Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:21 WIB | Sabtu, 27 April 2019

Persekutuan Sejati

Pemahaman berbeda memang harus dinyatakan, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap membedakan.
Sang Peragu (foto: istimewa)

SATU HARAPAN.COM – ”Kami telah melihat Tuhan.” Itulah pokok berita yang disampaikan para murid kepada Tomas. Dengan mata kepala sendiri, mereka telah bertemu Yesus, Sang Guru, yang telah bangkit dari kematian. Sayangnya, Tomas tak ada bersama mereka.

Meski mereka berupaya meyakinkan, Tomas kukuh pada pendiriannya. Bahkan, dia berkata, ”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20:25).

Mungkin para murid sedih menyaksikan ketidakpercayaan Tomas. Namun, agaknya mereka sadar kalau mereka mengucilkan Tomas—atau menganggapnya sesat—bisa jadi dia malah meninggalkan persekutuan.

Untunglah para murid mampu menerima Tomas apa pun pendapatnya. Untunglah para murid tetap mengasihi Tomas, meski berbeda paham. Pemahaman berbeda memang harus dinyatakan, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap membedakan. Itulah persekutuan sejati.

Suasana macam begitulah yang membuat Tomas tidak lari dari persekutuan. Meski berbeda paham, dia tetap bersama-sama dengan mereka karena merasa diterima. Bisa jadi sang peragu ingin bertemu Yesus. Dia tak mau tertinggal lagi.

Yesus hadir  dalam persekutuan berikutnya dan langsung menyapa Tomas. Sang murid, yang terpana, hanya bisa mengaku, ”Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh. 20:28). Tak berani dia mencucukkan tangannya ke dalam lambung Sang Guru.

Mungkin dia malu. Namun, persekutuan sejati tak pernah mempermalukan orang. Dan yang pasti, Tomas bisa bersaksi sama seperti para murid lainnya, ”Kami telah melihat Tuhan.”

Editor : Yoel M Indrasmoro


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home