Loading...
DUNIA
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 08:15 WIB | Senin, 24 November 2014

Pertandingan Bolavoli di Afghanistan Dibom, 45 Terbunuh

Seorang anak Afghanistan dirawat di rumah sakit Paktika setelah serangan bunuh diri di distrik Yahyakhail provinsi Paktika timur Kabul, Minggu (23/11). (Foto: foxnews.com/AP)
KHOST, SATUHARAPAN.COM - Sekitar 50 orang terbunuh dan 60 lainnya luka-luka ketika sebuah ledakan bunuh diri mengoyak kerumunan di satu pertandingan bolavoli di Afghanistan timur, Minggu (23/11), serangan yang paling mematikan di negara itu sejak 2011.

Ledakan itu menghantam turnamen antara tiga tim lokal di Provinsi Paktika, satu wilayah yang mudah memanas yang berbatasan dengan Pakistan, dengan banyak anak-anak di antara orang yang meninggal dan terluka.

Korban jiwa yang tinggi menggarisbawahi tantangan yang dihadapi Ashraf Ghani, Presiden baru Afghanistan, pada saat pasukan NATO pimpinan AS akan menghentikan operasi dan pasukan keamanan nasional mengambil alih tanggung jawab untuk memaksakan stabilitas.

"Saya dan teman-teman saya sedang menonton pertandingan dan kami bersorak setiap kali tim kita mencetak poin," kata Abdulhay, seorang anak 11 tahun yang dirawat karena luka ringan di rumah sakit di Sharana, Ibukota Provinsi Paktika, kepada AFP melalui telepon.

"Lalu saya mendengar ledakan yang melemparkan saya kembali sadar. Saya membuka mata saya di rumah sakit dan tidak tahu apakah teman-teman saya mati atau hidup."

Tidak ada tanggapan langsung dari Taliban, kelompok gerilyawan yang melakukan serangan di seluruh Afghanistan.

"Penyerang bunuh diri berada di sepeda motor, ia meledakkan dirinya di tengah pertandingan voli," kata Attaullah Fazli, wakil gubernur Paktika, kepada AFP.

"Banyak orang termasuk beberapa pejabat provinsi dan kepala polisi berada di sana. Sekitar 50 orang terbunuh, dan 60 luka-luka, banyak di antara mereka cedera serius. "

Ledakan itu, di distrik Yahya Khail, Paktika, meletus sekitar pukul 17.00 waktu setempat ketika ratusan orang berkumpul untuk menonton pertandingan itu, kata Juru Bicara Provinsi, Mukhlis Afghan, kepada AFP.

"Skala serangan dan sesudahnya mengejutkan," katanya. "Kami telah meminta Kabul untuk mengirimkan helikopter untuk mengambil beberapa orang yang terluka kritis guna pengobatan."

Presiden Komite Olimpiade Internasional (International Olympic committee/IOC) juga mengecam serangan bunuh diri tersebut. 

"Ini adalah serangan pengecut dan saya atas nama seluruh Gerakan Olimpiade mengecam tindakan barbar ini yang menargetkan penonton yang tidak bersalah di turnamen olahraga," kata Presiden IOC Thomas Bach dalam sebuah pernyataan.
 
"Ini adalah serangan terhadap olahraga itu sendiri dan nilai-nilai positif yang dapat membantu membangun komunitas yang kuat dan mendorong perdamaian dan rekonsiliasi di seluruh dunia. Kepada keluarga korban kami berduka dan berharap mereka yang terluka cepat sembuh."

Warga Sipil Ditargetkan

Presiden Ashraf Ghani, yang berkuasa pada September 2014, dengan cepat mengecam serangan itu, dan menggambarkannya sebagai "tidak manusiawi dan tidak Islami".

"Ini semacam pembunuhan brutal terhadap warga sipil dan tidak dapat dibenarkan," katanya dalam pernyataan yang menyebutkan korban 45 orang terbunuh.

Salah satu saksi mata, Khushal, 25, mengatakan kepada AFP bahwa ia melihat seorang pria dalam selendang tradisional turun dari sepeda motornya sebelum meledakkan dirinya.

Paktika juga terkena ledakan bunuh diri besar-besaran pada Juli, ketika pembom truk bunuh diri yang mengemas bahan peledak di dalamnya meledak dan menewaskan sedikitnya 41 orang di satu pasar yang sibuk di Kabupaten Urgun.

Sebuah bom bunuh diri di satu masjid di Provinsi Faryab utara pada Oktober 2012 menewaskan 42 orang, sementara ledakan bunuh diri lain di kuil di Kabul pada Hari suci Syiah Ashura pada Desember 2011 membunuh 80 orang.

Serangan Minggu terjadi pada hari yang sama bahwa Majelis Rendah Parlemen menyetujui perjanjian-perjanjian untuk memungkinkan sekitar 12.500 tentara pimpinan NATO untuk tetap berada di negara itu tahun depan.

Operasi-operasi tempur NATO yang dipimpin AS akan selesai pada akhir tahun ini, tetapi Taliban telah meluncurkan serangkaian serangan yang sangat menguji tentara dan polisi Afghanistan.

Misi baru NATO baru - bernama `Dukungan Tegas` - akan fokus pada mendukung pasukan Afghanistan, secara paralel dengan operasi kontra-terorisme AS.

Tetapi ketakutan-ketakutan berkembang bahwa Afghanistan bisa berujung ke dalam siklus kekerasan ketika kehadiran militer AS menurun, sementara pasukan keamanan sudah menderita korban besar di medan perang.

Tentara dan polisi menderita 4.634 kematian dalam pertempuran sejak awal November tahun ini, tercatat 4.350 terbunuh selama 2013, menurut pihak militer AS. (AFP)


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home