Google+
Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:29 WIB | Selasa, 12 Maret 2019

Perubahan Iklim Ancam Habitat Beruang Kutub

Seekor beruang kutub dan dua anaknya di pantai Laut Beaufort di Area 1002 Suaka Margasatwa Nasional Arktik, 21 Desember 2005. (Foto: Voaindonesia.com/ Dinas Perikanan dan Perlindungan Satwa Liar Alaska.)

AMERIKA SERIKAT, SATUHARAPAN.COM – Hari Rabu 27 Febuari lalu merupakan Hari Beruang Kutub Dunia, suatu kesempatan tahunan bagi para pelestari lingkungan hidup untuk menjelaskan status satwa paling buas dan terbesar dari keluarga beruang itu. Sebagaimana dilaporkan oleh Kevin Enoch, perubahan iklim mengancam habitat beruang kutub dan kelestarian spesies itu di alam bebas.

Ada sekitar 30 beruang kutub di sejumlah kebun binatang Jerman, dan kurang dari 100 ekor berada di beberapa kebun binatang Amerika Serikat.

Tetapi sebagian besar beruang kutub berada di hutan belantara. Seorang kurator beruang kutub, Florian Sicks mengatakan, “Diperkirakan sekitar 25.000 beruang kutub masih berada di lingkungan habitatnya dan jumlah itu tidak banyak. Sekarang ini, beruang kutub kian terancam punah. Ancaman itu bukan hanya perubahan iklim yang terjadi di mana-mana, yang tentu saja bisa menjurus pada melenyapnya sumber dasar kehidupan beruang kutub, yaitu es itu sendiri.”

Es di Lautan Arktik (Kutub Utara) berkurang dan mencair – menurut beberapa laporan berkisar10 persen per dekade. Tanpa es, beruang tidak dapat berburu anjing laut yang menjadi makanan utamanya.

"Beruang kutub datang ke Novaya Zemlya karena di tempat itu banyak sampah karena orang membuang sampah yang bisa dimakan di sana. Kata orang banyak sisa-sisa ikan yang dibuang, dan itu menarik beruang kutub,” kata Perwakilan WWF Rusia, Mikhail Stishov.

Sementara jumlah beruang kutub meningkat di beberapa tempat, di tempat-tempat lainnya berkurang sekitar 40 persen.

"Beruang kutub harus menangkap setidaknya seekor anjing laut tiap lima hingga 10 hari. Itu hanya untuk mencapai kebutuhan makan yang pas-pasan. Dan kalau tidak bisa berburu, beruang kutub akan menjadi kurus dan jika kehilangan berat badan maka hal-hal lain akan muncul dan berdampak pada kesehatan beruang kutub, termasuk pada kemampuan bereproduksi dan lain sebagainya,” kata George Durner dari Badan Survey Geologi AS.

Keadaan demikian membuat sebagian beruang kutub lebih berupaya untuk mencari makan ke tempat-tempat di mana manusia tinggal. Kejadian seperti itu menjadi begitu buruk di wilayah Novaya Zemlya, Rusia, pada Februari lalu sehingga pihak berwenang menyatakan keadaan darurat dalam penanganan beruang kutub.

Sejumlah pakar iklim, memperkirakan Kutub Utara akan mengalami musim panas tanpa es mulai tahun 2050. Jika hal itu terjadi, para pemerhati lingkungan yakin beruang kutub tidak akan bertahan hidup di alam bebas.

"Itu wajar karena di beberapa daerah tidak ada es selama beberapa minggu, atau mungkin sebulan, tapi kali ini keadaan itu sudah berlangsung beberapa bulan,” kata Mikail.

Yang mengkhawatirkan adalah satu-satunya cara untuk dapat melihat beruang kutub pada akhir abad ini nantinya hanya di kebun binatang. (Voaindonesia.com)

 

Back to Home