Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 11:01 WIB | Jumat, 10 Agustus 2018

Peringatan 73 Tahun Bom Atom Nagasaki

Ilustrasi. Nagasaki Peace Park, di Nagasaki, Jepang, tempat berlangsungnya peringatan jatuhnya bom atom oleh Pasukan Sekutu pimpinan Amerika Serikat pada Perang Dunia II. (Foto: Nagasaki)

TOKYO, SATUHARAPAN.COM – Jepang memperingati 73 tahun sejak pasukan Amerika menjatuhkan bom atom kedua sewaktu Perang Dunia II. Upacara peringatan berlangsung di Kota Nagasaki, tempat di mana bom atom dijatuhkan, tiga hari setelah yang pertama meluluhlantakkan Hiroshima.

Untuk pertama kalinya Sekretaris Jenderal PBB turut serta dalam upacara peringatan di Nagasaki.

Mengheningkan cipta berlangsung di Taman Perdamaian Nagasaki pada pukul 11.02 pagi, bertepatan dengan waktu ketika bom dijatuhkan tahun 1945 silam. Lebih dari 70.000 orang tewas pada tahun 1945 dan banyak yang lain meninggal akibat dampak masa panjang bom tersebut. Dalam setahun terakhir ada 3.511 penyintas atau hibakusha yang meninggal dunia, termasuk seorang aktivis yang giat mendorong perlucutan senjata nuklir.

Rata-rata usia hibakusha yang masih hidup sekarang adalah di atas 82 tahun.

Peringatan kali ini dilakukan setelah Pakta Pelarangan Senjata Nuklir disahkan PBB tahun lalu. Akan tetapi negara-negara berkekuatan nuklir seperti AS dan Rusia tidak mendukung pakta tersebut dan tidak menandatanganinya. Jepang yang masuk dalam perlindungan payung nuklir Amerika juga tidak menandatangani perjanjian tersebut. Agar pakta itu bisa berlaku, perlu ada 50 negara yang meratifikasinya, tapi sejauh ini baru ada 14 negara yang melakukannya.

Wali Kota Nagasaki Tomihisa Taue menyerukan negara-negara berkekuatan nuklir dan yang berlindung di bawahnya yang secara spesifik disebutnya, Pemerintah Jepang, untuk mengubah kebijakan keamanannya dengan tidak bergantung pada senjata nuklir.

Ia mendesak agar tidak lagi melakukan kesalahan yang akan menyebabkan semakin banyak korban bom atom.

Taue meminta Pemerintah Jepang sebagai satu-satunya negara yang pernah menderita akibat senjata nuklir di masa perang untuk mendukung pakta pelarangan senjata nuklir. Ia juga meminta pemerintah memenuhi kewajiban moral untuk memimpin dunia menuju denuklirisasi. (nhk.or.jp)

Editor : Sotyati

Back to Home