Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 19:20 WIB | Sabtu, 11 April 2015

Pertama Kalinya, Kulit Tokek Jadi Kerajinan Mahal

Pertama Kalinya, Kulit Tokek Jadi Kerajinan Mahal
Kerajinan berbahan kulit tokek yang diproduksi oleh Lumica, industri rumahan Yogyakarta, yang dipamerkan dalam Pameran Inacraft 2015, di JCC Senayan Jakarta, Sabtu (11/4). (Foto-foto: Dok satuharapan/Francisca Christy Rosana)
Pertama Kalinya, Kulit Tokek Jadi Kerajinan Mahal
Pedro Adre, pengusaha Lumica asal Yogyakarta.

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Di tangan Pedro Adre, tokek menjadi sesuatu yang bernilai. Ia tidak memanfaatkan tokek sebagai sebagai obat, seperti kebanyakan orang, namun, pengusaha asal Yogyakarta ini, untuk pertama kalinya, memanfaatkan kulit tokek menjadi suatu kerajinan bernilai mahal.

Selama ini kerajinan berbahan kulit binatang memang sudah ramai di pasaran, seperti dari kulit ular, biawak, ataupun kerbau, tetapi pria berparas kulit langsat ini mencoba alternatif lain, yakni kulit tokek.

 “Tokek, biasanya dianggap sebagai hewan yang menjijikkan karena suaranya saja sudah membuat orang takut. Saya juga pernah membaca bahwa daging tokek (bisa) digunakan untuk obat. Nah, kulitnya tidak dipakai, tapi dibuang,” ungkap Adre kepada satuharapan.com saat ditemui dalam Pameran Inacraft 2015 di Jakarta Convention Centre (JCC) Senanyan, Jakarta, Sabtu (11/4).

Berangkat dari situlah, ia melanjutkan, mengapa tidak memanfaatkan hewan yang tak berguna ini menjadi suatu kerajinan yang masih belum ada.

Akan tetapi, kulit tokek yang tipis dan kecil menjadi suatu kendala sekaligus tantangan baginya. “Justru dari keterbatasan itu, saya ingin coba menyamak (kulit tokek agar) lebih kuat dan tahan lama. Saya pikir, kalau bisa, mengapa tidak kita mengembangkan (kerajinan) ini,” katanya.

Sayangnya, kerajinan berbahan kulit tokek masih sangat terbatas. Disamping karena harganya yang masih relatif tinggi, pengerjaannya pun diakui Adre masih susah. Namun, ia bertekad untuk lebih mengembangkan bisnis menjanjikan ini.

Pengelola home industry Lumica ini mengaku telah memproduksi prakarya kulit tokek tersebut sejak tahun lalu, tetapi untuk pertama kalinya ia mempublikasikan hasil karya ini melalui ajang pameran kerajinan terbesar di Indonesia, Inacraft 2015.

Terkait dengan maraknya usaha-usaha perlindungan hewan, Adre mengatakan, tokek masuk dalam kategori hewan yang tidak dilindungi sehingga masih bebas digunakan. Jenis tokek yang dimanfaatkan, ia mengungkapkan, adalah tokek Jawa yang biasa hidup di pohon-pohon, bukan tokek hias yang harganya sangat tinggi.

Editor : Eben Ezer Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home