Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 09:02 WIB | Senin, 06 Mei 2019

Pertanyaan yang Disukai: Mengapa?

Jika tidak tahu kemana tujuanmu, maka semua jalan akan membawamu ke sana (Alice in Wonderland)
Alice in Wonderland (foto: Pan Macmillan)

SATUHARAPAN.COM – Jawaban atas pertanyaan ”mengapa” lebih disukai daripada jawaban untuk pertanyaan ”apa”. ”Mengapa saya lebih baik  memilih bekerja di perusahaan ALA  dan bukan AMA?”.  ”Mengapa  saya perlu menjaga pemenuhan janji saya?”  ”Mengapa tinggal di desa bisa lebih menyenangkan daripada tinggal di kota?”. ”Mengapa lebih baik  saya makan banyak sayur daripada daging merah?” Jawaban atas pertanyaan ”mengapa” adalah sebuah alasan. Dan alasan adalah makna. Alasan membawa kepada tujuan.

”Saya lebih baik memilih bekerja di perusahaan ALA dan bukan AMA karena reputasi perusahaan ALA lebih baik daripada reputasi perusahaan AMA. Artinya, saya akan bisa belajar lebih banyak hal baik di perusahaan ALA daripada AMA. Karena tujuan saya bekerja adalah untuk menambah keterampilan, pengetahuan, serta etos kerja yang baik.

Mengapa perlu memenuhi janji? Karena pemenuhan janji membawa pada kepercayaan, dan orang yang bisa dipercaya adalah orang yang bisa diandalkan. Saya tidak ingin menjadi orang yang tidak bisa diandalkan. Saya ingin menjadi orang yang dipercaya untuk tugas yang diberikan kepada saya. Saya ingin menjadi orang yang accountable.

Mengapa tinggal di desa bisa lebih menyenangkan daripada di kota? Karena udara yang sehat, lingkungan yang sehat, bisa didapati di desa, bukan di kota. Dan saya ingin hidup sehat, bebas dari polusi udara.

Mengapa makan banyak sayur lebih baik daripada makan daging merah? Karena berbagai alasan, namun salah satunya adalah bahwa daging merah berkontribusi pada tingginya tingkat penyakit jantung. Padahal saya ingin hidup sehat, bebas dari risiko penyakit jantung.

Jika pertanyaan ”mengapa” tidak menjadi pertanyaan pertama saat memulai suatu hal penting, maka dapat dipastikan jalan yang dipilih adalah jalan yang tanpa tujuan. Sama seperti dalam cerita Disneyland lawas Alice in Wonderland: if you don’t know where you’re going, every road will take you there.”

Tidak memiliki tujuan sama saja dengan memilih tersasar. Jika tidak tahu tujuan mau ke mana, maka jalan mana pun yang kita pilih, sama-sama akan membawa kita ke tujuan yang tidak jelas.

Saya teringat cerita mbak Okky Asokawati, peragawati kondang Indonesia, di sebuah seminar motivasi. Sejak masih gadis remaja belia, ia sudah bercita-cita ingin menjadi peragawati. Mengapa? Karena ketika kecil ia sering dijuluki ”kerempeng” dan ia ingin membuktikan bahwa kerempeng itu tidak jelek. Tujuan masa depannya sudah ia tetapkan.

Dan karena itu, jalan yang ia pilih juga jelas. Salah satunya, ia memilih untuk selalu menggunakan sepatu bertumit, karena pembentukan gaya berjalan yang memenuhi syarat peragawati tak akan dicapai jika menggunakan sepatu datar. Karena ia sudah tahu akan ke mana, maka ia tidak tersasar.

Hidup penuh dengan persimpangan jalan. Senantiasa akan ditemui pilihan. Dan hampir selalu jawaban untuk pilihan itu terpulang kepada kita seorang. Dalam menentukan pilihan, pertanyaan ”mengapa” sangat layak untuk diajukan kepada diri sendiri, agar tahu akan ke mana.

Kesasar bukan pilihan, ketika pertanyaan mengapa bisa dijawab.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home