alat yang ada di klinik. “Jika memungkinkan kami bisa menyediakan vaksin untuk imunisasi dasar. Namun, sementara ini belum bisa kami lakukan karena alat untuk menyimpan vaksin kurang tepat,” katanya. 

Klinik tersebut saat ini digawangi tiga dokter umum, satu dokter gigi, empat perawat, dua apoteker, satu tenaga administrasi apoteker, satu tenaga asisten obat, dan satu tenaga administrasi.

“Pasien gigi masih dibatasi 10 – 11 orang, bergantung pada kasusnya,” kata drg Leony, yang dalam praktik dibantu seorang perawat.

“Untuk kerja sama puskesmas, kami masih bekerja sama dengan PKM Cipinang Muara, PKM kelurahan. Laporan bulanan rutin kami kirim ke PKM Kecamatan Jatinegara dan Sudinkes Jaktim Bidang Yankes,” dokter Sri menjelaskan, tentang klinik yang pendiriannya digagas para aktivis paduan suara yang dikoordinasi alm tua-tua Kastjarjono itu.

Pada tanggal 8 Agustus 1986, seiring berkembangnya perjalanan sejarah GKI Cawang pada waktu itu, dibentuklah pengurus Komisi Pelayanan Kesehatan Masyarakat. Kastjarjono menjabat sebagai Ketua PKM, dan dr Jerry M Lohy menjadi penanggung jawab poliklinik.

Kini, menginjak usia 33 tahun, di tengah-tengah rutinitas dan diperhadapkan pada berbagai tantangan, dokter Sri masih memimpikan Klinik Cipinang Bali berkembang menjadi rumah sakit, dengan tetap melayani pasien-pasien tidak mampu.

“Rumah sakit dengan semua spesialisasi yang ada, bisa membantu terutama warga Cipinang Bali dan sekitarnya, dan tentunya jemaat GKI Cawang yang membutuhkan pelayanan kesehatan,” katanya.

Editor : Sotyati

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home