Google+
Loading...
HAM
Penulis: Wim Goissler 08:45 WIB | Jumat, 04 Agustus 2017

Pesan Pastoral Gereja KINGMI Papua tentang Penembakan Deiyai

Pdt Benny Giay (Foto: bbc.com)

JAYAPURA, SATUHARAPAN.COM- Ketua Sinode Gereja KINGMI di Tanah Papua Papua, Pdt Benny Giay, mengeluarkan kecaman keras lewat pesan pastoral berupa Surat Gembala, kepada gereja maupun elit masyarakat Papua atas terjadinya penembakan oleh aparat keamanan di Deiyai yang menyebabkan seorang warga sipil meninggal dan beberapa orang lainnya luka-luka.

Gereja KINGMI menilai hal ini terjadi merupakan kombinasi dan akumulasi dari banyak faktor. Sebagian dikarenakan kegagalan pembinaan gereja yang terlalu sibuk mengurusi ajaran murni, kader gereja yang etika sosialnya rendah, bupati dan para pejabat yang tidak bertanggung jawab, elit masyarakat yang menutup mata terhadap dosa para pejabat itu serta aparat yang 'menyembah' kekuatan modal.
 
Akibatnya, menurut Pdt Benny Giay, tidak ada yang perduli terhadap nasib umat dan ia menyerukan agar justru umat sendiri yang bergerak, membangkitkan sesamanya, "Cobalah untuk berhubungan langsung, dan sebagai manusia jamahlah manusia."

Berikut ini pesan pastoral itu secara utuh.

SURAT GEMBALA 3 AGUSTUS 2017

"Janganlah kamu ragu-ragu! Kamu, yang telah masuk ke dalam benteng yang dibangun bagimu oleh masyarakat,  negara, Gereja, sekolah, dunia usaha, pendapat umum dan keangkuhanmu sendiri sehingga tidak dapat berhubungan langsung dengan siapa pun atau di luarnya, runtuhkan itu, cobalah untuk berhubungan langsung, dan sebagai manusia jamahlah manusia".
  
1. Hari ini Rabu, 3 Agustus 2017, warga Deiyai/Meuwo berduka,  mengulangi pengalaman duka sebelumnya….

Februari 1998
Ratusan warga mengalami penyiksaan dan penganiyaan berat  dan berakhir dengan penahanan terhadap puluhan warga di Waghete. Setelah 3 bulan penahanan 4 orang warga mengalami gangguan mental dan seorang ditemukan tewas di hutan Kobouyedimi (Gunung perbatasan Tigi (Deiyai) dan Tage (Kab Paniai).

20 Januari 2006
Seorang warga tewas ditembak Aparat di Waghete, sementara 3 orang lainnya luka tembak. Ketiga korban tersebut: Moses Douw (14 tahun pelajar SMP),  Yonike Kotouki (pelajar SMP), dan Petrus Pekey (43) seorang warga sipil.  Pelaku Letda Inf  Situmeang, Danton Timsus Yonif 753 Arga Vira Tama. Pelaku lainnya: Bripda Ronald Isac Tumena anggota POlsek Waghete.

4 Oktober 2011
Dominikus Tekege ditembak di Tigi (Deiyai) oleh 2 orang anggota Brimob penjaga Keamanan PT Modern. Korban pergi memprotes PT Modern yang sudah mulai mengambil batu dan pasir melewati batas lokasi yang telah disepakati. 

12 Juli 2012
8 orang warga tewas setelah minum soda  (yang sudah kadaluarsa) di Waghete, Deiyai. Saat  keluarga korban memprotes pemilik kios orang pendatang itu, mereka ditembaki aparat. 

23 September 2013
Alpius Mote pelajar SMA  di Waghete tewas ditembak  Brimob. Mereka juga menembak Frans Dogopia (anggota Satpol yang sedang menenangkan warga)  dan menganiaya Yance Pekey seorang guru di SMA tersebut. 

8 Desember 2014
Aparat menembak mati beberapa pelajar di Enarotali.

25 Juni 2015
Aparat menembak mati Yoteni Agapa di Ugapuga. 

Juni – Juli 2017
100 lebih balita meninggal dunia di Distrik Tigi Barat. Pelayanan kesehatan masyarakat tidak jalan. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Prov Papua, semua kebijakan tidak jalan, walaupun sudah ada juklak dan juknis. Puskesmas tidak berjalan. Kepala Dinas Kesehatan juga tidak laksanakan tugas. Menurut warga, ini protes ke Dance Takimai, Bupati Deiyai juga tidak pernah masuk kantor sejak dilantik di Jayapura beberapa tahun lalu. Dia habiskan hari-harinya di tempat lain. Sekarang sibuk untuk maju lagi. 

1 Agustus 2017
Brimob menembak mati seorang warga dan 6 warga lainnya yang luka tembak aparat sedang dirawat.

2. DI MANA PARA ELITNYA?

2.1.Melihat kekerasan yang terus terjadi di Daerah kami sebagai Gereja (telah berkarya di sini) mengakui kegagalan kami: (a) karena pembinaan pastoral (Gembala) telah lama dibentuk atau digiring untuk sibuk mengurus ajaran Gereja murni, yang normatif, kaku dan berorientasi ke akhir jaman; yang menghadirkan (b) kader Gereja yang etika sosialnya amat rendah; tidak punya/peka  dalam mempertanggung-jawabkan imannya dalam situasi konkrit. Etika sosial sangat rendah atau nol.
 
2.2.Dari sisi pemerintahan, Bupati Deiyai, sejak dilantik tidak pernah di tempat. Ada pejabat yang memperkirakan Bupati Deiyai hanya masuk kantor 30  hari sejak dilantik sebagai Bupati Deiyai. Sekarang ada sibuk mau maju lagi sebagai Bupati Deiyai lagi. 

Dari sisi performa Bupati Deiyai ini, yang tidak pernah masuk kantor ini memang bukan baru. Bupati Paniai sebelum Henky Kayame yang memang warga Gereja KINGMI juga lakukan lakukan hal yang sama. Dia menurut Kapolres Paniai pada waktu itu, hanya masuk kantor di Enarotali hanya 40 hari. Kapolres pada waktu itu mengaku: sayalah Bupati Paniai. Kalau begitu, siapa yang Bupati” di Deiyai, selama 5 tahun terakhir ini? Menurut jemaat, “Aparat Keamanan yang dibayar oleh PT tertentu”.  

2.3.Elit orang Mee dari Meeuwo dari luar hebatnya hanya sibuk mengeritik Gubernur Enembe, tetapi menutup mata terhadap dosa para pejabat orang Mee di kampong halamannya. 

2.4.Di mana TNI POLRI? Bupati-bupati di Meuwo dengan semua SKPDnya? Kalau Gereja kami menyembah ajaran Gereja yang mati, kaku berorientasi ke dunia batin, maka para pejabat elit dan TNI POLRI sedang menyembah “PT Dewa Moderen” di Meuwo. Perhatikan dalam sejumlah insiden  yang disebutkan di atas. Para Bupati, SKPD, Calon Bupati, dll, aparat Keamanan hari ini tiarap, sembah sujud “pak Dewa”. Siap amankan kepentingannya; melayani nafsu sang “putra dewa” di Meuwo. 

3. LALU BAGAIMANA JEMAATNYA? 
Kami meminta maaf. Tidak ada yang urus kami. No body cares. Karena itu Simaklah  himbauan pak Martin Buber, Teolog Yahudi yang sudah dikutip pada “awal surat gembala” ini. Timbangkan dan renungkan bahasa  pemikir Eksistensialis Yahudi berkewarganegaraan Jerman itu. apa arti pesan itu bagi kita yang sudah dan sedang  jalani pengalaman-pengalaman di atas? Bagaimana kita bisa siasati seruan itu dalam suasana, kita bangsa Papua: 
(3.1.) yang terus terlibat perang suku di antara kita sendiri; 
(3.2) terus memandang biasa KDRT sebagai hal yang biasa-biasa, 
(3.3) atau terus bermasa bodoh terhadap pendidikan dan masa depan anak-anak kita. dll 
(3.4) memandang biasa Pejabat Daerah yang sudah tidak masuk kantor bertahun-tahun tanpa rasa takut kepada Tuhan dan masyarakat. 
Apa arti seruan teolog itu bagi kita bangsa Papua yang sedang tenggelam tetapi masih bikin diri inti”.

Kalau ada yang mengerti dan “membaca tanda-tanda jaman ini” (Matius 16:2-3), kami ucapkan   “Selamat berjuang”, Tuhan sang Gembala menyertai.

Jayapura, 3 Agustus 2017
Ketua Sinode KINGMI di Tanah Papua,
Pdt Benny Giay                                                                

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home