Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 07:52 WIB | Senin, 28 Januari 2019

Pernah Dengar Altruisme?

Setiap orang perlu menentukan jalan yang ia pilih: dalam cahaya altruisme atau kesuraman egoisme (Martin Luther King, Jr.)
Foto: Istimewa

SATUHARAPAN.COM – Egoisme sering kita dengar. Orang egois tak disukai oleh lingkaran keluarga dan rekannya. Sebab bagi dia, hidup semata-mata untuk mencari kebahagiaan diri sendiri. Biasanya, dia akan merasa terasing karena tak ada yang ingin mendekat padanya. Akhirnya dia hidup dalam kesuraman.

Altruisme merupakan lawan dari egoisme. Kalau egoisme diartikan sebagai hasrat besar untuk memperhatikan dan menyenangkan diri sendiri semata, altruisme adalah keinginan untuk menyenangkan orang lain.

Menolong orang lain, tanpa berharap kembali, adalah altruisme. Bekerja di bidang yang sifatnya melayani ada unsur altruismenya. Bekerja di lembaga nirlaba, tanpa mendapatkan penghasilan, adalah altruisme. Mengadopsi anak jalanan merupakan altruisme. Mendirikan rumah singgah bagi orang jompo juga altruisme. Tindakan tentara yang menolong korban bencana atau korban perang bersifat altruistik.

Sekalipun demikian, sikap altruistik juga bisa mengandung egoisme. Contohnya: dua orang, katakanlah Abi dan Benny, melihat seorang lelaki renta di jalan. Orang tua itu tampak linglung, bingung, dengan cahaya mata yang jelas menunjukkan bahwa dia tak tahu harus berbuat apa, meskipun tak terlihat seperti gelandangan.

Abi—yang berusia lebih muda—berespons dalam hatinya: ”Kasihan sekali orang tua itu. Jangan-jangan ia tak tahu jalan pulang. Kalau tak ada yang menolong bisa jadi ia semakin jauh dari rumah. Mungkin orang di rumahnya pun saat ini sedang mencari dia.”

Benny—yang sudah lebih berumur—berkata dalam hati: ”Kalau tak kutolong orang tua itu, niscaya rasa bersalah akan menggelutiku. Apalagi jika nanti kudengar, ada seorang tua yang mengalami kecelakaan, dan ternyata orang ini. Bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri jika tak kutolong dia.”

Tanggapan Abi dan Benny seolah sama. Namun, sebenarnya berbeda. Keduanya ingin menolong, tetapi motivasinya berbeda. Abi menanggapi dengan tidak memandang kepentingan diri sendiri, hanya rasa iba semata. Hanya memperhatikan kebutuhan orang tua tersebut. Sementara itu,  Benny ingin menolong agar terbebas dari rasa bersalah. Ia tak ingin dirinya sendiri terganggu.

Sahihkah keduanya?

Rasanya keduanya sahih, hanya saja berjarak, bukan berbeda. Tingkat altruisme Abi lebih menonjol, sementara sifat egoismenya tidak tampak sama sekali. Sementara itu, Benny masih menyiratkan lebih banyak sikap egoismenya dalam  altruismenya.

Marcel Proust, seorang penulis Prancis, menyatakan: ”Altruisme, yang bukan egoisme, adalah steril”. Menurut dia, semua altruisme pasti ada unsur egoismenya. Setiap orang yang berbuat baik, apakah itu bagi manusia lain, atau bagi hewan, atau alam, semuanya memiliki unsur egoisme. Hanya kadarnya yang berbeda.

Setiap orang memiliki motivasi ketika berbuat baik. Namun, ada yang tingkat egosimenya rendah, ada pula yang tinggi. Tingkat egoisme yang rendah terlihat ketika orang berbuat baik tanpa memandang risikonya bagi diri sendiri, misalnya para penolong search and rescue, ayah yang mengorbankan hidupnya sendiri demi menyelamatkan anaknya. Tingkat egoisme tinggi terlihat pada mereka yang bekerja di bidang pelayanan demi mendapatkan pengakuan atas kedermawanan, atau demi bisa muncul di media.

Lalu, apakah altruisme yang dibarengi egoisme itu salah?

Mungkin untuk peran tertentu, ada baiknya. Egoisme merupakan motivasi yang baik ketika orang bisa melihat apa yang akan ia dapatkan jika melakukan pekerjaan altruistik. Kadang memang hanya hal sederhana yang dirasakan sebagai balasan. Misalnya: ucapan terima kasih.

Generasi milenial adalah generasi yang berciri ”ingin berdampak”. Mereka ingin dikenal sebagai orang yang bisa melakukan sesuatu bagi orang lain. Mereka akan merasa nyaman ketika menyadari atau membuktikan diri bahwa mereka bisa berbuat sesuatu yang berarti. Bukan semata altruisme yang tercermin di sana, melainkan juga egoisme. 

Nah, sikap altruisme menjadi jalan keluar untuk bekerja sama dengan para milenialis. Ada baiknya dicoba untuk merebut hati mereka: munculkan altruisme yang dibarengi egoisme. Semoga para milenialis semakin tergerak untuk bisa berdampak.

Editor : Yoel M Indrasmoro

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home