Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Reporter Satuharapan 10:47 WIB | Kamis, 13 September 2018

Pertumbuhan Kubah Lava Merapi Rendah, Warga Tetap Harus Waspada

Ilustrasi. Puncak Gunung Merapi terlihat dari Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (22/5/2018). (Foto:Antaranews.com/Aloysius Jarot Nugroho)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta terus melakukan pengamatan pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi. Saat ini, seperti diberitakan rri.co.id, volume kubah lava mencapai 93.000 meter kubik dengan rata-rata pertumbuhan per hari mencapai 2.500 meter kubik.

Staf Ahli Geologi Gunung Api BPPTKG, Dewi Sri, di sela-sela kegiatan Pelatihan Relawan Penanggulangan Bencana di PTP X, Jalan Pemuda Klaten, mengatakan arah luncuran guguran lava pijar memang berpotensi ke arah selatan dan tenggara, yakni di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten.

“Berdasarkan arah bukaan kubah lava saat ini, pascaerupsi 2006 dan 2010 memang sudah mengarah ke selatan-tenggara, yakni Sleman dan Klaten, melalui lembah sungai seperti Kali Woro, Kali Gendol, dan Kali Opak,” ia menjelaskan kepada wartawan, Rabu (12/9/2018).

Menurut Dewi Sri, fase pertumbuhan kubah lava sudah mulai terlihat dari sisi selatan. Berdasarkan perhitungan dari dasar kubah 2010 saat ini telah memiliki ketinggian 33 meter.

Ia meminta Pemkab Klaten untuk memprioritaskan sosialisasi mengenai kondisi Merapi terkini ke Desa Balerante, Kecamatan Kemalang.

Pertumbuhan kubah lava saat ini masih dalam kategori rendah karena di bawah 20.000 meter kubik. Namun, ia mengimbau kepada warga Balerante untuk tetap waspada dengan meningkatkan kesiapsiagaan.

Sementara itu Kepala Urusan Perencanaan Desa Balerante, Jainu, seperti diberitakan rri.co.id, menyatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada warga terkait peningkatan kubah lava Merapi.

Ia meminta warga untuk tetap patuh kepada pemerintah jika diminta untuk evakuasi, tetapi  tidak panik, dan tetap mempercayakan sumber informasi dari pemerintah. 

Editor : Sotyati

Back to Home